Bab 36
"Lho, daddy!"
Salwa membuka pintu mobil di bagian belakang, bermaksud menaruh kopernya. Dia terkejut melihat sebuah koper berukuran besar lebih dulu teronggok di sana.
"Daddy akan menemani kamu di apartemen, Sayang. Jangan khawatir. Daddy tidak akan membiarkan kamu sendirian," ucap Regan seolah bisa membaca isi pikiran Salwa.
"Tapi ..." Ucapan Salwa menggantung.
"Nggak perlu takut. Oma Jihan tidak akan berani macam-macam sama kamu. Daddy sudah menyuruh orang-orang Daddy untuk mengawasi oma Jihan. Situasi aman terkendali."
"Ya, Daddy. Aku cuman khawatir saja."
Regan malah tertawa kecil sembari membuka pintu mobil. "Silakan masuk, Tuan Putri."
"Baiklah, Gusti Prabu.
Bab 37 Regan terkesiap. Matanya menatap putri angkatnya itu dalam-dalam, membuat jantung Salwa berdetak lebih cepat. Mereka masih di dalam lift dengan tubuh berdempetan. "Apa maksudmu, Little Girl?" Regan menaikturunkan alis, tak habis pikir dengan pertanyaan little girl-nya. Dia sangat mencintai Airin dan tak ada pikiran apapun tentang wanita lain, apalagi terhadap Shafira, sekretarisnya. "Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya ingin menanyakan, apa hubungan Daddy dengan tante Shafira?" Sejak tadi siang gadis itu memendam rasa penasaran dengan kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Shafira yang menurutnya terasa ambigu. Inilah kesempatan yang terbaik untuk mengetahui rahasia daddynya dengan Shafira. "Shafira itu sekretaris Daddy. Sekretaris paling profesional yang pernah Daddy
Bab 38Regan terjaga saat indera penciumannya mengendus bau harum masakan. Refleks tangannya meraba-raba, mencari sosok itu. Akan tetapi, dia tak menemukan siapapun. Dia membuka matanya lebar-lebar.Sementara itu, bau harum masakan membuatnya meneguk air liur. Sepertinya little girl-nya sedang memasak. Regan merasa surprise. Di rumah yang lama, boro-boro memasak, yang ada mereka lebih sering memesan makanan jadi, jika bi Lastri dan pembantu lainnya pulang kampung atau sedang cuti lebaran.Regan bangkit dari tempat tidur. Otaknya yang masih belum bisa mencerna seutuhnya keadaan, membuatnya tak sadar kalau ia masuk ke kamar mandi milik putrinya. Regan melepas seluruh pakaiannya, kemudian memposisikan tubuhnya di bawah shower air yang mengalir. Terasa menyegarkan, meskipun dingin cuaca di pagi hari.Regan mengambil handuk yang tersangkut di gantungan di dinding kamar mandi, kemudian melilit
Bab 39 "Dewi!" teriak Salwa. Gadis itu bermaksud kembali mencubit lengan sahabatnya. Namun Dewi lebih gesit. Dia menghindar dengan berlari meninggalkan gadis itu. Salwa yang gemas mengejar sahabatnya. Mereka berkejaran di halaman kampus seperti anak TK, membuat para mahasiswa lain yang melihatnya menggelengkan kepala. "Kena kau!" teriak Salwa saat berhasil menangkap tangan sahabatnya itu. Dia mencubit lengan Dewi berkali-kali. Pipinya sudah bersemu merah sejak tadi. "Tega bener kamu menyebut daddy punya aura penakluk wanita," keluhnya. Dia pura-pura merajuk. "Emang bener kok, cuma untungnya daddymu itu laki-laki setia, jadi dia cuma mencintai mommy kamu dan tak pernah menduakannya dengan wanita lain, sejauh pengamatan aku sih." Derai tawa Dewi kian menjadi-jadi.
Bab 40 Lelaki itu membawa mobilnya dengan terburu-buru. Berkali-kali ia melirik arlojinya. Sebentar lagi meeting dengan dewan komisaris akan segera dimulai, bahkan saat ini Armand dan Shafira sudah stay di ruang meeting. "Kalau memang Daddy lagi sibuk, nggak usah jemput aku. Aku bisa kok numpang dengan Dewi, minta diantar pulang ke apartemen!" omel Salwa. Dia benar-benar sebal dengan daddynya yang terlihat memaksakan diri menjemputnya di kampus. Mereka pun belum sempat makan siang. Gadis itu meremas tangannya. Seperti itulah yang ia lakukan saat berada dalam kecemasan. Regan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, padahal lalu lintas sedang ramai-ramainya. Salwa berusaha menyabarkan diri. Berselang sepuluh menit, akhirnya mereka tiba di basement gedung RVM group. Regan menggandeng Salwa memasuki lift, lan
Bab 41 "Dasar wanita keras kepala! Berapa sih penghasilan seorang model?! Apa dia lupa, bahwa dia adalah salah satu pewaris Agung Jaya Land, sebuah perusahaan properti terkenal di Indonesia?" Perempuan tua itu mengepalkan tangan keriputnya, kemudian bangkit dari tempat duduk. Seorang laki-laki setengah tua masuk ke dalam ruangan. Jihan melambaikan tangan dan lelaki itu setengah tua itu pun mendekat. "Kita pulang sekarang, Nyonya?" tanyanya "Iya, kita pulang. Tak ada lagi yang mesti di tunggu," ujarnya sembari terus melangkah. Jihan menyeret sepasang kakinya menyusuri lorong, masuk ke dalam lift VIP setelah menempelkan kartunya, turun ke lantai dasar yang tersambung ke basement tempat parkir semua mobil para petinggi di perusahaan ini.
Bab 42 Sepasang mata itu terus berkeliling, mengitari setiap sudut taman. Taman ini tidak terlalu luas. Namun cukup sebagai oase di tengah kota, penyejuk pandangan akibat menjamurnya bangunan gedung-gedung pencakar langit. Salwa mendapati seorang anak perempuan kecil tengah bermain ayunan dengan seorang wanita dewasa di dekatnya. Gadis itu merasa di bawa ke masa lalu. Dia melihat seolah anak kecil itu adalah dirinya dan wanita dewasa itu adalah mom Airin-nya. Tanpa sadar ia mendekati kedua orang yang ia perkirakan sebagai ibu dan anak itu. "Hai ...!" Salwa melambaikan tangan. Sepasang mata bulat dan bening menatap Salwa, lantas menoleh kepada wanita dewasa disampingnya. "Nama kakak, Salwa. Siapa nama kamu?" Gadis itu merendahkan tubuhnya, menatap lembut gadis kecil di hadapannya. "A
Bab 43 "Setelah ini mau kemana lagi, Sayang?" tawar Regan. Dia masih sebal saat little girl-nya ini terang-terangan menyebut ruang kerjanya sebagai kurungan. "Aku tidak tahu. Aku ikut Daddy saja." "Mau nggak jalan-jalan sama Daddy?" tawarnya lagi. Salwa mengacungkan jempol. "Boleh." Keduanya menautkan jari kelingking. Setelah itu, Regan fokus dengan kemudinya. Mobil meluncur dengan tenang. Lelaki itu sudah tak sabar ingin mengajak Salwa ke suatu tempat. Akhirnya mobil pun berhenti di pinggir jalan. "Daddy, kok kita ke sini?" protes Salwa. Dari balik kaca mobil dia melihat kerimbunan pohon mengelilingi hamparan tanah lapang. Regan keluar dari mobil dan membukakan pintu untu
Bab 44"Hai, Bro!"Suara bariton tiba-tiba saja mengagetkan Regan, memaksa lelaki itu menoleh ke samping kanan."Adrian!" serunya. Reflek ia berdiri, maju dua langkah dan merangkul sahabatnya.Adrian Lee. Lelaki itu juga sangat gagah dengan tinggi dan berat badan proporsional, tak kalah tampan dari Regan. Mereka berdua adalah lelaki dengan sejuta pesona."Bagaimana kabarmu, Bro? Kelihatannya semakin sukses aja. Sekarang RVM group punya lima stasiun televisi swasta ya? Hebat sekali pencapaian yang kamu buat, Sobat!" Adrian mengacungkan jempol.Regan membalas dengan meninju pelan sahabatnya. "Adrian, kamu juga hebat, punya kantor sendiri dan restoran ini. Ini restoran mewah lo, pasti investasinya nggak main-main!""Ini, kan hasil kreativitas Merry. Aku cuma bantu modal aja. Kebetulan dia emang pintar masak
Bab 123Sebidang lahan kosong yang sedianya akan digunakan untuk pembangunan gedung RVM group yang baru telah disulap menjadi sebuah tempat pesta yang megah. Tenda-tenda yang besar dipasang untuk menampung semua tamu yang datang. Tempat ini digunakan untuk tempat jamuan para tamu undangan, mengingat seluruh karyawan RVM group diundang tidak terkecuali, mulai dari jajaran direksi sampai OB dan petugas cleaning service.Sementara itu, di sebuah aula dalam gedung RVM group juga dihias dengan indah. Di salah satu bidang dinding terdapat kursi pelaminan yang juga sangat megah. Namun, orang-orang yang bisa masuk ke dalam aula ini hanya kalangan terbatas. Ini atas permintaan Regan sendiri yang tidak mau istrinya kelelahan, lantaran terlalu banyak menerima ucapan selamat dari para tamu.Hal yang paling membahagiakan bagi Salwa adalah kehadiran Bunda Khadijah, ustadzah Aisyah dan ustadz Rasyid. Pada acara siang ini, Salwa mengenakan gaun pengantin muslimah bernuansa biru muda. Perempuan muda i
Bab 122Sejak pintu pesawat terbuka dan ia mengiringi langkah sang suami menuruni tangga pesawat, dada Salwa serasa diketok-ketok. Dia terus memegangi lengan sang suami yang kondisinya justru berbanding terbalik dengannya.Lelaki yang kini berumur 38 tahun itu nampak seperti pahlawan yang baru saja memenangkan peperangan. Tubuhnya yang tegap begitu bangga menggendong putri mungilnya. Wajahnya tak henti menebarkan senyum kepada orang-orang yang menyambut kedatangannya malam ini."Selamat datang kembali di Indonesia, putriku!" Axel berlari kecil, tak sabar menghampiri putrinya. Lelaki itu memeluk putrinya sekilas kemudian mengambil alih baby Airin yang masih berada dalam gendongan Regan.Kedua lelaki itu saling menggenggam dan tersenyum, seolah tak memperdulikan apa yang tengah Salwa rasakan saat ini. "Para lelaki memang tidak peka," keluhnya pada diri sendiri. Namun ia tetap tersenyum dan larut dengan kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya.Meskipun Salwa ingin menolak, tetapi ia t
Bab 121"Hmmm... Menurutmu?" sahut Jihan tenang. Dia tahu persis putranya sangat cerdas dalam membaca situasi."Selalu ada timbal balik di setiap apa yang kita lakukan," jawab Jihan diplomatis."Tuh, akhirnya Mommy sudah mengakui, kan?" Lelaki itu tersenyum kecut. "Apa yang Mommy inginkan dari kami?""Pulanglah ke Indonesia, bawa Istri dan anakmu dan tinggallah bersama Mommy. Itu yang Mommy inginkan. Sangat sederhana, kan?" pinta Jihan tenang."Apa yang sedang Mommy rencanakan?" Regan berusaha mengikis jarak diantara mereka dengan menatap lekat wajah tua itu."Tidak ada. Aku hanya ingin menimbang cucuku. Kamu tahu, kan? Itu impian terbesar Mommy sejak dulu.""Aku tahu, tapi Salwa bukanlah istri yang Mommy inginkan." Regan menghela nafas."Kamu mencurigai Mommy?" Spontan Jihan membentak."Regan, dengarlah. Mommy tidak pernah mempersoalkan dari rahim siapa anakmu lahir. Bahkan bukankah Mommy dulu pernah mengusulkan agar kamu menitipkan benihmu di rahim ibu pengganti?" Perempuan tua itu
Bab 120Sebuah tepukan akhirnya yang menyadarkan Axel dari keseriusannya berbicara dengan sang menantu."Daddy? Kok Daddy ada disini?" Lelaki itu seketika berdiri melihat sosok tubuh tua yang menatapnya penuh kehangatan. Axel memeluk tubuh itu dan tuan Gunadi pun menggenggam erat tangannya.Regan pun tak kalah terkejut saat mendapati sesosok perempuan tua yang berdiri di samping tuan Gunadi."Mana cucu Mommy? Pasti cantik, kan?" Perempuan tua itu tersenyum hangat, senyum yang tak pernah Jihan perlihatkan kepada Regan selama belasan tahun."Cucu Mommy perempuan dan sangat cantik. Dia sangat mirip denganku," ucap Regan terbata-bata. Dadanya seketika berdesir."Benarkah? Bolehkah Mommy melihatnya?" tanya Jihan.Meskipun di benak keduanya masih penuh dengan berbagai pertanyaan, akhirnya Regan mengizinkan tuan Gunadi dan mommy Jihan masuk ke dalam ruangan tempat Salwa dan bayinya dirawat.Salwa sangat terkejut. Dia tak menyangka kedua orang itu akan sampai ke sini. Dia hanya bisa diam dan
Bab 119Ini adalah kali pertama Regan menghadapi persalinan seorang wanita. Tak terbayangkan, betapa risaunya ia melihat Salwa yang merintih kesakitan. Sembari tetap menggenggam tangan perempuan itu demi untuk menenangkannya, Regan terus berdoa dalam hati.Beberapa orang berpakaian putih di sekelilingnya mulai melakukan tugasnya masing-masing. Dokter Emily yang spesialis kandungan mulai mengecek kondisi Salwa."Nyonya Salwa sudah pembukaan empat, Tuan. Kami akan segera memberikan suntik epidural untuk menawar rasa sakitnya," ujar seorang dokter perempuan yang bertugas melakukan anestesi.Regan mengangguk. Dia membantu istrinya untuk duduk. Lagi-lagi Salwa meringis.Sembari dokter perempuan itu melaksanakan tugasnya, Regan menatap istri kecilnya prihatin. Sebenarnya dia tidak rela Salwa harus melahirkan semuda ini, di saat perempuan itu belum siap menerima rasa sakit di dalam proses persalinan. Secanggih apapun metodenya, tetap saja yang namanya melahirkan itu rasanya sakit.Setelah me
Bab 118Salwa bermaksud membantah, tapi jemari lelaki itu begitu ketat menempel di bibirnya. "Jangan memikirkan apapun. Semua perubahan yang terjadi pada keluarga kita, nyatanya tak akan bisa merubah apapun. Kita akan tetap bersama seperti ini." Lelaki itu melepaskan tangannya lalu mengecup bibir ranum itu berkali-kali. "Daddy sengaja membawa kamu ke Amerika, bukan karena takut dengan gangguan mereka, tetapi agar kamu merasa lebih rileks dan merasakan suasana baru. Lagi pula sudah lama sekali Daddy tidak mengunjungi keluarga di sana dan juga makam daddy Richard. Nanti kita ziarah ya. Daddy ingin mengenalkan istri dan calon anak daddy, meskipun yang kita datangi hanya sekedar makamnya saja." Salwa melihat lelaki di sampingnya seperti menahan sebuah kesedihan. Seperti ada luka lama yang disembunyikan oleh suaminya. Salwa tak tahu seperti apa luka itu. Salwa merasa ada rahasia yang ia sendiri tidak tahu meskipun belasan tahun mereka bersama. "Aku akan senang sekali bisa berkenalan den
Bab 117"Aku pasti akan selalu merindukanmu, Pa," sahut Salwa sendu. Baru saja ia merasa mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kini tiba-tiba dia harus terpisah lagi. Namun Salwa percaya semua ini demi kebaikannya. Salwa percaya penuh kepada suami dewasanya itu.Axel kian erat memeluk tubuh Salwa. Rasanya dia tak ingin terpisah dari putri kesayangannya. Namun dia sudah menitipkan Salwa kepada Regan dan ia percaya lelaki itu pasti mampu membimbing putrinya untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi.Salwa menyusut air matanya dengan ujung jilbab. Sementara Axel beralih memeluk Regan, menepuk bahu lelaki itu. Keduanya berpegangan tangan erat, seolah saling menguatkan satu sama lain."Sebelum kalian meninggalkan negara ini, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian." Axel memutar tubuhnya, lantas melambaikan tangan kepada seorang lelaki tua yang sejak tadi berdiri agak jauh dari tempat itu. Namun mata elangnya tak lepas mengamati semua keharuan yang terjadi."Tuan Gunadi?" Salwa
Bab 116"Lihatlah, ini akibat dari kecerobohanmu!" Tuan Gunadi melemparkan sebuah map berwarna coklat tua kepada istrinya."Daddy!" teriak Chintya. Dia melihat tatapan daddynya yang sangat menyeramkan. Tidak pernah tuan Gunadi sampai semarah ini kepada mereka berdua."Apa ini, Dad?" tanya nyonya Elina sembari membuka map yang diberikan oleh suaminya."Kamu lihat dan baca isi map itu," tunjuk tuan Gunadi kepada map yang berada di pangkuan istrinya.Lelaki itu mendaratkan tubuhnya duduk di hadapan sang istri sementara Nyonya Elina mulai membuka dan membaca isi map tersebut."Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti hanya prank, kan?" Nyonya Elina histeris setelah beberapa menit kemudian. Dia melempar map itu ke sembarang arah."Prank, katamu?? Kau pikir ini sebuah lelucon?! RVM group membatalkan kerjasama dan kita mengalami kerugian besar!" Mata itu berkilat-kilat di terpa cahaya lampu yang tergantung di langit ruangan."Tetapi kenapa mereka sampai melakukan hal tidak profesi
Bab 115"Bagaimana bisa? Kenapa sampai gagal? Gimana sih kerja kalian?" teriak nyonya Elina kepada seseorang di seberang telepon. Perempuan tua itu bahkan menghentakkan kakinya ke lantai. Dia sangat kesal, karena rencananya untuk menyingkirkan Salwa dan juga janin di dalam kandungannya gagal total. Ini adalah kegagalan yang pertama kali setelah sebelumnya 20 tahun yang lalu, setelah itu 3 tahun kemudian, dia berhasil menyingkirkan Winnie dan Airin dari kehidupan Axel, putranya. "Gagal?" sembur Chintya. Perempuan itu seketika mendongakkan wajah. Perhatiannya teralih kepada sang mommy setelah sebelumnya ia sibuk memainkan ponsel. "Mereka gagal, Chintya. Kakakmu sendiri yang langsung turun tangan menyelamatkan anak haramnya itu!" Akhirnya nyonya Elina kembali duduk di sisi putrinya. Wajahnya memerah dalam amarah. Nyonya Elina memijat pelipisnya. Dia tidak habis pikir, kenapa kali ini dia gagal? Orang-orangnya adalah orang yang terlatih dalam urusan culik menculik. Mereka bergerak sang