Share

Dokter gadungan.

Penulis: Reinz Jr
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-06 17:37:01

Yoona menemui Diego, untuk melancarkan aksinya sesuai arahan papanya, dokter pribadi yang sudah ia pilih dan tidak di ragukan lagi mengenai kesetiaan dan intregitas.

"Diego, aku pikir sudah saatnya kita memanggil dokter pribadi untuk Eliza. Dia butuh perawatan yang lebih baik dari yang didapatnya sekarang."

Diego mengerutkan keningnya, jelas tidak setuju dengan ide tersebut. Dia lebih percaya pada rumah sakit dan dokter yang merawat Eliza sebelumnya.

"Aku rasa itu tidak perlu, Yoona. Eliza tidak dalam kondisi kritis. Kita sudah punya dokter yang baik."

Namun Yoona tidak menyerah. Dia menggeser kursi dan mendekat, dengan tatapan penuh harap.

"Tapi, Diego... Aku sangat menyayangi Eliza. Aku ingin dia cepat sembuh agar kita semua bisa hidup dengan tenang. Ini semua demi kebaikan dia."

Jasmina, yang mendengarkan dari kejauhan, mendekat dan ikut mendukung Yoona.

"Sebaiknya kita beri kesempatan untuk dokter pribadi. Dia lebih berpengalaman dalam menangani kasus-kasus seperti ini. Lagipula,
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Benih cinta?

    Diego menatap Eliza dengan lebih lekat, memperhatikan setiap gerakan dan raut wajahnya, mencari petunjuk dalam ekspresi yang tampak begitu asing baginya. Di hadapannya, wanita yang selama ini ia kenal sebagai Eliza kini tampak bagai orang lain—tatapan penuh ketakutan, kebingungan, dan seolah-olah dikejar bayangan yang tidak bisa ia lihat. Diego menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkannya."Mengapa semua ini terasa seperti mimpi buruk, Diego? Setiap kali aku menutup mata, aku melihat bayangan-bayangan… dan suara tembakan… suara yang memanggilku dengan nama itu. Quenza… apa artinya?"Diego merasakan ketidaknyamanan yang makin mendalam. Kata-kata Eliza tentang “suara tembakan” dan “bayangan” tak masuk akal baginya. Tidak mungkin ada trauma seperti itu dalam hidupnya. Eliza adalah wanita yang selama ini menjalani kehidupan tenang, tak pernah terlibat dalam kekerasan, apalagi yang berkaitan dengan pertempuran. Ia berpikir keras, mencoba mencari penj

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Siapa aku?

    Eliza duduk di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang terlihat asing baginya. Jari-jarinya yang kurus, perlahan menyentuh pipinya yang tirus, terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya."Eliza?" ucapnya pelan. "Benarkah itu namaku?" Ia memejamkan matanya sesaat, mencoba mencari kepingan ingatan yang hilang."Benarkah, ini aku? tanyanya kembali memandang wajahnya di cermin. "Kalau memang aku, Eliza. Lantas siapa, Quenza?"Quenza, satu nama yang selama ini mengganggu pikirannya. Setiap saat selalu muncul di ingatannya dalam mimpi ataupun terjaga. "Quenza.." gumamnya pelan. Selama ini, ia selalu berusaha untuk menerima bahwa dirinya adalah Eliza, seperti yang orang orang sebutkan.Tetapi hatinya selalu menolak, ia merasa bahwa Eliza bukanlah namanya. Hanya satu nama, yang bisa ia terima, Quenza. "Quenza, aku yakin itu namaku. Mungkin ada alasan lain mengapa mereka memanggilku, Eliza." Eliza menarik napas panjang, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya meski ada keraguan. Eliza, nam

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Pura-pura bodoh.

    Eliza tersadar dari pingsannya, tangannya refleks memegang kepala yang terasa berdenyut hebat. Matanya menyapu ruangan, berhenti pada sosok Diego dan Yoona yang berdiri di tepi ranjang, menatapnya."Apa yang terjadi padamu?" tanya Diego, suaranya terdengar datar saat ia duduk di tepi tempat tidur.Eliza mengangkat tangannya, menunjuk Yoona dengan tatapan penuh amarah. "Dia! Semalam dia membawa pria asing ke kamarnya!" Nafasnya memburu, mencoba mengendalikan emosi. "Pria itu memukulku, Diego!"Diego menoleh pada Yoona, alisnya terangkat, meminta penjelasan tanpa kata.Yoona tersenyum tipis, seperti mencoba menenangkan situasi. "Sayang, kau tak perlu terlalu tegang. Mungkin Eliza hanya salah paham.""Sayang?" Eliza memotong, suaranya dingin dan tajam. "Artinya, kalian memang punya hubungan lebih dari sekadar teman, bukan?"Diego menghela napas, wajahnya seolah berusaha menyembunyikan sesuatu. "Eliza, kau terlalu lelah. Jangan tambah beban pikiranmu dengan hal-hal yang tidak penting."El

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Ilusi

    Bab 24 Ilusi?Keesokan harinya, ketika suasana rumah benar-benar sepi, Eliza pergi meninggalkan rumah, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia memutuskan untuk menuju kantor polisi tempat Daniel bekerja. Ada banyak pertanyaan yang membebani pikirannya, dan hanya Daniel yang mungkin memiliki jawaban.Saat mobil berhenti di halaman kantor polisi, Eliza turun perlahan. Kakinya terasa berat, seolah ragu untuk melangkah lebih jauh. Ia berdiri di sana sejenak, memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang terasa memburu. Namun, tiba-tiba sebuah kilasan ingatan melintas di benaknya—sesuatu yang samar tapi nyata, seolah ia pernah berada di tempat ini sebelumnya."Dejavu... atau hanya ilusi?" gumamnya, membuka matanya perlahan. Matanya menatap liar ke sekitar kantor polisi, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama kantor polisi.Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Pandangannya terpaku pada pemandangan di dalam kantor. Suara dering telepon yang bersahutan, petugas polisi yang berlal

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Letnan Queenza

    "Eliza?"Eliza terlonjak kaget, tubuhnya berbalik dengan cepat. Di hadapannya, Daniel sudah berdiri, menatapnya dengan ekspresi hangat yang penuh perhatian."Daniel? Kau mengagetkanku saja!" rutuk Eliza sambil memegang dadanya yang masih terasa berdegup kencang.Daniel tersenyum tipis, sedikit merasa bersalah. "Maaf, tadi aku sedang menghadiri peringatan kematian beberapa rekan seniorku," jelasnya dengan nada serius, mencerminkan kesedihan yang terselip di balik ucapannya."Pantas saja aku menunggumu lama sekali," balas Eliza, suaranya sedikit kesal namun tidak benar-benar marah."Maaf..." ucap Daniel lagi, kali ini lebih tulus. Ia mengusap belakang lehernya, seolah mencoba meluruhkan ketegangan yang muncul. "Tapi ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Ayo ikut aku," katanya sambil memberi isyarat agar Eliza mengikutinya.Tanpa menunggu jawaban, Daniel mulai berjalan menuju ruangannya. Eliza, meski sedikit bingung dengan maksudnya, memutuskan untuk mengikuti langkah pria itu, ra

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Di kafe

    Di dalam mobil, suasana hening menyelimuti perjalanan. Daniel dan Eliza sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Hanya suara mesin mobil yang terdengar di antara mereka.Tiba-tiba, Eliza memecah keheningan. "Aku tidak mau pulang dulu," katanya pelan.Daniel meliriknya sekilas sambil tetap fokus mengemudi. "Mau kemana?" tanyanya singkat."Entahlah..." jawab Eliza. Ia sendiri bingung mau kemana.Daniel menghela napas panjang. Sepertinya dia mengerti bahwa Eliza butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Setelah beberapa detik berpikir, ia melontarkan sebuah usulan."Kalau kita berhenti di kafe untuk minum kopi? Bagaimana menurutmu?" Tanya Daniel.Eliza menoleh, memandang Daniel sejenak, lalu mengangguk pelan. "Oke, itu ide bagus," jawabnya dengan suara yang lebih tenang.Daniel tersenyum tipis. Ia segera membelokkan mobil menuju sebuah kafe kecil yang tampak nyaman di sudut jalan. Mungkin secangkir kopi bisa membantu mengurai kebingungan di kepala Eliza, dan memberi mereka waktu u

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Rumit

    "Eliza!!"Daniel berteriak sambil berlari mengejar Eliza yang berlari menuju tepi jalan raya."Eliza!"Namun, Eliza sudah terlalu jauh. Daniel menghentikan langkahnya, mengatur napas sejenak, sebelum memutuskan kembali ke kafe. Ia segera menuju mobilnya yang terparkir.Renzo, yang berdiri di ambang pintu kafe, menyaksikan semua itu dengan tatapan bingung."Ada apa dengan wanita itu..." gumamnya pelan.Sementara itu, Eliza terus berlari hingga tiba di sebuah taman. Ia duduk di bangku, napasnya tersengal, dan air mata mulai mengalir tanpa sebab. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri, mencoba mengendalikan emosi yang tak terbendung."Ada apa denganku..." bisiknya lirih, suaranya bergetar. "Kenapa semua ini terasa begitu menyakitkan...."Dia menangis tanpa suara, sesak di dada bercampur kebingungan yang sulit dijelaskan.Plok... plok... plok.Eliza mengangkat wajah, matanya tertuju pada Yoona yang berdiri tak jauh darinya, bertepuk tangan dengan senyum penuh ejekan."Kau menangis?" tanya

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Bukan Eliza yang dulu

    Bab 28 Bukan Eliza yang dulu."Kalian akan membayarnya!" teriak Eliza saat Yoona dan Jasmina menenggelamkan wajahnya ke dalam bak mandi.Air dingin mengalir masuk ke hidung dan mulut Eliza, membuatnya tersedak, namun ia tetap bertahan. Sesekali, pandangannya terarah ke Diego, yang hanya berdiri mematung di ambang pintu kamar mandi, tanpa melakukan apa-apa. Tatapan Eliza penuh dengan kebencian dan kemarahan yang terpendam."Baiklah," gumam Eliza dalam hati, "aku ingin tahu apa yang sebenarnya telah kalian lakukan padaku selama ini."Setelah puas menyiksa, Yoona melepaskan cengkeramannya, menghempaskan tubuh Eliza ke lantai basah dengan kasar."Aku harap, setelah ini ingatanmu pulih," ujar Yoona sambil menyeringai.Eliza, yang terbaring sejenak, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Ia tersenyum menyeringai, senyuman yang membuat Yoona dan Jasmina mundur selangkah tanpa sadar. Mereka tidak bisa mengabaikan perubahan di matanya.Dulu, Eliza selalu merengek dan memohon ampun. Tapi kali ini? Tida

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12

Bab terbaru

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Akhir segalanya.

    Eliza berdiri mematung di bawah langit senja, warna keemasan menyelimuti halaman rumah Renzo. Karangan bunga memenuhi halaman rumah Renzo. membawa aroma kesedihan yang bercampur dengan rasa hormat. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan."Kau senang? Ini yang kau inginkan?" tanya Diego, suaranya datar, namun sorot matanya penuh tanya.Eliza menoleh perlahan, menatap Diego. Untuk sesaat, tak ada jawaban yang terucap. Kata-kata terasa seperti beban yang sulit diungkapkan. Benarkah ini yang ia inginkan? Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan selama ini."Aku tidak tahu, Diego," jawab Eliza akhirnya, suaranya lirih. "Aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku. Takdir ini... bukan pilihanku."Diego menghela napas, matanya menatap jauh ke arah bunga-bunga itu, seolah mencoba membaca makna yang tersembunyi di baliknya. "Takdir memang bukan pilihan, El. Tapi apa yang kau lakukan setelahnya, yang akan menentukan segalanya

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Berkumpul lagi

    Di tengah keheningan mencekam, hanya terdengar suara sirene mobil polisi dan percakapan samar melalui radio petugas. Asap tebal membubung dari reruntuhan gedung, menyelimuti area dengan aura suram dan menyesakkan.Diego dan Renzo terduduk lemas di tanah, wajah mereka memancarkan keputusasaan yang mendalam. Namun, di tengah keputusasaan itu, mereka menangkap gerakan kecil di rerumputan yang bergoyang tak jauh dari mereka."Apa itu?" Renzo bergumam, matanya penuh harapan bercampur rasa tak percaya.Tiba-tiba, sebuah penutup logam perlahan terangkat dari bawah tanah. Asap mengepul keluar dari dalam, dan detik berikutnya, kepala Eliza menyembul keluar, wajahnya berlumur darah dan debu, matanya penuh tekad meski lelah."Eliza!"Diego dan Renzo berteriak serempak, seruan mereka memecah keheningan. Dengan cepat, mereka berlari ke arahnya, tak peduli dengan luka di tubuh mereka.Mereka membantu Eliza keluar dari pintu bawah tanah. Eliza terbatuk-batuk, tubuhnya limbung, tetapi senyumnya tipis

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Akhir sebuah dendam

    "Ibu!" teriak Kelvin, suaranya penuh kebahagiaan dan kelegaan."Mama!" seru Miko, matanya bersinar cerah meskipun situasi masih mencekam.Eliza menatap kedua anaknya dengan lembut. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.Keduanya mengangguk dengan senyum kecil, meskipun masih tampak cemas."Kita harus pergi dari sini!" kata Diego tegas, wajahnya serius."Victor sudah memasang bom di gedung ini!" Sela Renzo.Kekhawatiran langsung melintas di mata Eliza. Waktu mereka sangat terbatas. "Kalian bawa anak-anak!" perintah Eliza, sambil menyentuh bahu Diego. "Aku akan melindungi kalian. Cepat!"Diego tanpa ragu menggendong Miko, dan Renzo segera menggendong Kelvin. Dengan langkah cepat dan hati-hati, mereka berlari keluar dari ruangan, menuju pintu utama. Eliza tetap berada di belakang, memastikan mereka aman, sembari mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun yang ada di depan. Tembakan terdengar di kejauhan, namun Eliza hanya fokus pada satu tujuan, melindungi keluarganya dan memastika

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Damon

    Damon tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pria berjas hitam di belakangnya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan ke meja dan menekan tombol yang memulai proses di layar monitor. Monitor besar itu menyala, menampilkan berbagai gambar dan data yang berpindah dengan cepat."Lihatlah," kata Damon, suara rendah namun penuh ketenangan. Dia memperhatikan ekspresi Eliza yang berubah saat layar memperlihatkan rekaman markas yang meledak, diikuti dengan gambaran tubuh Letnan Quenza yang terluka parah, tergeletak tanpa nyawa. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria bertubuh kekar, salah satu anak buah Damon, muncul membawa tubuh Letnan Quenza yang sekarat ke rumah sakit terdekat. Proses transfer memori yang menegangkan terlihat jelas di layar, alat-alat medis canggih digunakan untuk memindahkan semua ingatan Quenza ke tubuh Eliza yang telah dinyatakan mati."Tidak mungkin!" teriak Eliza, wajahnya berubah kaget dan marah. Dengan cepat, ia mengangkat senjata

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Teroris

    Sesampainya di pusat kota, Eliza dengan cekatan menyembunyikan senjatanya di balik jaket panjang yang ia kenakan. Diego dan Renzo melakukan hal yang sama, memastikan tak ada yang mencurigai mereka.Mereka melangkah keluar dari mobil yang diparkir di sudut jalan, tubuh mereka sudah bersih dari luka-luka yang sempat mereka rawat seadanya. Hiruk-pikuk kota menyambut mereka, dengan keramaian manusia yang memadati jalan untuk merayakan hari kemerdekaan Mazatlán.Karnaval Mazatlán berlangsung meriah. Jalanan penuh dengan parade warna-warni, musik tradisional mengalun keras, dan sorak-sorai warga menambah semarak suasana. Polisi tampak berjaga di setiap sudut kota, mengawasi kerumunan dengan ketat.Eliza mengedarkan pandangannya dengan hati-hati. Matanya menelusuri setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan yang terasa sedikit janggal. Renzo dan Diego berjalan di belakangnya, sikap mereka sama waspadanya.Namun, suasana meriah itu berubah dalam sekejap.DUAR!Sebuah ledakan keras mengguncang

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Ide gila Diego

    Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membuat jalanan sepi di depan terasa semakin sempit. Diego mengepalkan tangan di setir, matanya fokus ke mobil musuh yang melaju dari arah berlawanan."Aku akan adu banteng dengan mereka!" serunya."Diego, kau gila! Kita bisa mati!" Renzo berteriak, suaranya penuh kepanikan. la memegang dashboard dengan erat, keringat mengucur di wajahnya."Menunduk!" perintah Diego tanpa ragu, suaranya tegas.Eliza langsung merunduk, tapi matanya tetap memperhatikan situasi, rahangnya mengatup rapat. Sementara Renzo hanya bisa berteriak lagi. "Diego! Aku belum mau mati!"Mobil Diego dan musuh semakin mendekat, jarak di antara mereka hanya hitungan detik.BRAK!!Tabrakan keras terjadi. Mobil Diego menghantam mobil musuh dengan kekuatan penuh. Bunyi logam beradu memekakkan telinga, pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Benturan itu begitu hebat hingga mobil Diego terlempar ke luar jalur, berputar beberapa kali di udara sebelum menghantam tanah dengan keras.Tub

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Pantang mundur

    Eliza duduk di kursi belakang mobil, pandangannya tajam menatap ke luar jendela. Diego mengemudi dengan fokus, sementara Renzo duduk di kursi penumpang depan, menggenggam senjatanya dengan cemas. Ketiganya telah siap dengan senjata masing-masing, meninggalkan markas Antonio dan Daniel tanpa banyak bicara. Eliza tahu mereka tak bisa terus melibatkan orang lain dalam urusannya. Ia hanya berjanji akan menghubungi Antonio jika benar-benar dalam keadaan terdesak.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang ramai oleh kendaraan lain. Tujuan mereka adalah perbatasan kota, tetapi perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam. Suasana di dalam mobil terasa tegang, dan setiap suara dari luar terdengar lebih nyaring dari biasanya."Sepertinya kepergian kita ada yang membocorkannya lagi," kata Eliza tiba-tiba, matanya menatap kaca spion dengan waspada.Diego melirik spion tengah. "Kau yakin?"Renzo, yang penasaran, menyembulkan kepalanya keluar jendela, mencoba memastikan. "Sial! Tiga

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Musuh atau sahabat

    Dari kejauhan, suara deru mobil mendekat, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh gemuruh api dari puing-puing markas Victor. Eliza, Diego, dan Renzo segera bangkit, tubuh mereka menegang dengan kewaspadaan tinggi.Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua pria muncul dari dalam—Antonio dan Daniel. Wajah mereka penuh kekhawatiran saat mereka bergegas menghampiri."Eliza, kau tidak apa-apa?" tanya Daniel, suaranya penuh kekhawatiran.Diego dengan cepat memotong, suaranya terdengar kesal. "Hei, jangan terlalu banyak bicara. Istriku terluka. Cepat bantu!"Daniel hanya mengangguk, memahami situasi tanpa membantah. Bersama Antonio, mereka membantu Eliza ke mobil, sementara Diego dan Renzo tetap berada di sisi Eliza, memastikan dia tidak semakin terluka.Di perjalanan, Eliza hanya diam, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dari lukanya. Renzo, yang duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan penuh perhatian, sementara Diego menggenggam tanga

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Lolos dari maut

    Dentuman tembakan bergema, memantul di sepanjang koridor sempit dengan dinding-dinding beton. Eliza, Diego, dan Renzo bersembunyi di balik pilar besar, dada mereka naik turun seiring napas yang tak beraturan. Bau mesiu memenuhi udara, bercampur dengan keringat dan darah."Mereka semakin dekat," bisik Diego, matanya melirik ke arah lorong tempat musuh terus menembakkan peluru secara membabi buta."Diam!" bisik Eliza, wajahnya penuh dengan konsentrasi meskipun bahunya berdarah. Dia mengintip sedikit, cukup untuk melihat posisi musuh tanpa terlalu terekspos.Dor! Dor! Peluru menghantam pilar, serpihan beton terbang ke segala arah, memercik seperti hujan kecil."Kita tidak bisa terus di sini," Renzo berkata, tangannya menggenggam pistol erat-erat, suaranya gemetar tetapi penuh tekad.Eliza menyeka keringat di dahinya, rasa sakit dari luka tembak di pahanya hampir membuatnya lumpuh, tapi dia menolak menyerah. "Kita akan maju. Aku di depan, kalian di belakangku. Hitung sampai tiga, lalu kit

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status