LOGINLivia Lumiere Carlos is a beautiful lady. Others were always deceiving and tricking her. She had difficulty on their hands. Others used her as an errand girl - their slave - while mocking her behind her back for her brilliant mind, commitment, and innocence. But when her husband cheated on her with her best friend, she decided enough was enough. However, Livia died of a sudden heart attack with her dying wish to turn back time. "Whoever stands in my way, I will mercilessly trample them," she promised. "Livia, the slave and errand girl, is no more."
View MoreAku sedang menyiapkan makan siang, saat mas Aldo datang dari kantornya untuk makan. Mas Aldo pegawai di Bank besar, jabatanya adalah collector, dia bertugas menagih para nasabahnya yang telat membayar, jadi setiap makan siang, mas Aldo akan pulang untuk makan di rumah.
Dia duduk di meja makan, lalu meletakkan uangnya di atas meja."Ini bulananmu!"Aku hitung tumpukan tipis uang di atas meja."Masak hanya ini mas uang bulanannya?"Dia menyendok nasi ke dalam piring lalu melihatku sebentar."Itu dulu lah Sar, nanti kalau kurang tambah saja dengan uangmu dulu!"What? Apa maksudnya ini! Bulan kemarin saja aku sudah bersabar dengan tujuh ratus ribu darinya. Masak ini masih harus bersabar lagi!"Bukannya gajimu naik mas, jadi enam juta?""Iya, memang kenapa?""Kenapa hanya tujuh ratus ribu aku dapat?"Geram sekali aku kali ini, belum sempat mas Aldo menjawab. Ibu mertuaku sudah datang. Saat dia masuk, mataku terasa terganggu.Cincin, dan gelangnya berderet di tangan. Bahkan kalungnya banyak menjuntai. Aku jadi teringat akar pada pohon beringin tua."Mana jatah bulanan ibu do! Ibu sudah janjian sama ibu-ibu di sini, mau beli seragam senam bareng"Aku memasang telinga baik-baik, Ibu baru saja menyebut jatah bulanan. Aku pandang mereka yang kini sedang duduk bersama di depan meja makan.Mas Aldo mengambil amplop dalam tasnya dan seperti singa kelaparan, Ibu menyambar amplop cokelat yang baru keluar itu.Dengan teliti ibu menghitung lembaran merah itu satu demi satu. Akupun ikut menghitungnya dalam hati, dua juta lima ratus aku hitung."Pas bu, tidak kurang. Aldo sudah simpan sendiri di amplop"Apa dia bilang, sudah di simpan sendiri. Jadi uang untuk ibu sudah dia simpankan sendiri dalam amplop dan uang untukku bahkan tak ada setengahnya."Iya, ibu percaya, cuma memastikan saja kan ngak salah" ibu mengambil nasi dan lauk di meja lalu duduk kembali memainkan ponsel nya.Aku pandang wajah dua manusia yang saling senyum di depanku itu, Aku bahkan mengeluarkan uangku sendiri untuk menambah biaya makan harian kami. Belum lagi gaya hidup mas Aldo yang tak selera bila makanan di meja tak mewah.Sekarang dengan tanpa bersalahnya mas Aldo memberi ibu uang yang bahkan berkali-kali lipat lebih banyak dari jatah bulananku.Aku bukan tak suka mas Aldo memberi uang pada ibunya, aku malah menyuruhnya memberi. Tapi jika itu memangkas dan memeras uang bulananku, tentu aku tak terima."Ibu mau kemana memang?""Ada pengajian di rumah hajah Safira. Tau kan kamu do, juragan beras kampung sebelah"Mas Aldo hanya menganggukkan kepala"Akmal minta sepatu baru, nanti dia ke sini ambil uangnya"Mataku membelalak mendengar lagi kalimat ibu. Kenapa tidak uang itu saja sebagian di berikan juga ke Akmal ?Sementara aku hanya melihat mas Aldo menganggukkan kepala. Apa maksudnya, dia akan memberi Akmal juga?Akmal adik bungsu mas Aldo, kuliah Semester enam. Ibu membiayai kuliah Akmal dari hasil toko sembako di pasar. Toko sembako yang ditinggalkan Almarhum Bapak mertua untuk di kelola.Jika dipikir, ibu termasuk orang mampu, mapan dan berada. Selain toko sembako, ibu masih punya dua petak sawah yang menghasilkan setiap kali panen, sebuah mobil pribadi dan mobil bak terbuka juga di tinggalkan Bapak.Ibu berdiri dan menatapku dengan senyuman yang entah berarti apa."Yang baru dapat duit jatahnya. Inget ya, jangan boros. Anakku kerja keras buat dapat itu. Beli makanan bergizi juga, obat penyubur, susu program hamil, biar cepat hamil kamu! Masak kalah sama Dena, anaknya bu Yuli itu nikah baru empat bulan, kemarim sudah tujuh bulanan!" Deg!Mengapa ibu harus mengaitkan semua dengan kehamilan, membandingkan aku dengan anak tetangga sebelah. Jika ditanya, Aku juga ingin seperti perempuan lain. Segera hamil, lalu memiliki banyak anak. Tapi memang belum rezekiku.Ibu bahkan bilang aku boros. Boros? Jangankan hidup Boros, berpikir untuk mencukupkan uang dari anaknya saja rasanya kepalaku buntu.Ibu menunjuk uang di tanganku wambil berlalu pergi. Aku hanya mampu memandangnya pias. Ibu juga membawa sepiring nasi berisi lauk dan sayur keluar bersamanya."Kenapa kamu? Ambilkan minum aku haus!"Aku masih terdiam dengan adengan demi adegan yang baru saja tersaji didepanku. Kini aku harus meminta penjelasan mas Aldo."Uang itu untuk ibu?"Mas Aldo menatapku tak suka. Kenapa memang, aku bertanya karena merasa aku pun punya hak untuk tau."Iya, kenapa?"Santai sekali dia menjawab."Dua juta lima ratus mas?" Kupastikan lagi jumlah yang kulihat tadi tak salah hitung."Kenapa sih! Ibu yang minta, biar saja lah. Lagian aku kasih ke ibuku sendiri to! Kenapa, kamu tak suka?"Aku terkejut, aku hanya bertanya dan meminta penjelasan, kenapa justeru bentakan yang aku terima." Bukan aku tak suka mas! Kamu beri ibu separuh gajimu, lalu untuk kita makan, tujuh ratus ribu?"Aku sudah diam selama ini, melihatnya memberi ibu dengan jumlah lebih dari yang dia berikan padaku. Aku bahkan menerima uang satu juta perbulan darinya tanpa banyak bertanya.Tapi sekarang, tujuh ratus ribu aku dapat darinya. Apa salah jika aku mempertanyakan pemberiannya pada ibu, yang bahkan lebih dari tiga kali lipat uang bulananku!"Biasanya kan kamu ngak kerja, tapi sekarang, aku lihat usahamu sedang maju, jadi Mulai sekarang aku potong uangmu segitu saja! Itu cukuplah untuk beli sayuran, kalau pun kurang, kamu kan ada simpanan. Kalau ngak mau simpananmu terpakai, Putar otaklah biar cukup!"Apa maksud ucapannya? Bukankah nafkahku adalah tanggung jawabnya. Aku berjualan, mengumpulkan uang untuk program bayi tabung.Aku juga ingin seperti yang lain, punya anak dan memiliki keturunan. Sudah lima tahun berumah tangga, namun tak juga diberi kepercayaan.Bahkan ibunya saja setiap kali bertemu hanya menyindir kehamilanku, rasanya hatiku bagai tersayat.Berkali-kali aku meminta mas Aldo untuk kedokter kandungan. Dia selalu menolak, dia bilang keluarganya subur dan banyak anak. Jadi dia pasti subur juga. Jadilah aku yang selalu menjadi bahan cibiran. Karena aku seorang anak tunggal."Mana minumku, kenapa diam?" Mas Aldo mebuyarkan lamunanku. Aku berjalan kesal kedapur mengambilkan mas Aldo minum. Berhenti sebentar aku mengatur napas. Rasa marah dan kecewa bercampur di dalam hatiku.Kuambilkan saja air putih, tak ada selera rasanya memanjakannya hari ini. Toh semua usahaku tak terlihat baik dimatanya.Saat aku keluar, Akmal sudah duduk di meja makan membuat darahku semakin mendidih melihat mas Aldo meletakkan uang di atas meja."Nih, jatah kamu. Kuliah yang benar, jangan menyusahkan ibu"Baiklah kalau begitu, jika aku tak dapat meminta uangmu mas. Jika bagimu aku harus memutar otak. Akan aku pakai otakku ini mencari uang tambahan!Braak!Aku letakkan dengan kasar gelas diatas meja. Tepat di atas lembaran uang yang berjajar disana. Sengaja memang "Kaget aku mbak Sari, nggak lihat di sini ada uang? Basah kan jadinya uang itu"Aku menatapnya tajam, Mas Aldo sekarang membelalak ke arahku dan aku tak perduli. Kulihat Akmal asyik sekali mengunyah paha ayam.Aku perhatikan isi piringnya lalu mulai kuhitung satu persatu, kuambil saja kalkulator di dekat ruang TV."Nasi, ayam goreng, tempe, sambal dan sayur sop. Dua puluh tiga ribu"Akmal dan suamiku menatap tajam, Aku pura-pura saja tak melihatnya."Maksud mbak apa sih?"Kuambil uang ditangan Akmal lima puluh ribu. Lalu berjalan ke dapur mengambilkannya kembalian lima ribu."Ini kembaliannya, ibu tadi juga ambil makan sama sepertimu, sekalian saja kamu bayar. Harusnya sih empat puluh enam ribu, tapi aku diskon seribu. Air putihnya gratis!"Kakak beradik itu sama-sama binggung dengan sikapku"Maksudnya, makanan ini aku harus bayar mbak?""Iya, sekarang mbak jualan. Buat nambah penghasilan. Mbak kan harus putar otak supaya bisa tetap hidup dengan uang dari masmu!"Aku lalu berjalan ke dapur, kulihat mas Aldo mengikutiku kedapur."Kamu kenapa suruh Akmal bayar makanannya? Makanan ibu tadi juga kamu hitung, Kamu masak bukannya pakai uangku? Jangan keterlaluan kamu!"Aku sekarang jualan di rumah!"Aku berucap tanpa menatap mas Aldo. Kusibukkam diri dengan mencuci semua prabotan dapur yang kotor karena terpakai."Jualan apa? Kapan kamu jualan"Mas Aldo mendekat kearahku. Aku masih tak mau melihatnya."Hari ini. Aku sekarang jualan di rumah. Tiap ambil makan, akan aku hitung. Kalau tak bisa bayar, ya akan aku catat sebagai hutang!"Dia pikir hanya dia yang bisa berbuat sesukanya? Aku juga bisa! Aku dua puluh lima jam bekerja di rumah tanpa minta gaji, melayani makannya, bajunya, ranjangnya, tak ada ucapan terimakasih barang secuil. Sekarang masih memotong uang bulananku!"Bukannya aku memberimu uang setiap bulan. Lalu kenapa semua masih di hitung beli? Kalau kamu jualan, modal dagangannya juga dari aku kan?"Aku menatap mas Aldo, lalu kulipat tanganku kedepan."Modal apa? Itu uangku. Uang darimu sudah habis aku pakai masak dua minggu. Dua minggu saja aku harus hemat. Bagaimana cukup untuk satu bulan!""Dua minggu kamu tak perlu bayar makan. Itu uangmu sendiri yang kamu titip ke aku. Setelah dua minggu baru aku hitung makanmu mas"Dia menatapku dengan wajah yang sinis. Aku juga menatapnya sinis. Enak saja! Selama ini aku sudah diam, tapi justeru semakin di injak-injak. Gajinya saja naik, masak bulananku malah dipotong!"Aku juga buka laundry. Perkilo empat ribu! Sabun mandi, odol, sikat, shampo di lemari itu juga jualanku. Kamu kalau ambil bayar!"Aku menangkap ketidak sukaan pada raut wajahnya. Hah, aku tak perduli. Hatiku sudah jenggah dengan sikapnya yang begitu pelit pada istri sendiri!A young boy named Livis Vonn Welthe-Forthright sits quietly next to his mother in a board room, observing the ongoing meeting. The child wore a solemn expression as his mother and grandfather participated in the meeting. The child willingly attended such events with the guidance and support of his grandfather.Now, the entire board is refraining from chuckling or laughing because Livis is being serious. The child is actively engaged in flipping through the brochure, fulfilling the purpose of this meeting by incorporating new products and services into their business and even managing the company’s finances.The board member assumed the child would lose interest and requested her mother leave right away. However, their assumption proved to be incorrect.The entire board is astounded by the child’s remarkable intelligence, which he clearly inherited from his mother. Not only is he quiet, but he also offers thoughtful suggestions.“It might be beneficial to consider implementing an insur
After half a year, she finds herself standing outside the prison where Letty and her mother are being held. They have been found guilty of attempted murder, murder, kidnapping, physical injuries, and other charges.She, her father, and Orion are all in each other’s company. She tied the knot with Orion half a year ago. Letty and her mother were asked to appear before the authorities, who then took them to Muntinlupa, where they will be staying for an indefinite period of time. Letty and her mother were sentenced to life imprisonment, thanks to her father’s actions.“Are you alright? We could go back since your situation doesn’t seem to be causing you any stress,” Orion said gently, his hand softly resting on her growing belly. Her baby is expected to arrive in three months.“I’m doing well. I am certain that regardless of what that woman may say, she will ultimately face defeat,” Livia remarked with a smirk. George also asked her to speak with him, but her father and Orion objected be
“Congratulations, Livia! Congratulations on reaching your goal! You are not here because you have died, Livia Lumiere. Forget about it. We appreciate your presence here as much as you do.” The divine being opened up to her.Livia is well-acquainted with the constant back-and-forth between the mortal realm and the realm of the divine, and she is deeply indebted to them.“Thank you very much for your assistance and for sending me the necessary support,” she expressed her gratitude. Despite being unable to see the divine being’s face, Livia was certain that he was smiling at her.“But how do you express your gratitude towards me? I should be the one who owes you a lot,” he said, expressing his gratitude to them. The divine being shook his head. “No, young one. It’s really beneficial for us to suppress a rebellious regressor, especially for my colleague who’s been struggling to control Letezia,” it explained.“As you can see, Livia. Your regression isn’t a coincidence. Your destiny is int
‘I don’t need someone to help me! I’ll handle this on my own!’ she exclaimed to herself, her voice filled with determination, as Letezia aimed the gun at her.“Don’t you have any remorse for the impact you’ve had on my life? And now, you’re only making it worse by attempting to end it!” Livia confidently stated this as Letty writhed in agony from the consequences of Livia’s actions.“Guilt? I don’t feel it. All I feel is a strong desire to eliminate every trace of Welthe’s blood! I don’t care if I suffer any more! Together in hell!” Letezia let out a high-pitched scream.Livia’s eyes widened as Letezia fired the gun, hitting her with a bullet. She made an attempt to avoid the bullet by moving to the other side, but it struck her right arm.“Sh*t!” Livia let out a frustrated sigh.She noticed that Letezia’s gun was primed to unleash a barrage of bullets, prompting her to swiftly seek cover and evade her presence. She hurriedly fled and unfortunately found herself with no other option b
Livia is engrossed in her tasks when Ramona walks in, her face filled with unease. Livia didn’t glance in her direction, yet she sensed her unease.She may not have her eyes on her, but she can sense Ramona. She diligently signed documents and carefully reviewed financial reports and projects that re
Livia is heading out for another day of meetings with yet another client. She expresses gratitude that George has ceased to bother her, recognizing that it is only a temporary respite before he inevitably resumes his pestering.She was uncertain about the identity of her client for the day. This is a
Livia’s life had seen brighter days. She is in the company of her father, who has showered her with abundant affection and indulgence. He bestowed upon her a multitude of possessions, most notably shares, a grand edifice, properties, and parcels of land, all registered under her esteemed appellation
Livia’s face bears a few scratches, while her hands display some bruises. Fortunately, Orion intervened and put a stop to their actions. In the confines of her recently acquired office, she finds herself seated, observing the man’s countenance, which bears a striking resemblance to that of a person






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.