Share

Bab 132

Penulis: Bhay Hamid
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-29 11:55:00

Setelah dua hari perjalanan yang panjang dan melelahkan, rombongan dari Desa Kali Bening akhirnya tiba kembali di Desa Kelewer.

Mereka membawa serta harapan baru — bata, genting, kayu-kayu kuat, dan semangat membara untuk membangun kembali rumah-rumah mereka.

Sementara para warga sibuk mengangkut bahan bangunan dari gerobak ke halaman rumah masing-masing,

Raka menahan Bayu dan Rio yang hendak membantu.

“Bayu, Rio, istirahatlah dulu. Dua hari di jalanan cukup membuat punggungmu seperti kayu kaku,” kata Raka sambil tersenyum tipis.

“Mari kita lihat rumah Tuan Anugra sebelum kau berdua patah pinggang,” lanjutnya, setengah menggoda.

Mereka bertiga berjalan perlahan di antara deretan rumah desa yang sebagian sudah mulai berdiri gagah.

Begitu sampai di halaman rumah mertua Raka — Anugra dan Inuke — mata mereka membelalak.

Rumah itu... sungguh berubah.

Dinding batu bata merah tersusun rapi, beratap genting merah yang kuat, jendela-jendela kayu jati dipahat indah, dan pekarangan yang bersih
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 322

    Sepanjang jalur dari Savana Kidu menuju perbatasan Trigantara, ribuan prajurit elit berjalan dengan kepala tegak. Di barisan paling depan, pasukan penabuh genderang memukul kulit perkamen dengan irama yang mantap dan berwibawa. Dung! Dung! Tak! Irama itu bukan sekadar musik, melainkan denyut nadi kemenangan yang menyebar ke seluruh penjuru Benua Hijau.Rakyat dari desa-desa terpencil keluar ke tepi jalan. Mereka melemparkan bunga-bunga liar ke arah rombongan Raka. "Hidup Raja Raka! Hidup Trigantara!" teriakan itu bersahutan, mengalahkan suara angin musim semi.Raka, yang menunggangi kuda hitamnya, tidak menampakkan keangkuhan. Ia sesekali mengangguk pada rakyatnya, meski hatinya masih menyimpan duka bagi mereka yang gugur di medan laga.Saat puncak-puncak menara Istana Giri Amerta mulai terlihat di ufuk, suasana semakin meriah. Gerbang raksasa yang terbuat dari kayu jati berlapis tembaga itu terbuka lebar. Ribuan warga kota berkumpul, membentuk lautan manusia yang menyambut sang pahla

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 321

    Langkah kuda-kuda elit itu berhenti tepat di pinggir Savana Kidu, sebuah padang rumput tersembunyi yang dikelilingi tebing curam. Di sana, sisa-sisa pasukan Yandi yang kelelahan sedang beristirahat. Saat melihat panji Trigantara muncul, kegaduhan singkat pecah, namun seketika berubah menjadi keheningan yang mematikan.Prajurit Negeri Angin yang tersisa memandang rombongan Raka dengan lutut gemetar. Mereka telah mendengar tentang hancurnya armada laut mereka dan kehebatan kavaleri Raka. Di mata mereka, Raka bukan lagi sekadar raja musuh, melainkan malaikat maut yang datang menjemput janji."Jangan ada yang bergerak!" perintah seorang jenderal Yandi dengan suara bergetar. Ia tahu, satu gerakan salah akan memicu pembantaian di padang sempit ini.Raka maju perlahan, kudanya melangkah anggun di tengah kerumunan musuh yang membelah jalan karena takut. Di ujung savana, Yandi berdiri tegak. Zirah peraknya kini penuh goresan dan noda darah kering, namun matanya masih memancarkan api harga diri

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 320

    Tiga minggu telah berlalu sejak dentuman meriam pertama meledak. Lembah yang dulunya hijau kini berubah warna menjadi kelabu akibat abu pembakaran dan merah karena darah yang meresap ke dalam pori-pori tanah. Aroma musim semi telah lama sirna, digantikan oleh bau anyir dan kematian yang menyengat.Setiap hari, bentrokan kecil hingga skala besar pecah di celah-celah bukit. Ribuan nyawa telah melayang. Tangisan prajurit yang terluka menjadi musik latar yang mengerikan di setiap malam yang dingin."Gusti Raka," bisik Sabda di dalam tenda yang kini penuh dengan peta bertanda silang merah. "Kita kehilangan lima ratus orang lagi di sektor timur tadi siang. Pasukan sudah kelelahan."Raka, dengan mata yang tampak cekung karena kurang tidur, hanya mengangguk pelan. "Aku tahu, Sabda. Tapi lihat ke seberang sana. Mereka lebih menderita daripada kita."Kunci bertahan hidup Trigantara bukan hanya pada pedang mereka, melainkan pada perut mereka. Garis pertahanan Raka terhubung langsung dengan Kemus

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 319

    "Besok, di bawah kaki Bukit Mala, aku akan menemuinya," ucap Raka memecah kesunyian.Panglima kepercayaannya, Sabda, mengerutkan kening. "Yandi bukan orang yang mudah diajak bicara, Gusti. Dia membawa dendam yang lebih tajam dari pedangnya."Raka menatap kobaran api dengan tatapan kosong. "Aku tahu. Tapi ribuan nyawa prajurit Trigantara ada di pundakku. Jika ada satu persen kemungkinan untuk menghindari banjir darah, aku akan mengambilnya. Persiapkan segalanya. Kita berangkat saat fajar menyingsing."Fajar menyingsing dengan warna keunguan yang indah, namun aura di bawah Bukit Mala terasa mencekam. Di hamparan savana yang luas, dua sosok penunggang kuda berdiri saling berhadapan. Raka di atas kuda hitamnya, dan Yandi yang mengenakan zirah perak mengkilap di atas kuda putihnya.Di belakang mereka, jenderal-jenderal elit berdiri kaku seperti patung, tangan mereka tak pernah jauh dari hulu pedang.Raka memacu kudanya selangkah lebih maju, memecah kesunyian. "Yandi, sudah lama kita tidak

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 318

    Di gerbang selatan, Raka berdiri melepas satu legiun tempur terbaiknya. Di bawah panji naga emas, pasukan itu bersiap melakukan perjalanan jauh melintasi gurun."Bawa pesan ini kepada Sultan Malikh di Negeri Pasir," ujar Raka kepada panglimanya. Suaranya rendah namun tajam. "Katakan padanya, matahari tidak akan terbit dua kali untuk mereka yang ragu. Aku tidak butuh janji di atas kertas, aku butuh kavaleri mereka di sayap kiri perbatasan Kemusuk."Panglima itu membungkuk dalam. "Bagaimana jika mereka menolak, Gusti Prabu?"Raka menatap cakrawala yang mulai memerah. "Jika mereka menolak menjadi kawan dalam perang, maka setelah debu pertempuran ini reda, mereka akan melihat Trigantara sebagai tuan yang baru. Negeri Pasir harus memilih: berdiri bersama kita atau terkubur di bawah pasir mereka sendiri."Malamnya, di balkon istana yang menghadap ke arah lembah, Raka berdiri bersama Maha Patih Tomi. Mereka terdiam, menatap kerlip lampu pemukiman rakyat yang kini begitu luas."Masih ingat ba

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 317

    Langit di atas ibu kota Trigantara tidak pernah tampak sesuram ini. Meski pasar tetap ramai dan emas tetap mengalir, ada getaran dingin yang merayap di lorong-lorong istana.Di atas singgasana kayu jati berukir naga, Raka duduk dengan dahi berkerut. Di tangannya, sebuah gulungan surat dengan segel lilin bergambar elang badai—lambang Negeri Angin—telah hancur diremas.Maha Patih Tomi berdiri di hadapan Raka, tangannya tertumpu pada gagang pedang. Suasana ruang sidang itu begitu hening, hingga suara tetesan air hujan di luar terdengar seperti derap kaki kuda pasukan musuh."Gusti Prabu," suara Tomi berat, "Kaisar Yandi telah menggerakkan panji-panjinya. Ini bukan lagi sekadar gertakan di perbatasan. Ini adalah genderang perang. Tahta Trigantara yang baru saja bersinar ini, kini menjadi sasaran utama mata panah mereka."Raka menatap kosong ke arah aula besar. "Tahta ini memang indah, Tomi. Tapi aromanya selalu bau darah. Aku membangun kemakmuran bukan untuk mengundang perang, tapi sepert

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status