HAPPY READING“Morning, Anja.”“Morning juga, pak.”William menyungging senyum akhirnya ia bisa mendengar suara wanita ini lagi.“Kamu lagi apa?”“Saya lagi breakfast dengan teman saya.”“Di mana?”“Di Le Quartier,” ucap Anja.William menyungging senyum, “Padahal tadi saya mau ngajak kamu brunch. Nanti malam kamu sibuk nggak?” Tanya William.“Enggak sih. Kenapa?”“Saya ngajak kamu dinner.”“Hemmm.”“Saya jemput kamu.”“Memang bapak tau saya tinggal di mana?”“Enggak, makanya kamu kasih alamatnya ke saya.”Anja menahan tawa, ia melihat Juliet yang terkekeh, “Iya.”“Sampai ketemu, nanti malam.”Sambunganpun terputus begitu saja, Anja meletakan ponsel di meja. Ia melirik Juliet yang hanya menyungging senyum.“Ngajak ketemuan?”“Iya, malam ini dia ngajak dinner gitu.”“Yaudah, pergi aja.”“Gua harus gimana?” Tanya Anja, ia memakan cake nya lagi.“Jalani aja lah. Lo kayak kesenengan gitu sama William.”“Ih, lo kok tau sih.”“Ekpresi wajah lo nggak bisa bohong Anja.”Anja tertawa geli, “Dia
HAPPY READING***Anja dan Richad lalu keluar dari office. Anja tahu kalau seharusnya pak Richad membawa sekretarisnya untuk pergi kegiatan namun justru dia tidak membawanya. Ia melirik pak Richad menyeimbangi langkahnya, pria itu terlihat ramah dengan beberapa karyawan, mungkin karena dia baru, jadi butuh penyesuaian. Namun yang ia lihat dia tidak mengurangi wibawanya sebagai atasan.Mereka masuk ke dalam lift dan lift menuju lantai dasar. Richad menatap Anja, wanita itu berada di sampingnya,“Bertemunya di gerai bawah kan?”“Iya, pak benar.”Anja melirik pak Richad, tidak enak rasanya hanya diam-diam saja seperti ini, “Bagaimana hari pertama bapak berkerja di kantor ini?”Richad memandang Anja, “Saya masih penyesuaian, kurang lebih mirip budaya capitalist seperti China dan Amerika, agak workaholic saya lihat. Saya kemarin di sini sampai jam delapan malam, saya melihat banyak karyawan yang masih di office.”Anja tertawa, “Saya biasa juga pulang jam segitu.”“Why?”“Menghindari macet,
HAPPY READING“Senang berkenalan dengan anda pak William,” ucap Richad.William tersenyum dan membalas uluran tangan itu pria itu, “Senang juga berkenalan dengan anda pak Richad,” setelah itu William melepaskan tangannya.“Bapak William ini pemilik pengusaha pengembangan, yang kantor pusatnya berada di Kemayoran, banyak property yang sedang beliau tangani, yang tersebar Jabodetabek, dan Jawa barat dan Bali,” ucap Anjani memperkenalkan profil pak William kepada atasannya.“Nice,” ucap Richad tersenyum kepada William.Agenda hari ini adalah pengujian sampel, dan penandatanganan MOU dari pak William dan pak Richad. Semua proses kerja hari ini sangat lancar. Mereka berbincangg-bincang tentang topik pekerjaan saja, dan staff nya juga membicarakan profil perusahaan Semen Indonesia yang sudah masuk perusahaan multinasional.Setelah pekerjaan mereka selesai, akhirnya team pak William memutuskan untuk pulang, dikarenakan masih ada meeting selanjutnya yang harus di hadiri. Anja dan pak Richa
HAPPY READINGBeberapa menit kemudian mobil sudah berada di One Satrio, Richad memarkir mobilnya di plataran halaman, ia dan Anja keluar dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam. Jam makan siang banyak para ekspatriat, karena di sini banyak sekali kantor kedutaan berbagai negara. Ketika mereka masuk, mereka di sambut ramah oleh server yang berjaga.“Selamat siang. Untuk berapa orang pak?” Sapa servernya ramah.“Untuk dua orang,” ucap Richad.“Mari pak ikut saya.”Anja dan Richad mengikuti langkah server, server itu mempersilahkan mereka duduk di salah satu table kosong di dekat jendela. Anja meletakan tas-nya di kursi kosong di sebelahnya. Ia melihat server memberi mereka buku menu.Anja dan Richad memesan Tagliolini Neri All Aragosta Con Pomodorini Confite, Basil and cucumber Smash, mereka akan memberi mereka free Ice Tea, ia akui kalau hospitality di sini sangat baik dan helpful. Setelah mencatat pesanan mereka, server itu meninggalkannya.Richad menatap Anja, wanita itu bergerak
HAPPY READING“Dan yang paling penting kalau merasa tidak cocok dengan salah satu sikapnya, ya mending nggak usah. Kedengeran sangat egois? Tapi memang lebih baik nggak usah pacaran menurut saya kalau keadaanya seperti itu. Saya belajar dari pengalaman saya sendiri, di mana mantan saya itu memiliki selera humor dengan saya, sering kali saya risih dengan jokes-nya.”“Owh ya, seperti apa jokesnya?”“Dia sering menertawakan kekurangan seseorang, membuat saya tidak nyaman dan cenderung memicu keributan diantara saya sendiri.”“Kesalahan saya saat itu terlambat menyadari kalau memang kita tidak sejalan sejak awal. Analoginya saya ke barat dan dia ke timur, saya dan dia memiliki pemikiran yang berbeda jauh. Dia sama sekali tidak bisa mengerti mau kedepannya seperti apa, dan saya juga kesulitan memahami keinginannya. Akhirnya sama-sama bingung dan saling menyalahkan.”“Saya juga bukan tipe pria yang mengemis-ngemis cinta, jika saya sudah tidak sejalan saya akan melepaskannya dan membiarkan
HAPPY READING“Mi, aku kan udah bilang, aku ini nggak mau dijodohkan,” ucap William kepada maminya di balik speaker.“Ya, aku tetap nggak mau mi,” ini kesekian kalinya Willi menolak permintaan orang tuanya.Mami William menarik nafas, “Dengerin dulu mami, Willi. Ini tuh Livy. Kamu pernah kenal dia dulu waktu kecil. Coba ketemu dulu, baru bilang nggak.”“Tetap aja Willi nggak mau mi. Mama ngertiin dong perasaan willi gimana. Willi udah dewasa, bisa nentuin hidup sendiri.”“Tapi mami ingin kamu ketemu dulu sama Livy, dia baru pulang dari New York.”“I don't want to meet her, mi,” timpal Willi, karena sudah beberapa kali berkenalan dengan wanita, berakhir sia-sia. Semuanya tidak sesuai dengan seleranya. Mungkin si wanita mau, sedangkan dirinya tidak.“Tolong kamu ketemu dengan Livy besok. Kalau kamu nggak suka, setelah itu mami nggak akan ngenalin kamu ke anak teman mami yang lain.”William menarik nafas, jujur ini merupakan kesekian kalinya sang mama menjodohkan dirinya dengan seoorang
HAPPY READING“Kelebihan dan kekurangannya apa menurut kamu?” Tanya William penasaran.“Kalau apartemen itu banyak fasilitas seperti kolam renang, minimarket, mall, tempat gym, sedangkan di kostan enggak. Kalau kostan exclusive seperti saya tempati fokus kebutuhan sehari-hari, misalnya ada laundry geratis, jasa bersih kamar geratis, wifi, maintenance, parkir, include listrik, air. Kita datang cuma pakek aja, nggak bayar lagi. Kalau apartemen kan nggak semua itu bayar.”“Kalau masalah privasi, memang apartemen itu lebih privasi dibanding kost. Kalau kost masih bisa bertemu dengan kost di sebelah siapa, bahkan saling sapa. Tapi saya lebih provide ke kebutuan sehari-hari sih. Buat hidup lebih mudah aja.”“Kalau saya beri fasilitas kamu tempat tinggal apartemen, kamu mau?” Tanya William.Anja menoleh menatap William, “Apartemen siapa?”“Apartemen milik saya. Milik pribadi, nggak di tempatin juga.”“Di mana?”William menarik nafas, ia menjalankan mobilnya kembali, “Apartemen Kemang Villag
HAPPY READING“Enggak saya saja sih, banyak sekali pelajar Indonesia menggunakan jasa agen ini. Tapi pengalaman saya dan teman-teman lainnya, saya merasa ditelantarin. Ada sebagian teman-teman saya mengunakan agen lalu pulang ke Indo. Karena tidak menyangka karena kuliah di Jerman itu ribet dan membutuhkan proses yang tidak sebentar.”“Untung saja saya punya teman Juliet, mungkin orang tuanya sangat berpengalaman kuliah di luar negri seperti apa. Juliet kuliah di Jerman melalui website kedutaan Jerman, dia banyak membantu saya, bahkan dia memasukan saya ke group PPI di jerman.”“Itu pentingnya punya pengalaman, atau orang tua yang kuliah di luar, bukan seperti saya yang tersesat di tengah-tengah negara orang yang nggak tau apa-apa,” ucap Anja.“Terus.”“Pertama-tama tinggal di sana, saya stress, biaya hidup tinggi, homesick, rasisme dan diskriminasi. Makanannya kurang enak, teman seks bebas, saya tidak akan terlena lagi dengan segala kenyamanan di Eropa.”“Yah, sampai akhirnya saya b
HAPPY READING***1 bulan kemudian,“Oh My God!” Teriak William dalam hati. Ia menatap Anja, dengan rambut sebahunya, ia tidak tahu sejak kapan Anja memangkas rambutnya panjangnya menjadi separuh, lalu tatapannya berubah dan senyumnya berkurang, ia berubah menjadi ragu. Ini sudah sebulan berlalu Anja tidak bersamanya, ia hampir gila memikirkan wanita itu setiap harinya.Willi memejamkan mata beberapa detik, ia menutup wajahnya dengan tangan, ia menghabiskan dua Minggu di Eropa di kota terpencil hanya karena memikirkan wanita itu. Untuk masalah Livy sudah ia selesaikan sejak ia mengatakan cintanya kepada Anja. Orang tuanya menyayangkan hubungannya dengan Livy, namun apa boleh buat ini semua tentang keputusannya. Ia tidak bisa menikah dengan orang yang tidak memiliki perasaan yang sama.Willi merasa senang kalau Anja kini menghampirinya, namun beberapa detik kemudian ia berubah menjadi jengkel dan kesal. Memasang topeng tidak peduli di wajahnya, ia melangkah mendekati Anja yang berdir
HAPPY READINGBeberapa hari kemudian, itu merupakan terakhir mereka bertemu, William tidak lagi menghubunginya walau ia sudah membuka blokir ponselnya. Selama beberapa hari itu, jujur pria itu tidak lepas dari kepalanya. Masih teringat dalam ingatannya, bagaimana pria itu memeluknya, tertawa bersama, saling bercerita, deeptalk, pillowtalk, moment seperti itu sangat berharga untuknya. Mereka bisa bercerita banyak hal, walau moment itu hanya sebentar, entahlah ia merasa kalau setiap moment yang mereka lakukan itu sangat terkenang.Ia mulai menerima dan menyadari bahwa perasaannya terhadap William itu ada. Ia tidak menapik kenyataan bahwa ia memang menyukai Willi. Ia tidak bisa membohongi perasaanya, semakin berpikir semakin membuatnya tidak tenang. Ia berbicara pada diri sendiri, apa ia sanggup menjalin hubungannya dengan William.Untuk Richad, entahlah ia merasa gamang, pria itu memberi prihatian lebih kepadanya, tidak jarang ia dan Richad makan siang bersama. Dia sangat baik, bahkan
HAPPY READING“Jelaskan pria mana yang tidak marah, wanitanya bersama pria lain. Pria itu bahkan selevel dengan saya!”“Saya hampir gila tiba-tiba kamu pergi meninggalkan saya!”“Saya seperti pria yang tidak tentu arah karena kamu pergi begitu saja, tanpa kejelasan apapun!”“Mungkin saya salah karena saya bertanya apakah kamu tidur dengannya! Saya mengatakan seperti itu karena saya takut kehilangan kamu! Saya tidak bisa, wanita saya berbagi dengan pria manapun!”“Oh God, bagaimana lagi saya harus menjelaskan kepada kamu!”“Apa perlu pembuktian kalau saya ini cinta sama kamu!” Teriak Willi.“Kamu mau bukti, kalau saya bisa menikah dengan kamu!”“Ayo kita menikah! Kalau kamu mau! Saya mau mengikat kamu sehidup semati!”“Saya tidak peduli lagi dengan keluarga saya! Mereka tahu apa tentang peraasaan saya!”“Persetan dengan Livy! Tidak peduli statusnya apa! Saya tidak akan pernah terpikirkan untul bersanding dengannya apalagi memacarinya!”“Yang saya pikirkan saat ini itu, kamu!”“Hanya k
HAPPY READINGAnja duduk di kursinya, “Sudah lebih baik,” ucap Anja, ia menaruh kopi dan handbag-nya di meja, ia melihat map di atas meja kerjanya. Itu kerjaan yang telah diselesaikan oleh staff nya, namun ia tetap mengoreksinya. Ia juga mengambil pekerjaanya di laci dan ia taruh di meja.“Selamat pagi ibu Anja.”Anja lalu menoleh, ia menatap Richad tepat berada di belakangnya. Ia dengan reflek berdiri, ia lalu tersenyum kepada pria itu.“Selamat pagi juga pak.”“Apa kabar kamu hari ini?”“Ah ya, baik,” ucap Anja gugup, ia memperhatikan penampilan Richad dia mengenakan kemeja berwarna putih dan celana abu-abu, dia sangat sempurna.“Syukurlah kalau begitu. Ponsel kamu tidak aktif dari kemarin, membuat saya khawatir.”Anja tersenyum, “Saya baru mengaktifkan ponsel saya barusan, maaf membuat bapak khawatir.”“Yaudah kalau begitu, saya ke office dulu. Kamu lanjut kerja.”“Baik pak,” ucap Anja.Anja lalu duduk kembai, ia lalu segera melihat ke arah ponselnya, ia melihat banyak pesan dan p
HAPPY READING***Richad melirik Anja yang berada di sampingnya, wanita itu hanya diam, ia tidak tahu apa yang terjadi antara Anja dan William. Tangan kirinya menghidupkan audio mobil, sambil memanuver, ia memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya.“Kamu belum cerita apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan William,” ucap Richad.Anja hanya diam, bagaimana mungkin ia bisa menceritakan kisah ini dengan Richad, sedangkan apa yang terlah ia lakukan adalah hal yang paling gila di muka bumi ini, ia sudah tidur dengan pria itu berulang kali tanpa status apapun.Richad menunggu beberapa detik, hingga Anja menceritakan apa yang telah terjadi, namun wanita itu memilih bungkam,“Kamu langsung mau pulang?” Tanya Richad, sepertinya Anja belum mau cerita kepadanya.“Iya, langsung pulang saja,” ucap Anja.Richad menatap Anja, ia tahu kalau ia harus menghargai privasi Anja, ia tidak bertanya lagi apa yang telah terjadi. Sepanjang perjalan mereka mendengarkan lagu dari audio mobil. Hingga
HAPPY READING***“Saya tidak suka kamu bersamanya.”Anja terdiam beberapa detik mencerna kata-kata Willi, “Kamu bukan apa-apa saya, dan kamu tidak berhak menghalangi saya untuk pergi dengan siapa saja!” Ucap Anja, kali ini ia tidak bisa mengontrol emosinya.Wajah Willi merah padam, ia semakin mendekati Anja, otomatis tubuh Anja mundur ke belakang,“Kamu itu milik saya, saya tidak suka kamu pergi dengan pria lain, selain saya. Paham kamu!” Ucap Willi menahan geram.“Apapun status kamu dengan pria itu, saya tidak suka suka kamu bersamanya!”Anja mendongakan wajahnya, menatap William dengan berani, ia memandang iris mata itu,“Kamu pikir kamu siapa hah!” Ucap Anja lepas control, ia tidak suka diperlakukan semena-mena seperti ini.“Kamu milik saya paham! Saya tidak mau ada laki-laki lain bersama kamu selain saya!”“Ingat saya bukan milik kamu. Sejak awal kita tidak memiliki hubungan apa-apa.”“Apa pantas wanita yang saya tiduri tiap hari lalu, dia bersama pria lain. Kamu ini apa sebenar
Happy Reading***Willi melangkah masuk ke Grand Ballroom bersama Livy, tangan wanita berada di lengannya. Di hadapanya ada keluarganya dan keluarga Livy yang lebih dulu masuk. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru area ballroom, ballroom di sulap menjadi pesta yang mewah. Dekorasi yang indah, ia meneruskan langkahnya.Banyak orang yang berlalu lalang di sana, ada beberapa orang yang ia kenal dan menyapanya. Ia memandang kedua orang taunya sudah duduk di kursi bersama tamu lainnya. Langkah Willi terhenti fokusnya pada seorang wanita yang sedang buduk di salah satu table, dia mengenakan dress berwana hitam, dia tidak sendiri melainkan bersama seorang pria di sana, mereka sepertinya tampak asyik sedang berbicara. Wajahnya merah padam melihat keakraban mereka. Pikirannya berkecamuk, kenapa Anja bisa berada di sini? Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?Willi tahu jika pria sudah berani mendekat, dan mengajak ke pesta itu tandanya pria itu menaruh hati kepada wanita itu. Richad t
HAPPY READING***“Kamu cantik sekali,” ucap Richad.“Terima kasih,” ucap Anja.“Sudah siap?”Anja tersenyum dan mengangguk, “Iya, sudah.”Richad dan Anja masuk ke dalam mobil, dan setelah itu mobil meninggalkan area lobby kost. Richad memanuver mobilnya, ia memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya. Sementara tangan kirinya menghidupkan audio.“Acaranya di mana?” Tanya Anja.“Di InterContinental Pondok Indah.”“Siapa yang nikah? Teman kamu?” Tanya Anja penasaran.“Teman rekan bisnis ayah saya, dia pemilik Lipo Grup, anaknya yang menikah.”Ia sekarang tahu siapa yang menikah. Siapa yang tidak kenal dengan Lipo Grup salah satu perusahaan besar di Indonesia yang didirikan oleh keluarga Wijaya, bisnisnya diberbagai bidang, perbankan, property, telekomunikasi hingga medis. Setidaknya dia memiliki 15 jenis perusahaan. Dia salah satu konglomerat di negri ini.“Pasti meriah banget.”“Sepertinya begitu,” ucap Richad.Richad melirik Anja, “Bagaimana menurut kamu dengan pernikahan mewa
HAPPY READING***Anja mendekati Willi, pria itu lalu meraih jemarinya dan dia selipkan ke jemari-jemari tangannya,“Ini untuk keperluan kamu.”Anja memnatap Willi beberapa detik, ia memang sudah pantas menjadi sugar baby nya Willi jika seperti ini. Perasanya saat ini mixed feeling, ia tahu kalau Willi pria matang, ketika mendengar dari dia menceritakan tentang keluarganya saja itu menunjukan kalau dia berasal dari keluarga harmonis, ikatan keluarga sangat dekat, lingkungan yang baik, dia memiliki privilege, dan yang penting tahu bagaimana memperlakukan wanita agar nyaman dan tetap bersamanya dengan segala yang dia miliki. Sebenarnya ia sama saja dengan gadis biasa yang didekati Willi, bedanya hanya ia harus menjaga hati dan kuat mental, ketika dia bercerita tentang wanita yang dijodohkankan dengannya. Hubungan ini hanya sekedar relasi, dan tidak akan pernah berlanjut ke jenjang pernikahan.Willi memberinya finansial, dan ia juga mendapatkan mentorship yang baik. Fair enough, kalau di