LOGINFate has a way of changing everything… Losing his father as a little boy, and his mother, as a teenager, pushed Darius King to grow up quite fast and with a thirst for revenge that drove him to crash every obstacle on his path in order to achieve his goal. Darius goes from a homeless boy to a billionaire bachelor. He has no time for love in his quest for righting wrongs of the past. What he doesn’t know is that love isn't something he can hide from. After losing her mother at a very young age, Alannah grew up with a monster of a father. He punishes her for sins he assumes his deceased wife made against him. Finally, her father does a business deal with Darius King, selling Alannah to the highest bidder.
View MoreTangan Becca gemetar. Mengapa ini bisa terjadi? Mimpi buruk apa ia semalam?
"Becca! Apa yang telah kamu lakukan?!" teriak Pak Rohan, Manajer Galery, dengan suara lantang.
Becca terdiam mematung, menatap nanar sebuah kalung berlian dengan desain yang indah. Kalung berlian seharga ratusan juta rupiah bisa putus di tangannya. Ia memang tidak sengaja menjatuhkan kalung itu saat akan memasukkannya ke dalam kotak perhiasan yang akan dikirimkan kepada pemesannya. Saat Becca akan mengambil kalung itu, talinya malah menyangkut di handle etalase dan Becca yang tidak berpikir panjang malah menarik kalung itu.
Dan ... terjadilah sudah. Kalung berlian yang indah putus menjadi dua.
"Becca!" teriak Pak Rohan semakin keras, memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Memang saat itu galery dalam keadaan sepi. Hari masih pagi sehingga belum ada pengunjung yang datang.
Teman-teman kerja Becca tidak berani bersuara ataupun bergerak, semua takut menghadapi apa yang terjadi. Kalung berlian itu adalah pesanan khusus Tuan Arga Armando, pemilik Jewelry Gallery ini, untuk tunangannya, Sarah Sanjaya.
Dengan ketakutan yang tak dapat disembunyikan, Becca memberanikan diri mendongakkan kepalanya ke arah Pak Rohan dengan wajah ketakutan.
"Ikut saya ke kantor!" perintah Pak Rohan dengan galak, menatap lurus mata Becca.Becca membawa kalung berlian itu di genggaman tangannya. Dengan lunglai ia mengikuti Pak Rohan menuju ruang kantornya.Becca tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Sudah pasti ia akan dipecat, tapi masalah beratnya adalah ia harus mengganti sebuah kalung berlian seharga ratusan juta rupiah. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Becca adalah seorang anak yatim piatu. Sejak kecil ia sudah tinggal di sebuah panti asuhan di pinggir kota. Yang ia tahu, keluarganya adalah pengasuh dan sesama penghuni panti asuhan.
Becca terkejut saat pintu ditutup oleh Pak Rohan. Becca hanya berdiri dengan lutut gemetar dan mulut yang terkatup. Ia harus mempertanggungjawabkan kecerobohannya dan kebodohannya.
"Becca, bencana apa yang kamu hadirkan di sini?" tanya Pak Rohan yang kini terlihat kecewa.
"Maafkan saya, Pak Rohan." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Becca.
"Kau tahu ... Kalung itu milik siapa?" tanya Pak Rohan dengan suara rendahnya.
"Iya Pak, kalung ini milik tunangan Tuan Arga, pemilik Jewelry Gallery ini," jawab Becca lirih.
Becca meletakkan kalung berlian itu di meja Pak Rohan. Tangan Becca gemetar, keringat dingin keluar di dahinya saat memandangi kalung indah yang sudah rusak.
"Nah ... kau tahu? Lalu kenapa kamu tidak berhati-hati? Biasanya kau tidak seperti ini," kata Pak Rohan bingung, menuntut jawaban.
"Saya sendiri tidak tahu, Pak. Saya bersalah karena tidak berhati-hati. Lalu apa yang akan terjadi pada saya?" tanya Becca takut.
"Kalung ini sudah cacat, tidak bisa disambung begitu saja. Yang ada, kalung ini akan dilebur dan harus dibuat ulang kembali. Saya tidak bisa memutuskan hukumanmu, Becca. Saya harus melapor dulu pada Pak Yandi," ucap Pak Rohan.
Pak Yandi adalah tangan kanan Tuan Arga. Yang semua pegawai tahu, Pak Yandi lebih galak dari Tuan Arga. Mungkin saja karena banyak tanggung jawab yang harus dipikul Pak Yandi. Tuan Arga memiliki kerajaan bisnis yang besar. Jewelry Gallery tempat Becca bekerja ini hanyalah salah satu lini bisnis milik Tuan Arga Armando.
"Lalu saya sekarang harus bagaimana, Pak Rohan?" Becca hanya bisa pasrah. Ia tahu ia memang bersalah.
"Hem ... Kamu tunggu di ruang karyawan dulu saja. Tenangkan pikiranmu dan siapkan dirimu menerima semua konsekuensi dari kesalahan yang telah kamu perbuat. Saya akan menelpon Pak Yandi dulu. Saya janji akan membantu kamu sebisa mungkin." Pak Rohan memang manajer yang mengayomi bawahannya.
"Baik, Pak Rohan. Terima kasih untuk semua bantuannya," kata Becca tulus. Ia memang sangat menyukai atasannya, sangat baik di matanya dan seperti ayah yang tidak pernah Becca miliki.
Keluar dari ruang kantor Pak Rohan, Becca berjalan lesu ke ruang karyawan yang ada di belakang galery. Ruang karyawan ini sepi, jelas saja karena teman-teman kerjanya sedang berada di depan, melayani pengunjung yang datang.
Becca memandangi ruang karyawan yang nyaman ini. Ruang yang luas dengan meja dan kursi untuk para karyawan beristirahat atau untuk makan siang saat jam istirahat mereka.
Terduduk lemas di kursi, air mata Becca akhirnya jatuh juga ke pipi, ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Sedih dan kecewa pada kebodohannya sendiri.
Sedari kecil mengapa nasibku selalu tidak beruntung? Saat mulai bisa mandiri, meninggalkan panti asuhan yang adalah rumahku, mengapa kejadian seperti ini bisa menimpaku?
Becca hanya bisa menyesal dan menyesal. Ia memang masih muda, usianya baru 20 tahun. Sejak bayi, ia sudah tinggal di panti asuhan. Namun nasibnya mulai berubah saat ia mendapatkan pekerjaan di Jewelry Gallery yang eksklusif ini.
Gaji yang diterima Becca lebih dari cukup untuk biaya hidupnya. Ia bisa hidup mandiri, tidak tinggal lagi di panti. Becca baru menjalaninya 5 bulan ini. Dan kini bencana datang padanya.
Terdengar suara langkah kaki dan sebuah tangan mengelus punggungnya.
"Becca, sudahlah. Aku yakin Tuan Arga orang yang baik dan Pak Rohan pasti membantumu," kata Mila menghibur Becca.
Mila adalah sahabat Becca sekaligus rekan kerjanya. Bahkan kos Becca dan Mila bersebelahan.
"Makasih, Mila. Tapi kamu jangan lama-lama di sini, nanti dimarahi Pak Rohan." Becca berusaha tegar dihadapan sahabatnya ini, walaupun pikirannya kacau.
"Iya, Bec. Tapi kamu jangan terlalu memikirkannya, aku yakin semua pasti ada jalan keluarnya. Aku selalu ada di sini untuk membantumu," ucap Mila tulus.
"Sekali lagi makasih, Mila. Kamu memang sahabat terbaikku," kata Becca sambil memeluk Mila.
Setelah kepergian Mila, Becca kembali termenung. Kepalanya berdenyut memikirkan nasib apa yang akan diterimanya. Becca tahu, ia tidak memiliki apa-apa dan ia tidak bisa bersandar di pundak orang lain, tidak bisa meminta bantuan orang lain. Kini ia harus tegar menghadapi semuanya.
Sejak kecil dilatih untuk bisa hidup mandiri di panti asuhan, membuat Becca tegar dan kuat. Ya ... Ia adalah Rebecca Winata, gadis yang kuat walaupun usianya masih belia.
Becca memantapkan hati, ia harus kuat dan bertanggung jawab. Memejamkan matanya, Becca berdoa dalam hati, semoga ia kuat menghadapi semuanya.
-
-
-
Alannah looked up into Darius’s intense face, his features so familiar, so stunningly handsome. He was wearing his tux, looking even better than she remembered. Her breath hitched as her body reacted. She felt herself wanting to fall into his arms and stay there for eternity. Without giving her a chance to refuse him, Darius pulled her into his arms and started moving in a slow circle, his hands positioned on her hips, his fingers caressing the sensitive dent of her back. Goosebumps appeared on her skin as his breath whispered across her face and he looked into her eyes, his own filled with intensity. The room faded away until it became just the two of them, the sound of the music guiding them along. When he started singing the words of the song while still loo
“I’m sorry, Mom, but you let me down. You lied to me my entire life, preventing me from having a family who loves me, and you almost cost me everything. You did cost me years… many years of happiness. You used your hands as punishment, you cut me down, and still, I loved you. I tried my best to honor you. What I’ve come to realize in the last three months, is that you didn’t deserve my honor or respect. I won’t come back here again. What you did to me was unforgivable. I hope you’ve found happiness wherever you are… I truly do, but I’m done with your burdens.” Darius stood over Charlotte King’s grave, a solitary flower in his hand. He’d come to say goodbye. For the last three months, he’d slowly gotten to know the men he’d vowed to harm, the cousins he’d thought were so evil.&
Cam choked on her final words as tears welled in her eyes. Darius was horrified. She told him the truth… Alannah was really in love with him… But she couldn’t be, because she never would’ve betrayed him if she was.“Where is she, Camryn?”“You don’t need to go there and upset her all over again. I swear if you hurt her again, Darius, you’ll have to deal with me!” Cam threatened. Darius looked at the petite girl before him, not standing more than a couple of inches over five feet, weighing less than half of him, and he realized she actually thought she could harm him. The thought was so absurd it made him smile, which was apparently the wrong move on his part. He jumped when the heel of her shoe slammed down on his foot.&ldqu
“I poured my soul to him and he just… left. He abandoned me after I told him I loved him…” Alannah said, her voice quiet, her body almost numb. “After everything that happened to me, I thought loving Darius was a gift, the most beautiful experience of my life. Why does it hurt so bad? Why I can’t shake this sadness away? Why do people choose to do this over and over again? I don’t understand how they can bare it…” She hadn’t seen Darius in two weeks. The first week she’d cried so much she thought she might die of a broken heart. Her face was all puffy and her eyes were red. Finally, the tears had stopped and a deep sense of numbness had set in, thankfully. She didn’t smile, didn’t cry, she just sort of existed.“Oh, sweetie… I promise it will get better, Lanah… I know this answer sucks, but just give it some time. H
One week earlier Darius set the papers down on his desk and sat back. He was perplexed… Intrigued but perplexed. When he’d received the phone call yesterday, he’d thought it was a joke. A fat
Fifteen Years Later Alannah was exhausted… Like her body was going to be swallowed by the ground under her feet exhausted. Deeply, utterly, fall-on-her-face exhausted. She also had a feeling of pure acco
“Darius King…you must ALWAYS remember who you are! ALWAYS!” his mother wheezed before she fell back against her pillows, the words interrupted by her severe cough filling the room.“I will, Mother. I promise you I will. But please… You have to take your pill
Her eyes moved down his now completely naked torso and widened at the sight of his huge erection. Her look made him throb, need burning through him. Darius watched as her small fingers clenched at her sides, as if she was fighting the desire












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore