Jonathan menyuruh Magdalena untuk menemani ibunya. Atau kadang menyuruh tunangannya itu untuk datang ke kantornya. Itu Jonathan lakukan untuk mencegah Magdalena agar tidak berkunjung ke rumah Sally. Jonathan juga menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Magdalena dari hal-hal yang berhubungan dengan David.Seperti hari ini, Magdalena merasa kebingungan karena Jonathan menyuruhnya untuk datang ke kantor. Namun Jonathan meninggalkannya karena ada rapat direksi. Magdalena hanya duduk bosan di dalam ruang kerjanya Jonathan karena Rebecca juga mendampingi Jonathan dalam rapat tersebut. Karena bosan Magdalena menelpon Sally untuk menanyakan keadaan David. Selama dua hari ini ia tidak menghubungi Sally sama sekali ataupun mengunjungi rumahnya. "Halo, Bibi Sally."[Halo, Lena.]"Bi, bagaimana kabarnya David? Apakah dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya?" tanya Magdalena penuh dengan perhatian.[Dia anak yang baik, dia sudah bisa menyesuaikan diri. Tapi dua hari ini dia sering mel
Jonathan sendiri pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil. Ia akan menyusul Magdalena di Mendes Corp. Bagaimanapun David gadungan itu tidak dapat diremehkan. Ternyata ia sangat pintar memanfaatkan keadaan. Magdalena yang sudah dijaga secara ketat pun bisa lolos dari pengawasannya dan sekarang dalam bahaya."Cepat sedikit!" teriak Jonathan. Ia tidak bisa membayangkan jika David akan mencelakai Magdalena. Bayangan tentang Carlos yang ingin mencelakai Magdalena satu minggu yang lalu membuat Jonathan sangat khawatir."Baik, Tuan." jawab salah satu anak buah Jonathan yang mengendarai mobil Jeep yang saat ini membawa Jonathan untuk ke gedung Mendes Corporation berada.Sementara itu di dalam gedung Mendes Corp. Sally tidak menemukan keberadaan David dan Magdalena. Ia lalu bertanya kepada Marissa. "Marissa, di mana putra dan keponakanku berada? Bukankah tadi mereka ada di sini?""Maaf Nyonya, saya tidak melihat mereka pergi ke mana karena tadi saya sibuk mengerjakan tugas
Magdalena berdo'a semoga ada keajaiban yang menolong mereka bertiga. Bagaimanapun ia tidak bisa egois dengan melepaskan tangan David karena laki-laki itu sudah berusaha menyelamatkan nyawanya. 'Nathan, maafkan aku. Aku sangat ceroboh sehingga membiarkan diriku dalam bahaya dan menyebabkan orang lain juga dalam bahaya,' batin Magdalena. 'Nathan, aku akan selalu mencintaimu. Mungkin setelah ini kita tidak akan bisa bertemu selamanya.' Saat Magdalena sudah pasrah tiba-tiba saja tubuhnya yang perlahan meluncur ke bawah tertahan oleh sesuatu. Mata Magdalena yang tadinya terpejam. Perlahan terbuka dan melihat terang sinar matahari terhalang oleh sesuatu. Penghalang itu adalah Jonatan, laki-laki yang dicintainya sekaligus tunangannya. Wajah laki-laki itu merah karena menahan beban tiga orang yang berhasil di tahannya. "Nathan, akhirnya kau datang." "Magdalena!" "Aku di sini, Nathan," jawab Magdalena dengan perasaan haru. "Jangan pernah kau lepaskan tangan tunanganku," titah Jonatan kepada
Jonathan berdecih lalu turun dari dalam mobil. Ia menatap Sally dengan saksama."Kau harus mendapatkan ganjaran atas perbuatanmu." Mata Sally berkilat penuh amarah."Silakan, saya tidak takut." jawab Jonathan dingin."Kau sangat sombong, aku pastikan dirimu tidak bisa mengangkat wajah angkuhmu itu di hadapanku.""Maaf, Nyonya, Anda harus pergi dari sini. Dilarang membuat keributan." Beberapa anggota petugas keamanan datang untuk mengusir Sally.Jonathan pun tidak lagi mempedulikan Sally yang sedang meronta karena ingin mengejar Jonathan."Lepas, lepaskan, lepaskan aku!" Sally berusaha melepas kedua tangannya yang dipegangi."Aku akan melaporkan kalian dengan tuduhan pelecehan dan penganiayaan."Kedua petugas keamanan itu tidak bergeming. Mereka lebih takut terhadap Jonathan dibandingkan Sally.Salah satu petugas keamanan membuka pintu mobilnya Sally lalu mereka bertiga berusaha memaksa Sally untuk masuk ke dalam mobilnya."Berengsek, aku tidak mau. Biarkan aku keluar!""Anda dilarang m
Magdalena beringsut mundur setelah melihat kedua orang asing yang menodongkan pistol padanya ia sudah pasrah ketika salah satu dari mereka mulai menarik pelatuk pistol yang mengarah padanya."Tidak semudah itu bodoh," tiba-tiba saja ada dua laki-laki paruh baya yang bertubuh Jangkung berdiri menjulang di hadapan Magdalena."Dasar amatir."DOR, DOR!Kedua laki-laki yang ingin menembak Magdalena langsung terkapar di lantai dasar dalam keadaan tidak bernyawa."Kau baik-baik saja?" tanya Rocky ternyata kedua orang yang melindungi Magdalena itu adalah Rocky dan Steve. Mereka diminta datang secara khusus oleh Jonathan untuk melindungi Magdalena karena Jonathan takut keselamatan nyawa tunangannya itu. Ia juga takut dengan ancaman dari Abraham Morris yang mengatakan jika Magdalena terluka sedikit saja laki-laki itu akan membatalkan pertunangan mereka. Karena itu Jonathan hanya bisa mempercayai Steve dan Rocky yang mempunyai pengalaman dan skill khusus dalam melindungi seseorang. Mereka berdua
Tembakan Martin meleset karena Jack menembak kaki kanannya Martin."S-siapa, siapa yang berani menembakku!" Martin membalikkan tubuhnya lalu menatap nyalang orang-orang yang berada di hadapannya.Sosok pemuda yang mempunyai postur tinggi sedang tersenyum menyeringai sambil meniup ujung pistolnya."Siapa kau!" hardik Martin."Jack, Jack Castro. Orang kepercayaan dari Tuan Jonathan Smith."DOR! DOR!Dua orang pengawalnya Martin ditembak tepat di kepalanya oleh Jack. Jack menembak tepat di titik vital.DOR!Jack menembak lantai yang dipijak oleh Martin. "Berlutut," pemuda itu menyunggingkan senyum sinisnya.Martin yang sedang merasakan sakit di betisnya, langsung menuruti titah dari Jack.Sedangkan itu, Jonathan dengan mudah memanjat besi pembatas di atap gedung lalu meloncat ke hadapannya Martin."Dasar Bodoh," Jonathan menendang tubuh Martin lalu menginjak kepalanya. "Kau ingin membunuhku karena kesalahan ayahmu?""K-kau.""Apa?""Bunuh aku." pinta Martin. Ia sadar tidak ada kesempatan
Denis merasa menemukan jalan untuk selamat setelah mendengar suara Sally yang sedang mencarinya. Ia ingin bertaruh agar nyawanya bisa selamat. Matteo menatap Jonathan, seakan meminta pendapatnya.Jonathan memberi tanda pada Matteo untuk membuka pintu."Matteo, apa yang sedang terjadi di dalam sini?" Sally mengamati seluruh ruangan kerjanya Matteo. Wanita itu terbelalak saat melihat keberadaan Jonathan."Kau, apa yang kau lakukan di sini?!" Sally melotot melihat keberadaan Jonathan di ruang kerja suaminya. Pertemuan terakhir mereka meninggalkan memori buruk di benak Sally. Jonathan begitu angkuh menghinanya. Padahal status Sally adalah bibi dari tunangannya.Jonathan tidak bergeming mendengar pertanyaan Sally. Laki-laki itu tersenyum sinis."Matteo, kenapa dia berada di sini?" Sally tidak tahan karena tidak ada jawaban dari Jonathan maupun Matteo.DHUAGH! DHUAGH! DHUAGH!Suara gaduh berasal dari balik rak bukunya Matteo."Kalian nenyembunyikan sesuatu?" Sally ingin mendekati rak buku.
"Aku memanggilmu ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, Smith." ucap Abraham kepada Jonathan di suatu siang di kantor pemerintahan."Ada apa, Tuan?""Kau tahu jika masa jabatanku akan segera berakhir?""Ya, satu tahun mendatang jabatan Anda akan berakhir. Apakah Anda berencana ingin mencalonkan diri lagi? Saya bersedia membantu menjadi tim sukses Anda. Saya akan mendanai biaya kampanye Anda. Ataupun bantuan lainnya, saya bersedia menanggungnya." jawab Jonathan tanpa ragu.Abraham tersenyum, ia cukup puas dengan jawaban Jonathan yang tidak segan-segan untuk membantunya. Dari sini Abraham menilai jika Jonathan benar-benar sangat menyayangi Magdalena."Aku sudah tua, aku sudah tidak ingin sibuk lagi di dalam sebuah kantor pemerintahan.""Lalu maksud Anda membahas masalah pemilihan umum tahun depan. Apa kaitannya dengan saya?"Abraham berdiri dari kursi kerjanya lalu menatap dinding kaca ruang kerjanya. "Aku sangat menyayangi Magdalena. Apa pun itu, aku akan memberikan
“K-kenapa kau ada di sini?” Maria mundur beberapa langkah. Ia tidak mengira jika bukan Magdalena yang berada di dalam karung. Melainkan Jonathan Smith. Orang yang sangat dicintai dan sekaligus dibenci oleh Maria.“Karena saya ingin melihat orang yang mencoba mengganggu hidup saya, Maria.” Jonathan melepas wig yang diambil dari toko di mana Magdalena diculik.Ide menyamar menjadi Magdalena itu datang secara tiba-tiba. Saat Jonathan melihat seseorang membuntuti Magdalena lalu ikut masuk ke ruang ganti. Awalnya Jonathan ingin menghajar laki-laki yang berusaha menculik Magdalena. Tapi kemudian Jonathan mempunyai ide untuk berpura-pura menjadi Magdalena agar bisa mengetahui siapa dalang dibalik rencana penculikan Magdalena.Setelah menemukan karung yang berisikan Magdalena. Jonathan menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Magdalena. Ia lalu mengambil sebuah wig berwarna pirang yang mirip dengan rambut Magdalena. Dengan bantuan anak buahnya, Jonathan masuk ke dalam karung lalu diikat seper
Jonathan waspada, ternyata ada seseorang yang sedang mengawasi Magdalena. Seseorang itu masuk ke ruang ganti. Jonathan sangat marah tapi ia menahan amarahnya demi senuah rencana yang sedang di susunnya.Jonathan mengambil sebuah wig lalu memanggil beberapa anak buahnya.Sementara itu di dalam ruang ganti, Magdalena terkejut di saat akan membuka kancing bajunya ada laki-laki yang masuk ke ruang di mana ia berada. “Siapa kau?”Laki-laki itu diam, tidak menjawab lalu membekap mulut Magdalena menggunakan sapu tangan.Magdalena meronta sebentar lalu pingsan. Laki-laki itu tersenyum karena sudah berhasil melumpuhkan korban. Ia kemudian mengambil sebuah karung lalu memasukkan Magdalena ke dalamnya. Selesai mengikat ujung karung, laki-laki itu keluar dari ruang ganti tanpa sepengetahuan pelayan toko.Lily yang melihat laki-laki itu berhasil membawa pergi Magdalena, langsung buru-buru meninggalkan toko. Ia berjanji akan neninggalkan negara Azdania agar Adam selamat dari intimidasi Jonathan dan
“Adam, hubungi anak buah kita untuk segera ke mansion Moris atau mencari keberadaan Magdalena.”Walaupun Adam bingung dengan maksud dari perintah Jonathan. Ia tidak banyak bertanya dan langsung melaksanakan apa yang Jonathan minta. Sudah berkali-kali Jonathan bereaksi seperti ini dan memang ada kejadian genting yang sedang terjadi.Jonathan berlari keluar ruangan diikuti oleh Adam.“Nona Rodriguez, ubah skedul jadwal pekerjaan saya hari ini. Ada kepentingan mendadak yang harus saya tangani bersama Adam.”“Baik, Pak.” Rebecca juga tidak banyak bertanya. Ia pun juga sudah hafal dengan gerak-gerik Jonathan yang sedang tertimpa masalah.Selesai memberi perintah kepada Rebecca, Jonathan masuk ke dalam lift bersama Adam. Ia menghubungi nomor ponsel Abraham. Tapi sayang ponsel Abraham tidak aktif. Jonathan menebak jika calon mertuanya itu sedang berada di kantor pemerintahan karena saat ini adalah jam kantor.“Sial,” desis Jonathan.“Halo, apakah Nona Moris tidak ada di mansionnya?” Jonathan
“Nona Moris,” Lily menyapa Magdalena.“Kau pasti kekasihnya Adam. Lily, kan, namamu?” tebak Magdalena.“Benar Nona.”“Ayo masuk.” Magdalena menarik tangan Lily. Namun ia berhenti setelah mengingat Adam.“Adam, aku bawa Lily ke dalam. Nanti jam lima sore kau bisa menjemputnya.”“Baik, Nona.”“Lily cantik, pantas kau memilihnya.” bisik Magdalena.Adam hanya tersenyum sambil menggaruk rambutnya.“Sudah, sana pergi. Nathan pasti sudah menunggumu di kantor.”“Baik, Nona.” Adam melambaikan tangan kepada Lily sebelum pergi ke kantor Smith Corp.***“Bagaimana? Kau sudah mengantarkan kekasihmu ke rumah Lena?” tanya Jonathan yang baru saja tiba di kantor.“Sesuai perintah dari Tuan.”“Bagus.”“Tuan tidak bertanya, bagaimana reaksi Nona Moris saat bertemu Lily?” Adam kesal karena Jonathan tidak mencari tahu reaksi tunangannya saat Adam membawa Lily.Jonathan tersenyum tipis, “Dia pasti sangat senang. Senyumnya sangat lebar dan dia tak henti-hentinya bersenandung.”Adam mengernyit, “Tanpa bertemu
“Tuan Adam.” Lily kaget melihat kedatangan Adam yang tiba-tiba.“Boleh, aku masuk?”Lily mempersilakan Adam masuk. “Tuan, ada apa?” Lily takut jika ibunya Adam akan marah jika Adam kembali berhubungan intens dengannya.“Lily, jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja Adam.” Sebenarnya Adam rindu, tapi ia menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu karena takut jika Lily akan marah.“Tuan, saya tidak ingin melanggar apa yang sudah saya ucapkan kepada ibu Anda.”Adam menghela napas, sungguh sulit meluluhkan hati Lily semenjak ibunya dengan keras memberi peringatan kepada gadis itu agar menjauhi dirinya.“Tuan Smith ingin meminta bantuanmu.” Adam berharap dengan membawa nama Jonathan, Lily akan memperlakukannya sedikit hangat.“Tuan Smith?” Lily kaget karena Jonathan yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu tiba-tiba ingin meminta bantuannya.“Boleh aku duduk?” tanya Adam.“Oh, silakan duduk.” Lily lupa mempersilakan Adam untuk duduk.“Terima kasih,” Adam duduk. Namun ia merasa tidak ena
Maria ingin menghubungi orang yang bisa menolongnya dari jeratan Ronald. Namun sayang ponselnya saat ini sedang mati karena baterainya kosong.“Ayolah Nona Soriano. Kau tidak bisa mengelak dari kemauanku.” Ronald tetap saja menarik Maria hingga masuk ke dalam mobilnya. Saat ini kemarahannya harus dilampiaskan. Apalagi Maria adalah partnernya untuk menghancurkan Jonathan Smith. Tentu saja keadaan hatinya yang sedang marah harus ia bagi adil dengan Maria.‘Sialan,’ Maria mengumpat dalam hatinya. Dalam keadaan setengah tidak sadar ia bersumpah akan menghancurkan Ronald. Ia juga tidak peduli jika laki-laki itu juga mempunyai misi yang sama untuk menghancurkan Jonathan.***“Ada apa? Kenapa sudah hampir seminggu ini kau di rumah dan tidak kemana-mana?” tanya Abraham kepada Magdalena.“Aku hanya ingin beristirahat, Pa. Sebelumnya aku sempat kelelahan dan badanku sedikit terasa pegal-pegal.” dusta Magdalena yang tidak ingin memberitahukan larangan Jonathan padanya.“Jangan berbohong, Lena. Pa
“Sialan, brengsek! Dia telah menghinaku,” umpat Ronald yang saat ini telah sampai di hotel yang ditempatinya. Ia mengamuk, mengobrak-abrik isi seluruh kamar hotel yang ditempatinya.“Tenanglah, Tuan.” ucap Alex, asisten pribadinya Ronald.“Tenang katamu?” Ronald langsung menarik kerah bajunya Alex. “Kau tidak melihat bagaimana wajah si keparat itu ketika menghinaku? Penolakannya sungguh sangat membuat wibawaku turun. Kau tahu, selama ini tidak ada satu pun orang yang pernah memandangku dengan sebelah mata. Namun si Jonathan Smith itu berani-beraninya merendahkanku di pertemuan pertama kami.”“Tenanglah, bukankah sebelumnya Nona Soriano sudah memperingatkan Anda akan kelebihan dari Tuan Smith?”“Sialan,” Ronald melempar tubuh Alex ke dinding. “Aargh,” Alex mengerang.“Kau memujinya?”“Saya hanya mengingatkan Anda, Tuan. Tentu saja saya ingin kebaikan di pihak Tuan. Saya bekerja untuk Tuan.” ucap Alex ketakutan.“Ke mana perginya wanita itu?” Ronald menanyakan keberadaan Maria.“Sepert
“Tuan Smith,” Ronald langsung menyambut kedatangan Jonathan yang baru saja keluar dari lift.“Silakan masuk,” ucap Jonathan dingin.“Nona Rodriguez, sediakan dua minuman dingin untuk kami.”“Baik, Tuan.” Rebecca langsung menuju ke pantry untuk membuatkan minuman yang diminta oleh Jonathan.Sedangkan itu Adam langsung mengikuti langkah dari Jonathan dan Ronald. Ia sudah merasa jika ada hal yang tidak beres dengan sikap Jonathan. Maka dari itu ia tidak mau meninggalkan Jonathan sendirian untuk berhadapan dengan Ronald. Adam takut jika emosi Jonathan tidak stabil dalam menghadapi musuh bisnisnya. Walaupun Jonathan belum mengatakan jika Ronald adalah musuhnya. Namun Adam bisa merasakan aura buruk yang dipancarkan oleh Jonathan terkait dengan kedatangan Ronald Robinson.“Tuan, silakan diminum.” Rebecca datang dengan membawa dua gelas cocktail dingin untuk Jonathan dan Ronald.“Terima kasih, Nona Rodriguez.” ucap Jonathan.“Terima kasih, Nona manis.” Ronald mengucapkannya dengan nada yang se
"Pantas saja Jonathan Smith sangat setia, putri Abraham Smith sangatlah cantik." puji Ronald saat menatap photo Magdalena di berita online."Ck," Maria berdecak kesal."Akui saja, Nona Soriano. Kalau pesonamu tidak bisa mengungguli Magdalena Morris. Kau tidak akan patah hati sehingga ditolak oleh Jonathan Smith." cibir Ronald."Cukup sudah aku mendengarkan ocehanmu. Sekarang apa rencana kita untuk menghancurkan Jonathan Smith?""Aku harus bertemu dulu dengan laki-laki itu sambil menunggu orang-orangku yang menyelinap untuk mencari informasi penting di Smith Corporation.""Heh," Maria kecewa. "Lalu kenapa kau mengajakku bertemu?" Maria berkacak pinggang."Sebagai tuan rumah, harusnya kau menjamu tamu penting sepertiku." Ronald mendekati Maria sambil mengelus pipinya."Lupakan itu, aku tidak akan menjual tubuhku." Maria ingin meninggalkan kamar hotel tempat pertemuannya dengan Ronald. Namun kedua penjaganya Ronald menghalangi kepergian Maria."Apa maksudnya ini?""Jangan berpura-pura bod