"Berhenti!" teriak seorang gadis yang turun dari mobil mewah merk mahal edisi terbatas, Maybach. Berpakaian rapi, terlihat elegan dan sangat cantik. Dilindungi beberapa pengawal berjas hitam. Gadis itu menghampiri Jonathan yang hampir saja diinjak oleh pemuda yang berdiri di atasnya. "Pengawal, seret dia!" gadis itu memerintahkan pengawalnya untuk menyeret pemuda sombong nan arogan yang berusaha melukai Jonathan. "Hei, siapa kalian?" Ketua geng itu tidak terima karena ada orang yang mengganggu kesenangannya."Beri pelajaran, jangan berhenti sebelum dia pingsan." titah gadis cantik itu."Baik, Nona!" segerombolan laki-laki berjas hitam membungkuk lalu pergi dengan membawa pemuda yang telah mengganggu Jonathan tadi. "Lepaskan, lepas! Aku tidak kenal kalian, kenapa kalian menggangguku!" teriak ketua geng itu."Sayang," kekasih pemuda itu berlari mengikuti kekasihnya yang sedang diseret."Semuanya, bantu kekasihku!" jerit gadis itu memohon teman-temannya agar berbuat sesuatu.Namun angg
Mata, Maria tak berkedip melihat Jonathan. Penampilan terbarunya membuatnya terlihat sangat tampan. Memakai pakaian sederhana saja, ia sudah terpesona, apalagi sekarang yang memakai pakaian mahal dan bermerk. Hanya tinggal merapikan rambutnya di salon, Jonathan benar-benar tidak terlihat dari status sosial kelas rendah. "Maria," panggil Jonathan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah gadis itu. "Eh … sudah selesai," pertanyaan konyol yang jawabannya pasti sudah, karena sejak tadi Maria memandang Jonathan tanpa berkedip. "Iya, aku sudah selesai." jawab Jonathan datar. "Ayo," tanpa canggung Maria menarik lengan Jonathan lalu memeluknya.Sebenarnya Jonathan merasa risih. Ia tidak suka berdekatan dengan seorang gadis atau perempuan lajang lainnya. Namun demi kalung perak peninggalan mendiang ayahnya. Ia rela mengikuti keinginan Maria yang menurutnya membuang-buang waktu saja. Padahal ia bisa menggunakan waktu itu untuk belajar dan merawat ibunya yang sedang sakit. "Kita nonton ke
"Dor!" Suara desingan peluru dan pedang panjang, memekakkan telinga. Para pengawal Maria membentengi Maria dan Jonathan. Mereka mengeksekusi keduanya dengan menundukkan badan sambil berjalan untuk berusaha menyelamatkan diri. Namun karena jumlah yang jomplang. Dalam hitungan menit diserang secara mendadak. Membuat para pengawalnya Maria kalang kabut. Satu demi satu, gugur, tewas di tempat. Kini tinggal dua orang pengawal yang tersisa. Sebagian dari mereka sudah berguguran di trotoar taman. Ada yang bersimbah darah karena sabetan pedang, ada juga yang kepalanya tertembus oleh timah peluru. "Nona Muda, dalam hitungan ketiga. Anda dan teman Anda berlarilah dan masuk ke dalam mobil. Biar kami berdua yang menghalangi gerak mereka untuk sementara." "Tidak, Yale, aku tidak akan meninggalkanmu." tolak Maria. Sepertinya Maria sangat menyayangi pengawalnya yang satu ini. "Kalau kita tetap bersama, cepat atau lambat, kita akan diringkus oleh mereka. Dan selanjutnya, Anda pasti paham, apa ya
Keduanya didorong masuk ke ruangan yang berbeda untuk segera di operasi. Proses operasi tersebut, memakan waktu setengah hari. Tim bedah bisa menyelamatkan nyawa mereka berdua. Keduanya datang tepat waktu di rumah sakit. Andai beberapa menit terlambat, nyawa mereka sudah melayang. "Sejak itu kami menjadi dekat, tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman baik saja, tidak lebih." Jonathan berusaha menjelaskannya kepada Magdalena."Tapi dia, sepertinya sangat menyukaimu, dari tatapan matanya aku bisa melihatnya." protes Magdalena. "Aku tidak bisa menghalangi seseorang untuk menyukaiku, Lena. Kita tidak bisa mengontrol hati orang lain, bukan?" Jonathan mengambil tisu lalu mengelap bibirnya. "Apalagi?" Jonathan mengernyit setelah melihat wajah Magdalena yang masih terlihat murung. "Sepertinya dia lebih cocok bersanding denganmu daripada aku." cicit Magdalena.Jonathan terdiam lalu menatap gadis yang sedang menunduk di depannya. Hari ini Magdalena sepertinya sedang menguji kesabarannya.
"Nona Morris." host pembawa acara menyebut nama Magdalena setelah papan lelang diangkat oleh tunangannya Jonathan itu. Jonathan menoleh kepada Magdalena, melihat papan itu bertuliskan dua setengah juta. Ia menaikkan alisnya yang dibalas senyum manis gadis itu. Jonathan hanya membetulkan dasinya, berdeham lalu pandangannya kembali fokus ke depan. "Ada yang bisa lebih dari dua setengah juta dolar?" Host pembawa acara melihat hadirin di depannya. "Dua juta setengah dolar, satu. Dua setengah juta dolar, dua. Dua juta setengah dolar, tiga. Host tersebut berhenti beberapa detik lalu mengangkat palu, ingin mengetukkan alat tersebut sebagai tanda deal harga lelang. Namun, tangannya terhenti ketika papan lelang diujung terangkat ke atas dengan nominal dua kaki lipat.
"Dengar, Aku tidak ada urusan denganmu. Dan dia, bukan urusanmu. Jangan sekali-kali menatapnya tanpa sepengetahuanku. Atau aku akan mencongkel kedua matamu." ancam Jonathan. "Wow … takut?" goda Carlos dengan senyum mengejeknya. "Bagaimana kalau kita bertukar wanita, aku mendapatkan tunanganmu dan kau mendapatkan adikku." bisik Carlos. "Kau …!" bentak Jonathan yang suaranya mengagetkan Magdalena. "Nathan," panggil Magdalena yang ketakutan, tubuhnya bergetar melihat untuk yang pertama kalinya kemarahan Jonathan di hadapannya. Jonathan menahan diri, hampir ia menerjang tubuh Carlos dan menghajarnya. Tapi saat ini ada Magdalena di sisinya. Jonathan masih memikirkan psikis gadis itu jika melihat pertumpahan darah secara langsung. "Aku tidak tertarik dengan adikmu," Jonathan merapikan jas mahalnya lalu menggiring Magdalena agar segera meninggalkan tempat itu. "Kau berhutang banyak padanya." teriak Carlos. "Aku sudah lunas membayarnya. Tidak ada hutang apapun antara aku dan dia." Jona
"Adam, ayo kita ke sana!" ajak Jonathan."Tuan, tunggu dulu, kita harus menggunakan kepala dingin untuk menghadapinya. Tidak boleh gegabah. Atau kita akan masuk ke dalam perangkapnya." Sejenak Jonathan terdiam lalu mengatur pernapasannya."Kau benar Adam, kita harus hati-hati dalam melangkah. Mereka sengaja memancing amarah kita.""Tuan, Anda tidak ingin bertemu dengan … Nona Soriano?" tanya Adam hati-hati."Untuk apa?""Mungkin dengan bertemu denganya ….""Bullshit, jangan Kau pikir saya akan menggunakan perasaan gadis itu demi kelancaran bisnis kita, Adam.""Bukan begitu, Tuan. Akar masalah ini dari Kakaknya. Mungkin dengan menemui gadis itu, kita bisa mendapatkan informasi penting.""Saya tidak ingin menyakiti hati Magdalena. Dia tahu jika Maria menyukaiku, kau tahu itu? Seorang wanita, sangat sensitif jika berhubungan dengan wanita lain yang mempunyai rasa kepada kita.""Dia sempat menangis setelah tahu jika si berengsek Soriano menawarkan untuk bertukar wanita.""M-maksud Tuan, T
"Tuan Simon." panggil Ramos.Adam langsung berdiri, ia tidak ingin terperangkap lebih dalam. Namun ia berhenti ketika dari balik pintu muncul Carlos Soriano yang menggandeng seorang gadis cantik yang kelihatan sangat muda. Dengan make-up tebalnya terlihat terlalu dipaksakan."Halo Adam Simon, apa kabar?" sapa Carlos dengan senyum liciknya."H-halo, Tuan Soriano." Adam sedang berjuang melawan efek obat perangsang yang mulai menjalarinya."Butuh hiburan?" Carlos menaikkan sebelah alisnya lalu mendorong gadis yang merangkul lengannya itu kepada Adam."Dia masih perawan, Kau tidak akan rugi, Adam." ucap Carlos yang sengaja mencoba merobohkan pertahanan Adam."Tidak perlu, Tuan, saya bisa mengatasinya." tolak Adam."Oh begitu?" tantang Carlos. "Kalau begitu … ia memberi tanda kepada anak buahnya untuk menutup pintu. Ramos dan wanita-wanita malam penghibur, bergegas keluar setelah mendapat kode dari Carlos."Aku tinggalkan dia untukmu," Carlos menatap Adam dengan penuh kemenangan. "Bersenang
“K-kenapa kau ada di sini?” Maria mundur beberapa langkah. Ia tidak mengira jika bukan Magdalena yang berada di dalam karung. Melainkan Jonathan Smith. Orang yang sangat dicintai dan sekaligus dibenci oleh Maria.“Karena saya ingin melihat orang yang mencoba mengganggu hidup saya, Maria.” Jonathan melepas wig yang diambil dari toko di mana Magdalena diculik.Ide menyamar menjadi Magdalena itu datang secara tiba-tiba. Saat Jonathan melihat seseorang membuntuti Magdalena lalu ikut masuk ke ruang ganti. Awalnya Jonathan ingin menghajar laki-laki yang berusaha menculik Magdalena. Tapi kemudian Jonathan mempunyai ide untuk berpura-pura menjadi Magdalena agar bisa mengetahui siapa dalang dibalik rencana penculikan Magdalena.Setelah menemukan karung yang berisikan Magdalena. Jonathan menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Magdalena. Ia lalu mengambil sebuah wig berwarna pirang yang mirip dengan rambut Magdalena. Dengan bantuan anak buahnya, Jonathan masuk ke dalam karung lalu diikat seper
Jonathan waspada, ternyata ada seseorang yang sedang mengawasi Magdalena. Seseorang itu masuk ke ruang ganti. Jonathan sangat marah tapi ia menahan amarahnya demi senuah rencana yang sedang di susunnya.Jonathan mengambil sebuah wig lalu memanggil beberapa anak buahnya.Sementara itu di dalam ruang ganti, Magdalena terkejut di saat akan membuka kancing bajunya ada laki-laki yang masuk ke ruang di mana ia berada. “Siapa kau?”Laki-laki itu diam, tidak menjawab lalu membekap mulut Magdalena menggunakan sapu tangan.Magdalena meronta sebentar lalu pingsan. Laki-laki itu tersenyum karena sudah berhasil melumpuhkan korban. Ia kemudian mengambil sebuah karung lalu memasukkan Magdalena ke dalamnya. Selesai mengikat ujung karung, laki-laki itu keluar dari ruang ganti tanpa sepengetahuan pelayan toko.Lily yang melihat laki-laki itu berhasil membawa pergi Magdalena, langsung buru-buru meninggalkan toko. Ia berjanji akan neninggalkan negara Azdania agar Adam selamat dari intimidasi Jonathan dan
“Adam, hubungi anak buah kita untuk segera ke mansion Moris atau mencari keberadaan Magdalena.”Walaupun Adam bingung dengan maksud dari perintah Jonathan. Ia tidak banyak bertanya dan langsung melaksanakan apa yang Jonathan minta. Sudah berkali-kali Jonathan bereaksi seperti ini dan memang ada kejadian genting yang sedang terjadi.Jonathan berlari keluar ruangan diikuti oleh Adam.“Nona Rodriguez, ubah skedul jadwal pekerjaan saya hari ini. Ada kepentingan mendadak yang harus saya tangani bersama Adam.”“Baik, Pak.” Rebecca juga tidak banyak bertanya. Ia pun juga sudah hafal dengan gerak-gerik Jonathan yang sedang tertimpa masalah.Selesai memberi perintah kepada Rebecca, Jonathan masuk ke dalam lift bersama Adam. Ia menghubungi nomor ponsel Abraham. Tapi sayang ponsel Abraham tidak aktif. Jonathan menebak jika calon mertuanya itu sedang berada di kantor pemerintahan karena saat ini adalah jam kantor.“Sial,” desis Jonathan.“Halo, apakah Nona Moris tidak ada di mansionnya?” Jonathan
“Nona Moris,” Lily menyapa Magdalena.“Kau pasti kekasihnya Adam. Lily, kan, namamu?” tebak Magdalena.“Benar Nona.”“Ayo masuk.” Magdalena menarik tangan Lily. Namun ia berhenti setelah mengingat Adam.“Adam, aku bawa Lily ke dalam. Nanti jam lima sore kau bisa menjemputnya.”“Baik, Nona.”“Lily cantik, pantas kau memilihnya.” bisik Magdalena.Adam hanya tersenyum sambil menggaruk rambutnya.“Sudah, sana pergi. Nathan pasti sudah menunggumu di kantor.”“Baik, Nona.” Adam melambaikan tangan kepada Lily sebelum pergi ke kantor Smith Corp.***“Bagaimana? Kau sudah mengantarkan kekasihmu ke rumah Lena?” tanya Jonathan yang baru saja tiba di kantor.“Sesuai perintah dari Tuan.”“Bagus.”“Tuan tidak bertanya, bagaimana reaksi Nona Moris saat bertemu Lily?” Adam kesal karena Jonathan tidak mencari tahu reaksi tunangannya saat Adam membawa Lily.Jonathan tersenyum tipis, “Dia pasti sangat senang. Senyumnya sangat lebar dan dia tak henti-hentinya bersenandung.”Adam mengernyit, “Tanpa bertemu
“Tuan Adam.” Lily kaget melihat kedatangan Adam yang tiba-tiba.“Boleh, aku masuk?”Lily mempersilakan Adam masuk. “Tuan, ada apa?” Lily takut jika ibunya Adam akan marah jika Adam kembali berhubungan intens dengannya.“Lily, jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja Adam.” Sebenarnya Adam rindu, tapi ia menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu karena takut jika Lily akan marah.“Tuan, saya tidak ingin melanggar apa yang sudah saya ucapkan kepada ibu Anda.”Adam menghela napas, sungguh sulit meluluhkan hati Lily semenjak ibunya dengan keras memberi peringatan kepada gadis itu agar menjauhi dirinya.“Tuan Smith ingin meminta bantuanmu.” Adam berharap dengan membawa nama Jonathan, Lily akan memperlakukannya sedikit hangat.“Tuan Smith?” Lily kaget karena Jonathan yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu tiba-tiba ingin meminta bantuannya.“Boleh aku duduk?” tanya Adam.“Oh, silakan duduk.” Lily lupa mempersilakan Adam untuk duduk.“Terima kasih,” Adam duduk. Namun ia merasa tidak ena
Maria ingin menghubungi orang yang bisa menolongnya dari jeratan Ronald. Namun sayang ponselnya saat ini sedang mati karena baterainya kosong.“Ayolah Nona Soriano. Kau tidak bisa mengelak dari kemauanku.” Ronald tetap saja menarik Maria hingga masuk ke dalam mobilnya. Saat ini kemarahannya harus dilampiaskan. Apalagi Maria adalah partnernya untuk menghancurkan Jonathan Smith. Tentu saja keadaan hatinya yang sedang marah harus ia bagi adil dengan Maria.‘Sialan,’ Maria mengumpat dalam hatinya. Dalam keadaan setengah tidak sadar ia bersumpah akan menghancurkan Ronald. Ia juga tidak peduli jika laki-laki itu juga mempunyai misi yang sama untuk menghancurkan Jonathan.***“Ada apa? Kenapa sudah hampir seminggu ini kau di rumah dan tidak kemana-mana?” tanya Abraham kepada Magdalena.“Aku hanya ingin beristirahat, Pa. Sebelumnya aku sempat kelelahan dan badanku sedikit terasa pegal-pegal.” dusta Magdalena yang tidak ingin memberitahukan larangan Jonathan padanya.“Jangan berbohong, Lena. Pa
“Sialan, brengsek! Dia telah menghinaku,” umpat Ronald yang saat ini telah sampai di hotel yang ditempatinya. Ia mengamuk, mengobrak-abrik isi seluruh kamar hotel yang ditempatinya.“Tenanglah, Tuan.” ucap Alex, asisten pribadinya Ronald.“Tenang katamu?” Ronald langsung menarik kerah bajunya Alex. “Kau tidak melihat bagaimana wajah si keparat itu ketika menghinaku? Penolakannya sungguh sangat membuat wibawaku turun. Kau tahu, selama ini tidak ada satu pun orang yang pernah memandangku dengan sebelah mata. Namun si Jonathan Smith itu berani-beraninya merendahkanku di pertemuan pertama kami.”“Tenanglah, bukankah sebelumnya Nona Soriano sudah memperingatkan Anda akan kelebihan dari Tuan Smith?”“Sialan,” Ronald melempar tubuh Alex ke dinding. “Aargh,” Alex mengerang.“Kau memujinya?”“Saya hanya mengingatkan Anda, Tuan. Tentu saja saya ingin kebaikan di pihak Tuan. Saya bekerja untuk Tuan.” ucap Alex ketakutan.“Ke mana perginya wanita itu?” Ronald menanyakan keberadaan Maria.“Sepert
“Tuan Smith,” Ronald langsung menyambut kedatangan Jonathan yang baru saja keluar dari lift.“Silakan masuk,” ucap Jonathan dingin.“Nona Rodriguez, sediakan dua minuman dingin untuk kami.”“Baik, Tuan.” Rebecca langsung menuju ke pantry untuk membuatkan minuman yang diminta oleh Jonathan.Sedangkan itu Adam langsung mengikuti langkah dari Jonathan dan Ronald. Ia sudah merasa jika ada hal yang tidak beres dengan sikap Jonathan. Maka dari itu ia tidak mau meninggalkan Jonathan sendirian untuk berhadapan dengan Ronald. Adam takut jika emosi Jonathan tidak stabil dalam menghadapi musuh bisnisnya. Walaupun Jonathan belum mengatakan jika Ronald adalah musuhnya. Namun Adam bisa merasakan aura buruk yang dipancarkan oleh Jonathan terkait dengan kedatangan Ronald Robinson.“Tuan, silakan diminum.” Rebecca datang dengan membawa dua gelas cocktail dingin untuk Jonathan dan Ronald.“Terima kasih, Nona Rodriguez.” ucap Jonathan.“Terima kasih, Nona manis.” Ronald mengucapkannya dengan nada yang se
"Pantas saja Jonathan Smith sangat setia, putri Abraham Smith sangatlah cantik." puji Ronald saat menatap photo Magdalena di berita online."Ck," Maria berdecak kesal."Akui saja, Nona Soriano. Kalau pesonamu tidak bisa mengungguli Magdalena Morris. Kau tidak akan patah hati sehingga ditolak oleh Jonathan Smith." cibir Ronald."Cukup sudah aku mendengarkan ocehanmu. Sekarang apa rencana kita untuk menghancurkan Jonathan Smith?""Aku harus bertemu dulu dengan laki-laki itu sambil menunggu orang-orangku yang menyelinap untuk mencari informasi penting di Smith Corporation.""Heh," Maria kecewa. "Lalu kenapa kau mengajakku bertemu?" Maria berkacak pinggang."Sebagai tuan rumah, harusnya kau menjamu tamu penting sepertiku." Ronald mendekati Maria sambil mengelus pipinya."Lupakan itu, aku tidak akan menjual tubuhku." Maria ingin meninggalkan kamar hotel tempat pertemuannya dengan Ronald. Namun kedua penjaganya Ronald menghalangi kepergian Maria."Apa maksudnya ini?""Jangan berpura-pura bod