Perkataan panjang Syena membuat Kazumi terdiam. Ia tidak berpikir sampai ke arah sana, karena ia yakin Rachel bisa menolak jika dinikahkan dengan pria yang tidak dicintainya. Apalagi, Kazumi tahu, Rachel tidak mencintai Radit, jadi ia sangat yakin, Rachel akan menolak jika dijodohkan dengan pria tersebut. Namun, ketika Syena mengatakan hal itu dengan jelas, mengapa rasanya ia jadi gelisah?"Zumi. Kalau kamu punya perasaan sedikit saja untuk Rachel, kenapa kamu tidak berusaha untuk memperjuangkannya? Aku tahu, situasi yang membuat kamu jadi merasa sulit seperti sekarang, tapi, apakah kamu tega membiarkan Rachel terpuruk karena perasaannya sama kamu dan akhirnya menikah dengan orang lain?"Suara Syena membuyarkan lamunan Kazumi, dan Kazumi menghela napas mendengarnya. "Tolong, tidak perlu ikut campur, itu urusanku, aku tahu apa yang aku putuskan, jadi kamu tidak perlu ikut campur dalam hal ini."Meskipun merasa perkataan Syena cukup menggetarkan perasaannya dan sekarang ia bimbang, ta
"Tenang, Tuan. Mari kita lihat bersama, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Kazumi setelah ini." Alex menanggapi kecaman yang dilakukan oleh Kazaya agar Kazaya tidak bertindak jauh hingga membuat kacau situasi sementara ia juga penasaran apa yang akan dilakukan oleh Kazumi nantinya.Sementara itu, mendengar apa yang diucapkan oleh Radit, Kazumi mengarahkan pandangannya pada pria tersebut seolah ingin menampar Radit dengan tatapan matanya. Sedangkan situasi sudah mulai kisruh karena ucapan Radit mulai memprovokasi keadaan.Beberapa orang yang ada di sana membenarkan apa yang dikatakan oleh Radit, selebihnya saling berbisik bisik seolah mereka memang ingin mendengar penjelasan Kazumi langsung karena baru kali ini Kazumi dan Kazaya tampil bersama jadi mereka bisa membedakan yang mana Kazumi dan yang mana Kazaya lewat pakaiannya dipakai oleh mereka."Pak Radit, sebenarnya jika dikatakan aku berbohong, itu tidak sepenuhnya benar, kalian tahu sendiri aku kecelakaan karena ingin dibunuh, aku
"Pak Kazumi ini tidak pernah mencintai Ibu Rachel. Pernikahan mereka terjadi hanya karena bisnis. Orang tua mereka menjodohkan mereka, tapi kurasa untuk masalah seperti itu, di dunia kita sebagai pebisnis itu lumrah, tapi yang tidak lumrah adalah, ketika pria yang sudah menikah dengan seorang wanita, tapi tidak mau memberikan nafkah batin pada wanita tersebut, hingga wanita itu akhirnya menderita! Itulah fakta sebenarnya dari Pak Kazumi!"Semua yang ada di ruangan itu kembali kisruh mendengar apa yang diucapkan oleh Radit.Bahkan, Alex yang meminta Kazaya bersabar saja sampai tidak bisa menahan diri hingga akhirnya, ia ingin membalas perkataan Radit yang dinilainya keterlaluan, tapi Kazumi menahan.Kazumi yang sudah dipojokan itu terlihat tidak terpancing. Wajahnya masih terlihat tenang, hingga itu membuat Kazaya benar-benar merasa Kazumi memang seperti memiliki kepribadian ganda. Ia saja setengah mati untuk bersikap sesuai sikap Kazumi ketika ia menyamar menjadi sang kakak, tapi Kaz
"Apa maksudnya ini, Pak Kazumi?" tanya salah satu rekan bisnis Kazumi ketika melihat layar monitor di hadapannya. "Ini adalah bukti untuk kalian bahwa, perusahaan ayahku pernah diajak bekerjasama oleh organisasi mafia untuk menciptakan sebuah obat yang nantinya punya efek tertentu buat seorang pria."Kazumi menjelaskan, dan semua orang yang ada di situ berbisik-bisik, termasuk Radit. "Saat itu, ayahku sempat tertarik untuk melakukan hal itu, menerima tawaran tersebut yang akibatnya pasti menguntungkan perusahaan. Waktu itu kalian mungkin belum menjadi rekan bisnis ayahku."Kazumi melanjutkan, tidak peduli dengan reaksi orang-orang di hadapannya yang terkejut dengan apa yang diterangkan nya termasuk Alex dan juga Kazaya."Tapi, karena organisasi itu terlalu menekan ayahku dan perusahaannya, akhirnya ayahku memilih membatalkan kerja sama tersebut, akibatnya perusahaan ayahku mengalami kehilangan banyak dana karena itu membuat mereka menarik semua dana yang awalnya diberikan oleh mere
Salah satu rekan bisnis Kazumi kembali melancarkan aksi protes, hingga Kazumi menarik napas panjang merasa pertanyaan itu sedikit membuat ia tertohok tapi juga lega karena akhirnya mereka yang tadinya mencibirnya karena Radit menyudutkannya kini tidak lagi melakukan hal itu bahkan tetap kembali mendukungnya."Aku sudah membuat keputusan, aku juga sudah membeberkan alasannya, tapi untuk hal yang itu, aku tidak bisa mengatakannya karena khawatir tidak sesuai dengan harapan. Yang jelas, kalian tidak perlu khawatir. Kazaya adalah orang yang tepat untuk menggantikan posisiku, jika kemungkinan nanti aku ingin kembali, aku pasti kembali, tapi untuk sekarang aku memang harus mengundurkan diri untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan."Kazumi tetap bersikeras tidak mau merubah apa yang sudah ia putuskan. Sampai akhirnya, rapat itu diakhiri dan mereka mau tidak mau menerima keputusan Kazumi yang mengundurkan diri serta menyerahkan semuanya pada Kazaya dengan satu catatan, Kazaya
"Mi. Kazumi itu sangat menghargai wanita, dia enggak mau menyentuh aku bukan berarti dia sengaja menyiksa aku, itu hanya caranya untuk menghargai aku, karena baginya sentuhan akan tercipta lebih manis ketika kami saling mencintai.""Tapi kamu tersiksa, kan? Kamu mencintai dia tapi dia tidak pernah mencintai kamu.""Sekarang, aku yakin dia mulai suka padaku.""Apa? Yang benar saja, dia mulai suka padamu? Kalau memang dia suka, dia pasti mempertahankan pernikahan kalian, dan hanya menceraikan dua istrinya saja, bukan termasuk kamu!""Mi. Situasi dia sekarang tidak baik. Organisasi mafia itu mengincar dirinya, itulah alasan dia kenapa sekarang memilih menceraikan para istrinya.""Alasan! Itu salahnya sendiri, kenapa dia justru membuat kamu kebagian deritanya? Aku benar-benar tidak tahan melihat kalian!""Mi. Sudahlah. Toh, enggak ada yang merasa dirugikan dari ini semua, kan? Kita enggak tau apa yang sebenarnya dihadapi Kazumi, biarkan dia menghadapi semuanya sampai selesai, aku yakin se
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Alex cukup membuat Kazumi terdiam seketika. Ia mengusap wajahnya sesaat, sebelum akhirnya menanggapi apa yang diucapkan oleh Alex. "Tentu saja. Tapi, untuk situasi seperti sekarang, sepertinya jika Rachel tidak hamil aku mungkin jauh lebih merasa lega.""Jika ternyata, Rachel hamil, apa yang akan Tuan lakukan?""Aku tidak mungkin bisa membuat dia hamil.""Karena efek obat penghancur kesuburan itu, kah?""Ya!""Tapi, bukankah Tuan sudah berusaha untuk membersihkannya?""Ya, tapi membersihkan tanpa melakukan tes itu tidak akan berhasil dengan akurat, Alex.""Kalau begitu, kita akan melihat, Rachel akan hamil atau tidak."Kazumi bungkam. Membuat Alex kembali melanjutkan perkataannya."Jika Rachel hamil, sebagai pria sejati, Tuan harus bertanggung jawab atas bayi itu, kan?""Tidak. Rachel pasti akan menikah dengan pria lain, aku sudah memberikan kesempatan buatnya untuk bahagia, tidak selalu fokus padaku.""Kebahagiaan Rachel ada pada Tuan, jadi, dia tida
"Apa maksud lu sebenarnya? Lu apain Syena, hah?!""Santai! Gue kagak apa-apain mantan ipar lu itu kalo lu mau patuh sama apa yang gue katakan!""Apa mau lu?" "Lakukan peran lu sama peran Kazumi.""Ngomong yang jelas! Dari tadi lu selalu bilang hal itu tapi lu kagak menerangkan apa yang lu maksud itu dengan jelas!"Kesabaran Kazaya nyaris habis karena Shane menurutnya terlalu berbelit-belit. Hingga nada suaranya terdengar meninggi tapi tetap saja, Shane tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh Kazaya padanya. "Karena lu kagak bisa mengatakan di mana gue bisa ketemu kakak lu, jadi lu harus melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh kakak lu, melukis dan menerima kontrak kerja sama dari bos gue.""Kagak! Gue kagak mau!""Gampang amat lu ngomong? Kagak paham dengan apa yang tadi gue bilang? Kalo lu kagak mau mematuhi apa yang gue katakan, Syena yang akan melakukannya!"Karena emosi, Kazaya langsung meraih kerah pakaian milik Shane dan menariknya dengan erat ketika ia mendengar S
Awalnya, Syena tidak berani membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya. Namun beberapa saat kemudian, rasa ragu Syena akhirnya musnah. Ia membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya padanya dengan penuh perasaan pula hingga akhirnya keduanya sama-sama tenggelam dalam perasaan mereka satu sama lain dan ketika perasaan itu ingin mendorong mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman, buru-buru Syena dan Kazaya saling menarik diri dengan napas mereka yang memburu.Kazaya mengusap wajahnya yang terasa panas dan ia yakin sekarang ini wajahnya merah begitu juga dengan Syena. "Jadi, apa sekarang kita jadian?" tanya Syena dengan suara perlahan khawatir apa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi atau hanya sebuah canda Kazaya saja karena pemuda itu biasanya juga sering melakukan sesuatu yang tidak dipikirkan dahulu."Asalkan kamu mau menunggu dulu sebelum akhirnya aku bisa melamar kamu, untuk sekarang aku masih harus menyelesaikan kekacauan yang sedang terjadi."Mendengar Kazaya meru
"Gue suka sama lu, Syena tapi gue tau, itu terlambat, dan-""Kenapa menyukaiku? Dan kenapa kamu baru mengatakan sekarang?" potong Syena hingga membuat Kazaya tidak bisa bicara untuk sejenak karena tidak tahu apa yang akan ia katakan untuk menjawab pertanyaan perempuan tersebut."Gue kagak tau kenapa gue suka sama lu, tapi mungkin karena lu begitu peduli sama keluarga gue, gue jadi merasa lu itu menganggap penting keluarga gue."Akhirnya, Kazaya menjawab pertanyaan Syena tapi Syena tidak puas dengan jawaban itu. Hingga ia melontarkan pertanyaan yang serupa tentang mengapa Kazaya baru mengatakan hal itu sekarang. "Karena gue benci, Kazumi bilang gue pecundang dan gue kagak suka dikatakan seorang pecundang karena ucapan itu membuat gue kagak berguna.""Jadi, Kazumi yang membuat kamu berpikir kayak sekarang?""Si bodoh itu kagak pernah jatuh cinta tapi dia lebih peka dari gue.""Sebenarnya, aku tahu kamu juga suka sama aku waktu kamu mencium aku di hutan itu."Wajah Kazaya berubah ketika
"Zaya. Enggak ada yang salah dengan pikiran kamu itu. Cari uang dengan mengandalkan bakat itu lumrah, yang enggak boleh dilakukan itu adalah, apapun akan dilakukan demi uang, pikiran kamu waktu dulu itu kan, karena kamu sulit mendapatkan uang, yang penting sekarang kamu udah sadar kalau seni itu juga penting."Dengan bijak, Syena menanggapi apa yang diucapkan oleh Kazaya agar pria itu tidak berlarut-larut dalam keterpurukannya.Kazaya diam tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Syena, hingga situasi di antara mereka senyap untuk beberapa saat.Dan kemudian...."Sampai sekarang, Alex aja kagak bisa melacak keberadaan Kazumi, padahal dia sangat andal melakukan pelacakan, semua sistem informasi yang diberikan oleh Alex pada Kazumi kayaknya kedeteksi, jadi keberadaan Kazumi kagak bisa diketahui di mana, yang jadi masalah, kalo bokap gue nanya dia di mana gue harus bilang apa? Gue benar-benar pusing sekarang.""Jujur aja.""Apa?"Kazaya seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh
"Ah, enggak! Aku enggak mikir kayak gitu! Aku cuma ingin kamu lebih melakukan persiapan aja kalau ternyata kamu benar-benar hamil, kan?" kata Moa buru-buru menjelaskan.Wajah Rachel seketika suram mendengar apa yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa mengira Rachel jadi seperti itu karena dirinya."Rachel, apa aku salah bicara?" tanya Moa dengan nada suara yang terdengar sangat hati-hati."Enggak. Enggak ada yang salah. Aku hanya berpikir bagaimana bisa aku mengatakan pada Kazumi bahwa dia ternyata tetap sehat meskipun pernah meminum obat anti kesuburan itu di masalalu? Dia aja enggak bisa dihubungi, rasanya menyedihkan."Mendengar apa yang diucapkan oleh Rachel, Syena mengusap punggung perempuan itu untuk sekedar menenangkan perasaan Rachel yang pasti terguncang karena kabar Kazumi yang bergabung dengan organisasi mafia tersebut."Yang penting itu kesehatan kamu dan bayimu dulu, kalau kamu sudah yakin kamu itu hamil, kamu bisa menjaga bayi ini dengan baik, masalah Kazumi, Kazaya pasti ak
Rachel terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa tertawa kecil melihat ekspresi mantan istri pertama Kazumi tersebut. "Aku bercanda. Kau tidak perlu ambil hati, sejujurnya aku memang masih merasa cinta sama Kazumi, tapi aku tahu diri, Kazumi tidak pernah suka padaku, jadi aku tidak akan memikirkannya lagi, hanya saja kurasa itu perlu proses, jadi untuk sekarang aku ya masih memikirkan dia, maaf."Moa bicara dengan wajah yang terlihat sangat serius."Kazumi bukan milik siapapun lagi, jadi enggak ada yang bisa melarang siapapun untuk memikirkannya."Rachel menanggapi perkataan Moa, tapi Moa bisa melihat, itu hanya sesuatu yang sekedar diucapkan oleh Rachel saja. Ia bisa melihat, Rachel terlihat cemburu mendengar apa yang diucapkannya tadi hingga Moa sangat yakin, perempuan itu pasti masih sangat mencintai Kazumi."Rachel. Kazumi itu mencintai kamu, jadi kurasa kamu harus memperjuangkan perasaan kamu itu kalau memang kamu masih mencintai dia."Moa b
Jemari tangan Rachel yang sedang merangkai bunga terhenti seketika mendengar apa yang diucapkan oleh Radit. Radit merasa puas melihat perubahan yang terjadi pada wajah Rachel hingga laki-laki itu melangkah semakin mendekati posisi Rachel berada. "Kamu tidak tahu?" tanyanya setelah ia berada tepat di hadapan Rachel."Kamu ke sini hanya ingin membahas itu? Masih enggak suka juga kamu sama dia?" tanya Rachel beruntun."Rachel, aku peduli sama kamu, aku cuma enggak mau kamu kenapa-kenapa," kata Radit penuh dengan perasaan khawatir yang ia perlihatkan lewat sorot matanya."Aku dan Kazumi sudah bercerai, Radit. Urusan dia bukan urusanku lagi, jadi tolong pergi saja, jangan ganggu aku lagi!" pinta Rachel tanpa memberikan kesempatan pada pria itu untuk lebih banyak bicara lantaran ia sejak dulu memang sudah muak dengan pria tersebut.Namun, tidak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan oleh Radit cukup membuat ia jadi kepikiran juga. Kazumi bergabung dengan organisasi mafia? Sepertinya tidak
Andreas menghela napas panjang mendengar apa yang diucapkan oleh Kazaya.Sebenarnya ia sekarang terpancing emosi, akan tetapi, ia tidak mau bertindak gegabah, meladeni kemarahan Kazaya hingga akhirnya pemuda itu bisa saja membuat galerinya hancur."Sebenarnya ada apa? Kamu marah marah seperti ini padaku? Apakah ada yang terjadi pada Kazumi?"Andreas tidak menanggapi ucapan mengandung emosi yang dikatakan oleh Kazaya tadi karena sebenarnya ia yakin bukan itu yang sedang bergolak di otak Kazaya.Kazaya bungkam mendengar pertanyaan Andreas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan untuk sesaat ia tidak tahu harus bicara darimana untuk membeberkan segalanya."Asal kau tahu saja, Zaya. Aku memang dahulu pernah mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari Ernesto, bisa membuat lukisanku lebih meluas lagi ke seluruh dunia, namun, aku tidak menerima tawaran itu karena kupikir, aku tidak tega menodai sebuah karya seni."Karena Kazaya tidak kunjung bicara meskipun ia sudah melontarkan pertanyaa
Alex tidak langsung menjawab apa yang diucapkan oleh Kazaya dan berujung pertanyaan tersebut, karena ia memang sesuai yang diucapkan oleh Kazaya, merasa khawatir dengan apa yang sudah diputuskan oleh Kazumi tadi secara tiba-tiba.Hanya saja, karena ia tahu Kazumi tidak akan berbuat sembarangan tanpa berpikir dahulu resikonya, ia percaya apa yang dilakukan oleh Kazumi adalah hal yang memang harus dilakukan oleh majikannya tersebut."Ternyata, lu juga sama aja dengan gue, panik dengan apa yang dilakukan oleh Kazumi," sinis Kazaya yang membuat Alex menghela napas panjang mendengarnya."Iya. Aku akui aku juga sama khawatirnya dengan Tuan, tapi aku yakin, Tuan Kazumi tidak akan sembarangan bertindak, Tuan. Dia pasti sudah merencanakan hal itu dengan baik dan tahu resikonya."Alex akhirnya menanggapi apa yang dikatakan oleh Kazaya, dan itu membuat Kazaya memajukan bibirnya."Meskipun resikonya dipenggal?""Semoga Tuan Kazumi baik-baik saja."Alex tidak berani berpikir bahwa Kazumi akan dipe
"Gue cuma kagak mau ada orang lain yang terkena masalah karena keluarga kita!" jelas Kazaya dan itu membuat Kazumi tersenyum kecut meskipun ia sesekali mengerenyit menahan sakit karena luka yang dideritanya membuat punggungnya terasa perih."Peduli juga tidak apa-apa, kau memang harus melakukan hal itu padanya, sebelum terlambat.""Berisik!""Tuan. Ada laporan dari rekanku, katanya mereka sedang bentrok dengan anak buah Yurata."Saat Kazumi dan Kazaya bertengkar, Alex bicara seperti itu hingga pertengkaran yang terjadi pada saudara kembar itu terhenti seketika."Di mana mereka sekarang?"Baru saja Kazumi melontarkan pertanyaan itu pada Alex, tiba-tiba saja dari arah atas mereka terdengar suara seseorang memanggil, hingga mereka mendongakkan kepala mereka untuk mencari tahu siapa yang sedang memanggil mereka."Itu mereka!" kata Alex sambil mengarahkan telunjuknya ke atas. Sebuah tali terjulur dari atas dan tali itu bukan tali biasa tapi tali yang biasa digunakan oleh seseorang yang se