Sepupu Linggar sudah sadar, dan kini mereka semua berada di dalam mobil. Seharusnya mereka segera pergi dari rumah itu, tapi Selena masih berat meninggalkan dua anak kecil yang dilihatnya di dalam.Di luar, Linggar sibuk bertanya kepada warga sekitar tentang rumah kosong itu. Salah satu yang bersedia berbicara adalah seorang tukang kebun yang tinggal di sebelahnya."Setelah tahun 2011, pemilik rumah ini pergi entah ke mana. Tiba-tiba aja kosong. Beberapa bulan kemudian, ada plang ‘Rumah Dijual’ dipasang," ujar si tukang kebun.Linggar mengangguk, mendengarkan dengan saksama."Setiap malam ada suara-suara aneh," lanjut pria itu. "Kadang suara perempuan teriak, kadang kayak orang berantem sambil banting-banting barang. Padahal nggak ada yang tinggal di situ. Pernah juga ada maling yang masuk, malah dia sendiri yang teriak minta tolong. Katanya lihat kuntilanak!"Linggar merinding. "Jadi rumah ini memang angker, ya, Pak?" tanyanya.Tukang kebun itu mengangguk mantap. "Angker banget. Stra
Selena kembali ke alam nyata dan langsung melihat Linggar meneriaki Deon dari atas. Wajah Deon pucat pasi, tubuhnya sedikit gemetar. Padahal baru saja dia merasa lebih baik, tapi kini kembali terjebak dalam pengalaman mistis yang mengerikan. "Kenapa, De!?" seru Linggar, nada suaranya penuh kekhawatiran. "I-it... tadi gue lihat orang nggak ada kepalanya..." suara Deon bergetar saat dia menunjuk ke arah dapur. Selena menatapnya serius. "Li, Deon sebaiknya nggak di sini. Dia lumayan sensitif." "Bang, bawa Deon keluar. Tunggu di mobil aja," ujar Linggar kepada abang sepupu mereka. Tanpa banyak tanya, abangnya langsung menggandeng Deon yang masih shock dan membawanya pergi. Kini, perhatian Selena kembali pada sosok perempuan di hadapannya, wanita yang menangis tersedu-sedu. Wanita itu masih tidak sadar bahwa anak-anaknya sudah lama meninggal. Meski tinggal dalam rumah yang sama, mereka tak pernah bertemu karena berada di dimensi yang berbeda. Waktu kematian mereka pun terjadi pa
Selena akhirnya kembali ke rumah setelah seharian berada di rumah kosong yang misterius. Di sana, dia sempat mengungkap beberapa rahasia, meski masih ada yang belum terpecahkan, jasad Liora, Adel, dan kepala ayah mereka yang belum ditemukan. Keletihan menghampirinya. Setelah mandi, Selena merebahkan tubuhnya di ranjang, meski hatinya belum tenang.Dia belum mendapat kabar dari Nicholas, tampaknya Nicholas belum tiba. Padahal, sebelum transit, Nicholas sempat menghubunginya, namun Selena sedang sibuk memikirkan sosok-sosok yang baru saja dia bantu. Ada sesuatu yang terasa berbeda malam itu. Di luar rumahnya, Selena merasa ada energi besar yang mengintai.Tiba-tiba, ibunya muncul di depan kamar Selena, tapi wajah cantiknya berubah menjadi wajah seram, dengan aura yang mengandung energi kuat, seolah siap melindungi Selena dari bahaya yang datang."Ada yang ikut aku, ya?" gumam Selena dengan cemas.Dengan kekuatan mata batinnya, Selena melihat sesosok bayangan hitam besar berdiri di luar,
Selena menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari sosok ibu Liora. Namun, yang pertama kali tertangkap matanya justru lebih mengerikan seorang pria tanpa kepala berdiri diam, menghadap ke arahnya. Detik berikutnya, ia melihat ibu Liora muncul di lantai dua, berdiri di samping pria itu. Tatapan mereka tertuju ke bawah, ke arah Selena dan Pak Bondan."Selena, sampaikan pada Bang Bondan... kami sangat berterima kasih. Dia selalu peduli pada kami. Bang Bondan adalah abang yang luar biasa, paman yang baik untuk Liora dan Abel," suara lembut ibu Liora menggema, tetapi mengandung kepedihan yang dalam.Ia menarik napas sebelum melanjutkan, "Bilang padanya agar tak lagi bersedih. Kami sudah tenang sekarang. Kami hanya ingin dia terus mendoakan kami. Kami menyayanginya."Selena mengangguk pelan, menyerap setiap kata sebelum menyampaikannya kepada Pak Bondan."Mereka bilang, terima kasih karena Om Bondan sudah menjadi abang dan paman yang baik untuk Liora dan Abel. Om juga jangan bersedih lagi,
Selena dan Linggar melangkah masuk ke dalam kelas. Mereka satu jurusan. Selena duduk di sebelah kanan Linggar, sementara di sisi lainnya, seorang mahasiswi duduk diam. Wajah gadis itu mengingatkan Selena pada seseorang... Saras.Namun, ada sesuatu yang berbeda. Gadis itu menggunakan susuk, dan energinya terasa begitu pekat, lebih gelap dari Saras. Yang Selena lihat bukan sekadar dua lapisan wajah, melainkan banyak. Terlalu banyak.“Kenapa? Kayaknya lu ngeliatin gue terus dari tadi?” suara gadis itu tiba-tiba memecah keheningan.Selena tersentak, tapi dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya. “Gue lupa nama lu, boleh kenalan lagi? Gue Selena,” ujarnya santai, berusaha tidak menyinggung perasaan si gadis.“Ohh, bilang dong. Gue Intan, Intan Lupita.” Gadis itu akhirnya memperkenalkan diri.Saat Selena menjabat tangannya, sesuatu yang aneh terjadi. Kulit Intan terasa panas, hampir seperti terbakar. Ada sesuatu yang tidak beres. Pikiran Selena melayang, bertanya-tanya kenapa banyak pere
Selena dan Linggar duduk di lobi universitas, menunggu jemputan masing-masing. Linggar melirik jam di pergelangan tangannya, sementara matanya sesekali mencari sosok Deon, temannya yang beda jurusan dan belum juga muncul."Nyebelin banget tuh orang," gerutu Linggar tiba-tiba. "Pokoknya, nggak ada yang boleh gantiin posisi Rangga di sirkel kita!"Selena menoleh dengan alis terangkat. Nada suara Linggar mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar omelan biasa. Ia terkekeh, mengingat bagaimana Linggar dan Rangga selalu saja ribut kalau sedang bersama. Tapi sekarang? Linggar justru menegaskan kalau tak ada yang bisa menggantikan Rangga. Menarik. Tanpa sadar, mereka sebenarnya saling mendukung satu sama lain."Aku rasa Kak Faaz cuma berusaha jadi senior yang baik," sahut Selena santai. "Biar junior-juniornya bisa lebih akrab sama dia juga. Lagian, dia juga nggak sombong, kan? Mau nyapa kita, padahal kita anak baru."Linggar mendecak pelan. "Sama aja, tetap sok asik."Selena tertawa kecil. T
Setelah menunaikan sholat maghrib, Selena duduk di kamar, masih mengenakan mukenanya. Ponselnya bergetar, menampilkan panggilan video dari Nicholas. Senyum merekah di wajahnya saat ia mengangkat panggilan itu.Di layar, Nicholas juga masih mengenakan koko, tampak baru saja selesai sholat."Assalamu’alaikum," Nicholas menyapa lebih dulu."Wa’alaikumussalam. Abang udah bangun? Mau Subuhan?" tanya Selena, melihatnya dengan tatapan lembut.Nicholas mengangguk, "Iya. Kapan kita bisa sholat bareng, ya?"Selena terkekeh. "Masih lama, Bang. Abang jadi dokter dulu."Nicholas ikut tertawa. "Hehehe, gimana kuliah hari ini, Dek?""Lancar, Alhamdulillah. Tapi abang nggak bilang kalau di kampus ada banyak sosok..." Selena mengerucutkan bibir, seolah sedikit menggerutu.Nicholas langsung waspada. "Sosok?! Terus kamu diganggu, Sayang?""Iya, ada yang jail. Terus beberapa hari lalu ada kerasukan massal, Bang. Lima orang kena gara-gara ulah hantu iseng. Sekarang aku malah terkenal di kampus, katanya si
Seluruh kelas tenggelam dalam keheningan, mata mereka tertuju pada dosen yang tengah menerangkan materi dengan penuh antusias. Namun, fokus mereka buyar seketika saat sesuatu meluncur melewati jendela dengan kecepatan tinggi."BRAK!!"Terdengar dentuman keras menghantam tanah di luar."KYAAAA!!!"Teriakan histeris menyusul dari arah luar kelas."Apa itu barusan!?""Kayak ada yang jatuh, ya?""Astaga! Itu... itu ada orang di bawah!" seru seorang mahasiswa yang duduk dekat jendela.Seisi kelas sontak berdiri, berdesakan mendekati jendela. Selena ikut mengintip, jantungnya berdegup kencang melihat seorang mahasiswa tergeletak di dekat parkiran. Darah mengalir deras dari tubuhnya, membentuk genangan merah yang kontras dengan aspal.Di bawah sana, suasana semakin kacau. Beberapa mahasiswa menjerit ketakutan, sementara yang lain terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Benturan yang begitu keras membuat kepala korban pecah, sementara kaki dan tangannya tampak patah dengan pos
Selena sedang sarapan dengan ayah Nicholas, dan ayah Nicholas menceritakan pada Selena apa yang kemudian Pak Hasan lakukan pada Faaz. Faaz sudah berhasil diselamatkan hanya tinggal pembersihan saja, dan Selena senang mendengarnya."Alhamdulillah ketemu sama Om Hasan, dia orang yang tepat." Ujar Selena."lya, tapi papa lebih bangga sama kamu, karena kamu sudah berhasil menyelamatkan sukmanya Faaz. Om Hasan bilang, nanti siang akan melakukan pembersihan di rumah Faaz." Ujar ayah Nicholas."Siang ya, pa? Aku nggak bisa bantuin dong." Ujar Selena."Nggak apa-apa, nak.. nggak semua hal harus kamu yang lakuin." Ujar ayah Nicholas, akhirnya Selena mengangguk."Tapi semalem bener-bener serem pa, di alam sana itu bukan kayak alam astral yang biasanya, bukan alam kosong, tapi kayak kota Jakarta asli." Ujar Selena."Mungkin yang kamu lihat memang asli, cuma mereka tidak melihat kamu. Ada sebutannya dulu, orang jawa kuno menyebutnya itu adalah merogo sukmo" Ujar ayah Nicholas, Selena pun mengerny
Selena masuk kedalam kamar-kamar yang ada di ruangan itu, tapi Selena tak menemukan keberadaan Faaz, Selena terus memanggil Faaz, berharap akan ada sahutan. Dan saat itu Selena melihat nenek tua itu sedang muntah-muntah darah."Kak Faaz!" Panggil Selena dengan keras.Selena melihat Intan juga berubah menjadi mengerikan, Intan merangkak kesakitan, seluruh wajah nya berdarah-darah. Nenek tua itu tampak ngesot di lantai dan menuju ke sebuah pintu yang belum Selena masuki, Selena mengikutinya dan dia melihat Faaz."Kak Faaz!" Selena bergegas masuk dan langsung menghampiri Faaz yang sedang tak sadarkan diri."Kak Faaz! Bangun kak!" Selena menepuk Faaz tapi Faaz tetap tidak sadarkan diri."Kak Faaz, bangun ini Selena." Ujar Selena, dan saat itu Faaz membuka matanya."Kak, ayo kita pergi dari sini." Ujar Selena, dia menggandeng tangan Faaz tapi Faaz kebingungan."Kita dimana?" Tanya nya."Aku jelasin ntar, ayo sekarang kita pergi." Ujar Selena, dan menarik tangan Faaz.Faaz menutup mulut nya
Faaz duduk dan keheranan karena semua orang sedang mengaji, dan dia diletakkan di tengah seperti mayit. Tapi dari tatapan nya, Faaz terlihat seperti bukan Faaz.Ibunya hendak bangun dan menghampiri Faaz tapi dilarang oleh Selena."Jangan tante, tante harus tetap duduk." Ujar Selena."Kalian ngapain ngaji kayak gini!?" Faaz marah."Karena kami ingin mengeluarkan kamu, dari tubuh kak Faaz." Ujar Selena."Hei! Kamu pikir siapa kamu!? Suruh mereka berhenti!" Ujar Faaz, tapi tentu Selena tidak mendengarkan nya."Kamu nggak kenal dia, Fa? Dia Selena, bukan nya lo sering bahas dia?" Ujar Doni, dan Faaz tampak mengalami sakit kepala.'Selena?' Faaz seolah berpikir keras, siapa gerangan Selena yang dimaksud. "Kak Faaz nggak bakal inget, dia bukan dia karena di otak nya cuma dipenuhi oleh Intan." Ujar Selena, seketika Faaz menatap Selena."Mana pacar gue! Kalian apain pacar gue!" Faaz hendak menghampiri Selena tapi langkah nya terhenti karena dia seolah menabrak pembatas."Om, tante.. semuanya
Akhirnya pada sore harinya ketika kuliah berakhir, Doni langsung mencegah Faaz yang hendak keluar kelas. Faaz juga sudah mendapat panggilan dari ayah nya tapi Faaz menolak pulang dengan alasan dia ada tugas yang harus dikerjakan. "Fa, bokap lu nelpon gue, dia bilang minta lu pulang." Ujar Doni, Faaz menatap Doni dengan tatapan yang sangat dingin. "Lu yang minta, kan? Mau ngapain si lu!?" Ujar Faaz dan Doni sedikit tertegun. "Fa, lu tuh dalam bahaya dan kita semua sedang berusaha nyelamatin elu. Kita semua care sama nyawa lu jadi please pulang ya, Fa." Ujar Doni, Faaz hanya tersenyum dingin. "Nggak! Jangan ikut campur urusan gue, jangan deket-deket gue, jangan ganggu gue, lu paham!?" Ujar Faaz dengan penuh penekanan. Faaz hendak melangkah pergi tapi Doni akhirnya melakukan hal nekat. "BUGH!!" "UKH!" Doni memukul kepala Faaz sampai pingsan. "Sorry, Fa. Kalo nggak gini, lu nggak slamet." Ujar Doni, lalu menyeret tubuh Faaz. Selena sedang berjalan menuju ke kelas Faaz dan
Selena tiba di universitas dengan langkah cepat. Kini, ia sudah bersama Linggar. Matanya langsung menangkap sosok Doni di kejauhan, dan tanpa ragu, ia menghampirinya sambil membawa sebotol air putih di tangannya, air yang telah didoakan."Kak..." panggil Selena lembut.Doni mengangguk tanpa banyak bicara, menerima air itu dengan ekspresi tenang. Tanpa menunggu lama, Selena berbalik dan melangkah masuk ke dalam kelasnya bersama Linggar.Sementara itu, Doni juga berjalan menuju kelasnya. Begitu masuk, ia melihat Faaz duduk sambil memegangi kepalanya. Raut wajahnya tampak kesakitan."Lu kenapa, Fa?" Doni bertanya dengan nada khawatir.Faaz menghela napas berat. "Nggak tahu kenapa… kepala gue sakit banget."Tanpa berpikir panjang, Doni mengulurkan botol air yang baru saja diberikan Selena. "Nih, minum dulu."Faaz, yang tengah kesakitan, langsung meneguknya tanpa curiga sedikit pun. Seteguk, dua teguk… Air itu mengalir melewati tenggorokannya, memberikan sensasi dingin yang aneh.Doni mena
Kenzi dan Selena menaiki eskalator menuju lantai tempat Kenzo dirawat. Sepanjang perjalanan, Kenzi terus menunduk, seolah tak ingin dunia melihat luka yang menggores hatinya. Rasa sakit yang selama ini ia pendam, kini mengalir begitu dalam, membanjiri pikirannya.Sesampainya di depan kamar Kenzo, Kenzi mengambil nafas dalam sebelum mendorong pintu. Begitu masuk, ia langsung disambut pemandangan ibunya yang tengah menangis dalam pelukan sang ayah."Kenzi!" seru ibunya dengan suara bergetar. "Kenzi sayang… maafin Mama, Nak."Dengan cepat, ia bangkit dan langsung memeluk putranya erat, seakan takut kehilangan lagi.Sayang… Ibunya baru saja memanggilnya dengan kata itu. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia dengar."Kenzi… maafin Mama," lanjutnya, suaranya terisak. "Mama nggak tau kalau selama ini kamu udah melakukan banyak hal buat kami."Tapi Kenzi hanya diam. Bibirnya melengkung dalam senyuman tipis, tapi hatinya tetap terasa hampa. Tak ada kebahagiaan yang menyeruak, tak ada kehangata
Selena duduk bersama kedua orang tua Kenzo serta saudara kembarnya, Kenzi. Ia telah menyampaikan semua yang dikatakan Kenzo, tanpa ada yang ditutupi. Kini, keheningan menyelimuti ruangan. Ibunya terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara."Tapi tetap saja, dia itu bawa sial sejak lahir," ucapnya dingin.Kenzi menunduk. Tatapannya kosong, tapi hatinya penuh luka yang selama ini tak pernah sembuh.Selena menghela napas, mencoba tetap tenang meski dadanya bergejolak. "Tante, nggak ada satu anak pun yang bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan. Lahirnya seorang anak itu anugerah, rezeki. Itu titipan Allah untuk Tante dan Om." Ucapannya lembut, penuh pemahaman, namun tegas.Kenzi menahan napas, matanya berkaca-kaca. Sementara itu, sang ayah menatap Kenzi dengan ekspresi sulit diartikan."Kenzi bukan pembawa sial," lanjut Selena, suaranya sedikit bergetar. "Cap yang Tante kasih ke dia itu doa dari Tante sendiri. Kenapa bisa Tante sebenci itu sama anak kandung Tante? Anak yang Tante
Selena berdiri di dalam ruangan rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Matanya terpejam, tubuhnya sedikit gemetar, dan kedua tangannya terangkat seolah sedang menarik sesuatu yang tak terlihat. Bagi orang biasa, ia mungkin tampak seperti sedang melakukan gerakan aneh seperti seseorang yang kesurupan atau berhalusinasi. Tapi di dunia astral, sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.Asap hitam pekat merayap keluar dari punggungnya, menggeliat liar seperti makhluk hidup. Selena menggenggam asap itu dengan erat, memaksanya untuk berkumpul di telapak tangannya. Tiba-tiba, asap itu mulai membentuk sosok.Sebuah wajah mengerikan muncul, seorang perempuan dengan mata cekung yang bersinar merah, mulut sobek hingga ke telinga, dan deretan gigi runcing yang meneteskan cairan hitam pekat."Khhk! Khhhk! Lepas!!!" jerit sosok itu, tubuhnya menggeliat kesakitan dalam genggaman Selena.Tapi Selena tetap kuat. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi sesuatu seperti ini."Siapa yang mengirimmu?" tanyanya,
Saat jam istirahat tiba, akhirnya Selena mengizinkan sosok bernama Roy untuk berbicara. Wajah hantu itu dipenuhi kecemasan, matanya memohon dengan putus asa."Tolongin dia, Selena."Selena menatapnya lekat. Ia sudah tahu kekhawatiran Roy. Sudah sejak lama ia menyadari bahwa Faaz berada dalam bahaya besar."Iya, aku tahu," ujar Selena, suaranya tenang tapi tegas. "Tapi ini nggak mudah."Selena menarik napas, menatap lurus ke arah Roy yang kini menunduk. "Masalahnya, apa yang ada di belakang Intan itu bukan sekadar sosok biasa. Intan jelas-jelas sudah melakukan perjanjian sama setan."Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. Roy mengepalkan tangannya."Selain Kak Roy, siapa teman Kak Faaz yang paling dekat sama dia?" tanya Selena."Doni! Kamu ingat wakil ketua BEM, kan?" jawab Roy cepat.Selena mengangguk. "Oke, aku bakal minta bantuan Kak Doni. Semoga dia gampang diajak ngomong."Setelah itu, Selena kembali ke alam nyata. Begitu kesadarannya kembali, ia langsung