Home / Pernikahan / Bu, Aku Menantu Atau Babu? / Kebohongan Demi Kebohongan

Share

Kebohongan Demi Kebohongan

Author: Yani Artan
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

Lantas ibu dari Galih itu berjalan dan menghampiri Maya."Maya ini sebenarnya menantu saya, Bu.

Perempuan paruh baya itu merangkul Maya yang cuma menunduk takut. Maya takut jika setelah Arya dan keluarganya pulang, maka dia akan menerima kemarahan keluarga Raharjo.

Diana mendongakkan kepalanya setelah itu dia mengurut keningnya, dia malu ... sangat malu saat ibunya mengakui Maya sebagai menantunya secara melihat penampilan Maya yang sangat jauh dari kata modis, apalagi kusut.

Bagi Diana soal gengsi dan penampilan adalah nomer satu. Maka dari itu dia gemar mempercantik diri dan berdandan sesuai tren terbaru, barang-barang yang dibelinya pun barang branded atau bermerk.

"Jadi ... Maya adalah menantu keluarga Raharjo?" tanya Pak Angga dengan mimik tak percaya.

Diana lantas menyahuti perkataan calon mertuanya itu.

"Iya, Pak. Maya menantu di keluarga ini. Mungkin bapak sekeluarga merasa tak percaya, tapi begitulah kenyataanya. Sudah seringkali kami meminta kepada Maya untuk menjaga penampilannya, tapi dia tak pernah mendengar perkataan kami. Jujur kami capek menghadapi sifat keras kepalanya itu." ucap Diana dengan wajah dibuat semiris mungkin.

"Benar yang dikatakan Diana. Selama ini kami selalu menasehati Maya, tapi mungkin perkataan kami sulit dicerna olenya secara dia itu cuma lulusan SMP dan berasal dari keluarga tak berada pula, namun begitu kami sudah menganggapnya seperti putri kami sendiri." Bu Ullah menyahuti perkataan putrinya.

Arya menelisik rona wajah Maya, dia mengenal sifat perempuan itu karena pernah berteman lama dengannya. Maya yamg dulu selalu ceria dan bisa menerima setiap nasehat baik dari orang sekitarnya.

Tapi Maya yang sekarang terlihat berbeda, ada luka dan ketakutan saat Arya menatap ke dalam bola mata perempuan itu. Namun, Arya juga tak mau berprasangka buruk terhadap keluarga Raharjo.

"Kami mengenal Maya saat dia masih kecil. Dulu dia anak yang ceria dan ramah, dia juga pintar waktu masih sekolah, semangatnya untuk mencari ilmu sangat tinggi. Sedangkan keluarganya tidak mampu menyekolahkannya, meskipun begitu dia tidak menyerah hingga rela bekerja di usia yang masih dini. Karena itu kami pernah berniat menjadikannya sebagai anak angkat kami," ucap Bu Indah.

Ternyata keluarga Arya tak percaya begitu saja atas pernyataan Diana dan ibunya.

Untuk menepis kecurigaan keluarga Arya, Bu Ullah berusaha mengalihkan perhatian mereka.

"Oh ya, sampai lupa. Minumannya silakan diminum dulu juga kuenya silakan dicicipi," ucap Bu Ullah.

Diana menuangkan minuman itu ke dalam gelas-gelas yang ada di hadapannya dan menyerahkannya kepada Arya dan calon mertuanya.

Arya menerima gelas itu lalu dia memberikannya kepada Maya.

"Maya, duduk dan minumlah ini, kamu terlihat letih sekali." Arya menyerahkan gelas itu kepada Maya.

Maya mengambil gelas yang disodorkan Arya dengan seulas senyum di bibirnya.

Diana mencebik, dia tak percaya Arya melakukan itu. Galih melongo melihat perlakuan Arya kepada istrinya.

"Sayang, duduklah di sini," ucap Galih seraya memberikan ruang untuk Maya di sampingnya.

Maya pun menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya.

"Ehm ... jadi bagaimana soal rencana pernikahan Arya dan Diana. Tempo hari waktu Arya melamar Diana, kalian kan sedang umroh jadi kita belum sempat membicarakan ini," tanya Bu Ullah tak sabar.

Arya memang telah melamar Diana secara sederhana, tidak ada acara dan tidak ada pertemuan dua keluarga karena pada saat itu kedua orangtuanya ada di tanah suci Mekah. Dia hanya memberikan cincin sebagai simbolis.

"Iya, jadi tujuan kami ke sini untuk membahas itu. Kami tidak ingin menunda terlalu lama niat baik ini. Bagaimana apa keluarga Bapak Sandi Raharjo menerima lamaran putra kami?" jelas Pak Angga sekaligus bertanya.

Tampak binar bahagia di keluarga Raharjo, keingianan mereka untuk berbesan dengan keluarga Arya akhirnya sudah di depan mata.

"Kami menerima lamaran ini dan kami berharap pernikahan mereka dilaksanakan secepatnya,"sahut Bu Ullah.

Bu Indah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Diana, ini ada hadiah kecil dari kami, maaf jika Arya melamarmu dengan cara yang sangat sederhana sekali,"

Diana membelalakkan matanya saat menerima hadiah dari calon mertuanya. Dia mendapat 1 paket perhiasan lengkap yang harganya pasti sangatlah mahal.

Begitu pula keluarga Raharjo yang lainnya, mata mereka berbinar tatkala Diana membuka kotak perhiasan itu dan tampak isi di dalamnya.

"Terima kasih, Bu," jawab Diana, pandangannya tetap fokus pada perhiasan-perhiasan itu.

Setelah membicarakan soal hari pernikahan, akhirnya mereka sepakat akan menggelar acara resepsi pernikahan 3 bulan lagi.

"Jadi kita udah sepakat ya, lega deh rasanya. Sekarang waktunya kita makan bersama, pasti semua sudah merasa lapar, bukan?" ucap Bu Ullah dengan rasa bahagia.

Maya spontan berdiri dan hendak menyiapkan makanan untuk mereka.

"Maya, kamu mau ke mana?" tanya Bu Ullah.

"Mau nyiapin makanan, Bu. Kan tadi Ibu yang bilang kalau saya harus menyambut tamu sebaik mungkin," ucap Maya reflek.

"Eh, bukan begitu. Maksudnya kita nyiapin bareng-bareng, itu maksud Ibu," sahut Bu Ullah terlihat panik.

Bu Ullah tak mau jika keluarga Arya melihatnya memperlakukan Maya dengan buruk. Dia takut jika Arya akan berubah pikiran untuk menikahi Diana.

"Dikna, Diana, ayo bantu Ibu menyiapkan hidangannya," perintah Bu Ullah kepada kedua putrinya.

Maya merasa bingung melihat mertua dan iparnya, dia terlihat salah tingkah.

"Maya, kamu duduk aja udah ... daripada nanti kamu kecapekan," ucap Bu Ullah.

"I-iya, Bu." jawab Maya.

Mereka bertiga pun menyiapkan makanan yang sudah dipersiapkan Maya sebelumnya.

Setelah itu mereka semua makan bersama dengan obrolan kecil.

"May, simpen nomer ponselku. Nanti kalau Ibu pingin ngobrol atau sekedar ngajak kamu jalan biar gampang. Atau jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu bisa langsung hubungi aku," ucap Arya di sela-sela acara makannya.

"Tapi aku nggak punya ponsel, Mas. Nanti kalau ada apa-apa bilang Mbak Diana aja gak apa-apa, kok," jawab Maya.

Arya merasa heran, di era modern seperti ini bahkan anak kecil pun memiliki ponsel, justru Maya yang merupakan menantu keluarga terpandang tak mempunyai benda pintar itu.

Diana dan yang lain mendelik saat Maya jujur mengatakan tidak mempunyai ponsel, cuma Galih yang terlihat santai tak menggubris.

Lagi-lagi Diana merasa malu akan kejujuran Maya. Tangannya mengepal menahan emosi yang siap meledak.

"Maya, ponselmu yang kemarin dibelikan suamimu rusak?" Bu Ullah berkata seraya mengedipkan matanya, memberi kode agar Maya mengikuti sandiwaranya.

"Kapan aku beliin dia ponsel sih, Bu! Belum malam udah ngigau aja si Ibu," celetuk Galih yang sukses membuat keluarganya terbelalak.

Arya dan keluarganya saling pandang, mereka marasa ada yang aneh di sini.

"Eh, gampang lah Mas nanti hubungi aku aja kalau mau ngobrol sama Maya. Ponselnya Maya memang masih rusak, jadi sementara dia gak pegang ponsel." Diana ikut menyahut juga..

Related chapters

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Motivasi dari Pria Misterius

    "Maya, mau ke mana kamu?" tanya Diana begitu Arya dan keluarganya undur diri.Mereka semua mengantarkan keluarga Arya hingga ke teras depan."Mau beberes, Mbak." sahut Maya.Diana lantas menghampiri Maya dengan wajah yang memerah."Lain kali kamu jangan s*k akrab sama calon suamiku ya, aku gak suka!" Diana berkata ketus."Kami bersahabat sejak kecil, Mbak. Bu Indah dan Pak Angga dulu juga baik sekali sama aku," sahut Maya."Itu dulu! Sekarang jangan coba-coba mendekati calon suamiku, awas kamu ya," omel Diana seraya mend*rong tubuh Maya ke belakang.Nyaris saja Maya jatuh ke belakang jika saja tangannya tak menyahut pagar yang ada di sampingnya.Galih dan Pak Sandi sudah masuk ke dalam rumah. Tinggal Bu Ullah dan kedua putrinya yang masih menatap ny*lang ke arah Maya."Tuh, dengerin kalau ada orang ngomong, m!skin aja belagu!" seru Dikna.Mereka bertiga kemudian jalan beriringan masuk ke dalam rumah. Tinggal Maya sendiri yang masih mematung di depan pagar.Saat Maya hendak menutup pin

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Terbongkar

    Ucapan Hesti semakin membuat Bu Ullah semakin melambung tinggi."Kamu bisa aja, Hes. Kamu itu beda sama kakak kamu. Kalau Maya itu l*let sedangkan kamu lebih pinter," ucap Bu Hesti."Iya sih, Bu. Bapak dan Ibu juga bilang begitu. Makanya mereka lebih sayang ke aku daripada dia," ucap Hesti seraya melirik kakaknya.Maya tak menggubris ucapan adiknya, dia sudah biasa mendengar ucapannya yang pedas itu. Setiap dia mencoba melawan, kedua orangtuanya pasti akan membela Hesti."Aduh, rasanya tubuhku capek semua, Hes. Biasanya kan kalau kamu ke sini selalu nyempetin mijet Ibu," tutur Bu Ullah."Iya, nanti pasti aku pijitin, Bu. Saya kan juga pintar pijat urat jadi membuat otot ibu yamg kaku bisa kembali normal." Hesti membual.Bu Ullah lalu melirik tak suka kepada Maya yang mengamatinya."Andai kamu yang jadi menantu saya, Hes," sindir Bu Ullah.Tanpa diduga Maya yang biasanya hanya diam tak melawan, kini dia mulai bersuara."Dengan senang hati saya akan memberikan posisi saya, Bu," sahut Ma

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Minta Maaf?

    "Biar aku bantu, May," ucapnya setelah itu tanpa merasa risih, Arya berjongkok dan menyusut genangan air itu dengan kain yang ada.Diana panik, dia tak menyangka jika Arya akan melihat sikap aslinya terhadap Maya."Mas ... Mas Arya kamu tak perlu melakukan itu," ucap Diana dengan wajah cemas."Lalu apa kamu yang akan melakukannya?" tanya Arya dengan pandangan menghujam."Kak Arya, biar aku yang melakukannya. Berhenti, Kak lihat bajumu jadi basah semua," seru Maya yang merasa tak enak hati.Arya tak mempedulikan ucapan kedua wanita yang ada dihapannya, dia cuma fokus membersihkan lantai itu.Diana menatap Arya seraya menggigit-gigit ujung kukunya, kebiasaannya jika sedang panik.Setelah air berhasil ditampung lagi, Arya lantas melanjutkan pekerjaan Maya yang belum selesai, yaitu mengepel seluruh lantai."Sudah selesai, apa sekarang aku harus menyetrika bajumu juga?" tanya Arya pada perempuan yang dicintainya itu.Diana memalingkan muka, dia merasa berada dihadapkan pada situasi sulit.

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Syarat Dari Maya

    "Baiklah, Maya. Aku minta maaf ...." ucap Diana tanpa menatap Maya.Arya menghela nafas panjang, dia tahu Diana tak tulus mengatakannya tapi dia tak mau memaksa lagi."Sebenarnya tujuanku ke sini ingin mengajakmu ke butik ternama di kota ini. Ingin mencari baju pengantin yang cocok untuk kita berdua," ucap Arya.Diana dan ibunya yang semula memasang wajah ditekuk langsung sumringah begitu mendengar penuturan Arya."Iya, Nak Arya. Apalagi waktu kalian tidak banyak. Semua harus direncanakam mulai dari sekarang," ucap Bu Ullah."Tapi saat ini aku berubah pikiran, beri aku waktu untuk memikirkan ulang rencana kita," jawab Arya tegas."Apa kamu bilang?! Jangan main-main dengan ucapanmu, Arya. Ini soal harga diri keluarga Raharjo, tidak semudah itu kamu membatalkan rencana pernikahan yang sudah dibicarakan secara matang," Bu Ullah tampak begitu geram."Mas, apa yang kamu pikirkan, Mas. Cuma masalah kecil begini kamu sampai mempertaruhkan pernikahan kita?!" Diana sangat kecewa."Entahlah, ak

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Namaku Rangga

    "Ini tadi masakanku, Pak. Gulai ikan spesial, coba incipi deh, pasti lebih enak dari masakan Maya," ucap Diana bangga."Sayur dan sambelnya, Ibu yang bikin, meskipun udah lama gak masak dijamin mantul," ucap Bu Ullah tak mau kalah.Pak Sandi dan Galih menatap ragu pada makanan di depannya tapi rasa lapar yang sedari tadi ditahan, membuat mereka segera menyerbu makanan di hadapannya."Tadi sudah dicicipi, kan, Bu? Udah pas kan rasanya," tanya Pak Sandi seraya menambahkan lauk dan sayur ke atas nasinya."Belum sempat sih, Pak. Tapi takarannya udah tepat, kok," sahut Bu Ullah.Pak Sandi memasukkan sesendok nasi dan lauknya ke dalam mulut, belum juga dia sempat mengunyahnya, dia sudah menyemburkan makanan itu.HOEK!"Makanan apa ini!" serunya.Galih dan yang lainnya menaruh sendoknya lagi, mengurungkan niatnya untuk menyantap makanan itu."Ke-kenapa, Pak?" tanya Bu Ullah terkejut."Kamu incipi sendiri, udah ikannya masih amis, sayurnya asin dan ... ah gak taulah pokok gak enak banget. Jad

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Mendapat Ponsel

    "May, kamu aja yang masak ya soalnya nanti takut gak kemakan lagi," ucap Bu Ullah dengan nada rendah."Iya, ini lagi masak, Bu." sahut Maya."Ehm, nanti soal beberes rumah biar Ibu sama Diana aja. Terus kalau misal kamu capek, cuciannya dilondry aja," tutur Bu Ullah yang berhasil membuat Maya tercengang."I-iya, Bu," Maya terbata masih belum ngeh di pagi buta beginiDia merasa ada yang aneh dengan mertuanya. Dia berpikir apa mungkin yang ada di hadapannya ini bukan Bu Ullah mertuanya, tapi makhluk jadi-jadian yang menyamar menjadi mertuanya."Kamu kenapa bengong begitu," tanya Bu Ullah yang melihat Maya terpaku menatapnya."Ini beneran Ibu, 'kan?" tanya Maya takut."Iyalah, kamu pikir siapa, kan kemarin kita sudah sepakat," Bu Ullah mengingatkan Maya.Maya baru ingat kesepakatan mereka kemarin. Rupanya mertuanya itu baik karena ada maunya."Oh ... jadi karena itu," sahut Maya seraya menepok jidatnya.Maya lantas melanjutkan aktifitas memasaknya. Dengan kelihaiannya memasak, beberapa m

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Mendapat Maaf

    "Apa kamu tidak punya baju yang lebih bagus lagi hingga harus memakai baju kumel itu?" tanya Diana ketus."Gak ada, Mbak. Ini baju terakhir yang aku beli, jadi ini bajuku yang paling bagus," sahut Maya.Diana menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa pusing melihat Maya."Ya udah, ayo pergi!" ajak Diana.Kedua perempuan itu pergi menggunakan mobil milik Diana. Sepanjang perjalanan, Diana tak banyak bicara, Maya juga tak banyak bertanya ke mana mereka akan pergi."Ayo turun!" perintah Diana begitu mereka tiba di depan butik di pusat kota."Kita mau belanja, Mbak?" tanya Maya.Diana tak menjawab, dia lantas masuk ke dalam butik diikuti Maya di belakangnya.Diana memilih beberapa pakaian yang menurutnya bagus, setelah itu dia meminta Maya untuk mengganti bajunya.Setelah dia membayar barang belanjaannya, dia mengajak Maya ke tempat tujuan selanjutnya."Setelah ini kita akan ke rumah Mas Arya," ucap Diana saat mereka sudah berada di dalam mobil.Maya mengangguk, dia sudah menduganya seda

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Sempat Terpana

    Sepulangnya dari rumah Arya, wajah Diana terlihat lebih sumringah. Dia bahagia karena akhirnya kekasihnya itu mau memaafkannya dan melanjutkan rencana pernikahannya."Bagaimana, Na. Apa Arya memaafkanmu?" tanya Bu Ullah begitu putrinya datang."Iyalah, Bu. Mas Arya kan cinta banget sama aku, jadi gak mungkin dia benar- benar marah," sahut Diana."Oh gitu. Jadi kemarin marahya Arya itu cuma gertakan aja?" tanya Bu Ullah memastikan."Eh, gak tahu juga sih, tapi yang pentimg rencana pernikahan kami tetap berjalan, Bu," ucap Diana dengan wajah berbinar.Maya yang menyaksikan obrolan mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, karena gak mungkin juga Bu Ullah dan Diana melibatkannya, begitu pikir Maya."Maya, kamu mau ke mana?" tanya Bu Ullah yang melihat Maya ngeloyor begitu saja."Mau ke kamar, Bu. Kenapa?" tanya Maya balik."Enak aja datang-datang main ke kamar, noh di dapur banyak cucian piring," cibir Bu Ullah."Iya, ini mau ganti baju dulu," sahut Maya jengah.Maya akhirnya menggan

Latest chapter

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Anugerah Untuk Maya dan Rangga

    Acara di ballroom hotel berlangsung dengan meriah. Banyak kerabat, tetangga, relasi dan rekan bisnis Rangga yang datang memenuhi undangan itu.Maya sempat merasa minder berada diantara mereka semua. Dia baru menyadari jika sang suami adalah orang yang diperhitungkan dalam bisnis interiornya. Rata-rata mereka yang datang dari kalangan atas, terlihat dari penampilan mereka yang berbeda.Rangga tak membiarkan istrinya merasa sendiri, dia tak pernah melepas tangan Maya, bahkan dia selalu melibatkan Maya di saat berbaur bersama teman-temannya.Saat tengah asyik mengobrol, Maya melihat seseorang yang dikenalnya. Beberapa kali dia meyakinkan pandangannya bahwa apa yang dilihatnya itu benar adalah Kinan.Kinan dan Radit memang sengaja datang ke pesta pernikahan itu. Mereka ingin memberikan kado spesial untuk Maya dan Rangga."Maya, selamat ya. Akhirnya kalian bisa bersama." Kinan memberikan selamat seraya memeluk Maya."Terima kasih, Mbak sudah menyempatkan datang ke sini jauh-jauh," sahut Ma

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Perginya Sang Biang Onar

    "Yaa ... aku terlambat!" sahut Hesti dengan rona wajah kecewa dan pasrah."Busyet ... ini bocah baru bangun langsung liat acara nikahan! Mandi sono, gih! Masih ileran gitu," Bi Ijah negur Hesti yang masih memakai baju tidur s*ksi."Syirik aja jadi orang, terserah dong aku mau ngapain," jawab Hesti ketus, perempuan itu lalu kembali ke kamarnya."Astaghfirullah ...." Bi Ijah beristighfar sambil mengelus dada setelah kepergian Hesti.Setelah acara akad nikah selesai, Penghulu menutupnya dengan acara doa bersama dan setelahnya mereka semua pun merayakannya dengan menikmati hidangan yang sudah disediakan.Sementara Maya dan Rangga mendapat banyak ucapan selamat dari orang-orang di sekitarnya. Mereka juga sudah mengabadikan momen spesial itu dengan berfoto ria bersama. Beberapa saat lamanya mereka berinteraksi dengan semua tamu yang hadir, hingga Rangga berniat untuk mengajak Maya istirahat sebentar di kamar karena nanti malam acara akan dilanjutkan di ballroom sebuah hotel bintang 5."Saya

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Akhirnya Sah!

    "Lah, gimana sih Mbak. Semua harus minta ijin dan nurut sama kamu. Iya, aku dan Aldo memutuskan untuk tinggal di sini, rumah ini besar, fasilitasnya lengkap, jadi aku juga pingin tinggal nyaman di sini," tutur Hesti ringan."Jangan ngaco kamu, Hes! Ini rumah Mas Rangga, kamu gak bisa seenaknya tinggal di sini tanpa ijin darinya," sahut Maya geram.Hesti melotot, sementara Aldo malah asyik bermain ponsel di ranjang, tak peduli dengan kemarahan Maya."Mas Rangga pasti ngijinin aku tinggal di sini! Jangan khawatir besok aku akan bilang sendiri sama orangnya," sahut Hesti menatap Maya tajam.Hesti lalu mendorong tubuh Maya untuk mundur sedikit, lalu dia menarik tangan kakaknya untuk menjauh dari kamarnya, tak ingin Aldo mendengar ucapannya."Apaan sih, Hes?!" tandas Maya seraya melepaskan cekalan tangan Hesti."Mbak, asal kamu tahu aja ya. Kamu itu cuma beruntung karena kamu lah orang pertama yang bertemu dengan Mas Rangga, seandainya dia ketemu aku duluan, yakin deh dia bakalan jatuh cin

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Bertambah Satu Si Biang Onar

    Sebelum maghrib Bu Lina, Andika, dan Lia sudah datang ke tempat Maya. Mereka ikut pengajian yang diselenggarakan di rumah itu, mengingat itu juga adalah rumah Bu Lina dan para tetangga sudah mengenalnya. Mereka datang diantarkan oleh orang suruhan Rangga, setelah itu orang itu pun pergi dan akan datang lagi nanti saat acara selesai.Setelah maghrib, Bu Indah dan Arya juga datang atas permintaan Maya. Kedatangan Arya ke situ untuk membantu Maya menyiapkan segala keperluan dari pihak keluarga perempuan karena Maya tak mempunyai saudara laki-laki.Saat bertemu dengan Lia, Arya terlihat begitu bersemangat. Dia mulai sering mencuri pandang dan kadangkala mereka kedapatan mengobrol berdua.Hal itu tentu saja tak lepas dari pengamatan Bu Indah dan Bu Lina, selaku ibu dari Lia.Rangga tak ikut serta karena Bu Lina tak mengijinkannya datang sebelum akad nikah besok pagi. Maya keluar dengan balutan gamis putih yang lembut dan elegan, pemberian dari Rangga. Dengan riassan modern dan natural, di

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Memaafkan Diana

    Sore itu, rumah sudah dibersihkan oleh Bi Ijah dan Bu Romlah juga dibantu oleh para tetangga. Pengajian akan digelar nanti setelah maghrib."Mbak, tinggal menunggu kiriman kuenya. Harusnya sudah dikirim dari tadi, sih tapi ini sampai jam segini kok belum datang ya," tutur Bi Ijah khawatir."Tenang, Bi. Masih ada waktu sekitar 2,5 jam. Sebentar lagi pasti akan datang," sahut Maya optimis."Itu, tuh kalau kebanyakan dosa, acaranya gak bakalan lancar!" seru Hesti tanpa merasa bersalah."Tutup mulutmu, Hes!" tandas Bu Romlah geram dan Hesti pun melengos.Tak lama sebuah mobil warna putih berhenti di depan rumah. Seorang wanita turun dari mobil itu, sedangkan pria yang bersamanya membuka jok belakang untuk mengambil kue pesanan Maya.Melihat wanita itu, Maya tercekat. Dia sangat mengenal siapa yang kini sedang dilihatnya. Tak salah lagi itu Diana tapi dengan penampilan yang tak seperti biasanya.Diana terlihat lusuh, wajahnya pun bebas dari make up seperti yang biasa dia pakai. Wajah perem

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Adik yang Menyebalkan

    "Hes, kalau kamu lapar, makan nasi yang Ibu bungkus dari rumah tadi. Lagipula kamu tadi juga udah makan, kok sekarang minta makan lagi," celoteh Bu Romlah."Beda, Bu. Aku ngidam pingin makan makanan yang dimasak sama Mbak Maya sendiri," sahut Hesti seenaknya.Maya yang sudah paham akan sifat adiknya, akhirnya bersuara. Dia tak mau terus menerus dimanfaatkan oleh Hesti karena semakin dia menerima dan mengalah maka adiknya itu akan semakin menjadi, sifatnya hampir sama dengan Pak Amir, bapaknya."Kalau kamu lapar, ambil sendiri makanan yang ada di meja makan. Jangan suka main perintah seenak kamu, di sini jangan bertingkah seperti di rumahmu sendiri," ucap Maya penuh penekanan."Mbak kok kamu gitu, sih. Aku ini lagi hamil, loh! Jangan ketus sama orang hamil, bisa kualat kamu nanti!" sahut Hesti, tak terima."Jaga sikapmu, Hesti! Kalau sikapmu masih saja seenaknya, mending kamu pulang saja!" Bu Romlah merasa geram."Ibu ini kenapa, sih jadi belain Mbak Maya terus? Apa karena Mbak Maya ba

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Hari Yang Semakin Dekat

    Maya segera mengalihkan perhatian wanita itu. Dia meminta Bu Indah untuk memanggil keduanya, sedangkan Maya menyiapkan minuman untuk mereka semua.Saat makan bersama, sesekali mereka mengobrol untuk memanfaatkan waktu yang ada."Lia, jadi setiap harinya kamu sibuk apa?" tanya Bu Lia memancing."Saya sekolah desain mode dan tekstil, Bu. Mas Rangga ingin saya terjun ke dunia fashion karena itu passion saya, jadi dalam waktu dekat, Insya Allah saya akan membuka usaha konveksi kecil-kecilan," jelas Lia apa adanya."Wah, hebat banget masih muda tapi sudah punya jiwa wirausahawan," sahut Bu Indah kagum.Arya pun nampak kagum dengan cara gadis itu menjelaskan, tak ada kesombongan, gadis itu malah terkesan merendah di hadapan setiap orang.Sesekali Arya terlihat memperhatikan Lia saat di meja makan. Maya dan Bu Indah yang tahu akan hal itu pun saling melempar senyum. Setelah acara makan bersama selesai, Bu Indah memanggil Maya sebentar untuk menunggunya. Bu Indah masuk ke kamar dan mengambil

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Arya Mulai Membuka Hati

    Ternyata asisten yang dimaksud Siska adalah Dikna, mantan adik ipar Maya yang juga merupakan putri bungsu keluarga Raharjo.Dikna bekerja di salon itu semenjak ayahnya ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Selama ini dia selalu mendapat sokongan dana dari sang ayah jadi tidak pernah merasa kekurangan, tapi semenjak ayahnya di penjara otomatis keuangannya pun berantakan karena hanya mengandalkan gaji suaminya yang tak seberapa.Dikna lantas menghambur memeluk Maya dengan tangisan pecah."Mbak Maya, maafkan aku, Mbak." ucap Dikna tergugu.Maya tercekat, dia masih belum bisa menguasai keadaan. Maya juga tak menyangka jika adik ipar yang selalu sinis kepadanya selama ini tiba-tiba memeluknya."Dikna, ada apa ini?" tanya Maya bingungDikna melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata yang membasahi pipinya."Mbak, maafkan aku jika selama ini aku selalu bersikap gak baik sama kamu," ucap Dikna dengan mata mengembun.Maya menghela nafas panjang, dia sudah berusaha melupakan apa yang p

  • Bu, Aku Menantu Atau Babu?   Bertemu Dikna

    "Lalu untuk apa kamu ke sini? Apa kamu masih butuh dengan ibumu ini? Ibu yang selama ini selalu membuatmu menderita, Ibu yang tak dapat melindungi anaknya? Buat apa kamu ke sini, May? Harusnya kamu menikah saja, tak perlu kamu memberitahu Ibu jahatmu ini!" seru Bu Romlah dengan air mata yang mulai tumpah."Ibu?" Maya tak menyangka reaksi ibunya akan seperti itu.Bu Romlah menangis tersedu, hatinya sangat sakit melihat Maya ada di depannya. Bayangan masa lalu di mana dia selalu menyia-nyiakan putri kecilnya kembali melintas. Saat dia sering mendaratkan pukulan di tubuh ringkih Maya kecil. Saat dia abai mendengar rengekan Maya kecil karena kelaparan dan masih banyak bayangan penderitaan lain yang dialami Maya karena dirinya bermunculan.Maya mendekati ibunya, rasa tak tega melihat wanita yang telah melahirkannya itu menangis membuatnya hatinya ikut teiriris."Ibu kenapa?" tanya Maya seraya menyentuh tangan ibunya."Ibu terlalu buruk, Maya. Ibu tak pantas mendapatkan putri sebaik kamu.

DMCA.com Protection Status