LOGINYoung Angelica saw the world through rose tinted glasses until the night her father was murdered before her very eyes. Will Angelica avenge her father's murder or will she become the next victim in a murderer's twisted plot of revenge?
View More"Alya! Kamu ngepelnya gimana sih? Lantai masih licin gini, kalau orang jatuh siapa yang tanggung jawab?!”
Alya buru-buru meraih kain pel dan berjongkok. Tangannya bergerak cepat menyeka sudut lantai yang tadi mungkin terlewat. “Maaf, Ma. Tadi aku buru-buru berangkat kerja, jadi belum sempat pel ulang,” ucap Alya lirih. “Alasan terus! Kerja cuma jaga kasir aja kayaknya udah kayak gaji puluhan juta. Biarin kamu tinggal di sini aja, aku udah amal besar, tau nggak?!” Alya tak menjawab. Sejak kecil, ia terbiasa hidup seperti itu. Menjadi “anak angkat” Maya berarti tak boleh menuntut apa pun. Ia tahu statusnya. Ia hanya numpang hidup. Namanya Alya, dua puluh dua tahun. Sejak umur lima tahun, ia tinggal bersama Maya, perempuan yang mengaku kasihan melihatnya di panti asuhan. Tapi kenyataannya, hidup di panti dulu justru terasa lebih tenang daripada di rumah ini. Alya dituntut menjadi tulang punggung. Ia sekolah sampai SMA karena beasiswa. Selebihnya, ia bekerja sebagai kasir di minimarket dekat rumah, dan semua gajinya diserahkan ke Maya tanpa sisa sepeser pun. "Buat bayar listrik, air, makan. Kamu pikir tinggal di sini gratis?" begitu alasan Maya, tiap kali Alya memberanikan diri menyisihkan uang untuk beli sabun atau pembalut. Hari itu, Maya berdandan rapi. Lipstik merah menyala, baju baru yang belum pernah Alya lihat sebelumnya, dan parfum yang terlalu menyengat, ia melirik Alya yang tengah menyapu kamar. “Kamu jangan pulang malam-malam. Besok kita mulai pindahan.” Alya berhenti menyapu. “Pindahan ke mana, Ma?” “Ke rumah Pak Arman. Mulai minggu depan kita tinggal di sana.” Alya menoleh. Matanya membulat. “Pak Arman? Suaminya Tante Ratri?” Maya memutar bola matanya, lalu menyemprotkan parfum sekali lagi. “Dia duda sekarang, Ratri udah meninggal tiga bulan lalu. Kamu pikir dia mau terus hidup sendiri? Lagian, aku sahabatnya juga. Nggak salah dong kalau aku yang nemenin dia sekarang.” Alya menatap lantai. Kata-kata Maya terdengar dingin dan ringan, seolah kematian Ratri bukan apa-apa. “Ma, ini bukan soal siapa tinggal sama siapa, tapi Tante Ratri baru meninggal. Masa secepat itu?” Maya menoleh cepat. “Secepat apa itu urusan orang hidup, bukan yang udah mati.” Alya memberanikan diri bicara lebih jujur. “Aku cuma ngerasa nggak enak, Ma. Nggak baik manfaatin orang pas lagi berduka, apalagi itu suami sahabat Mama sendiri...” Suara Maya meninggi. “Kamu pikir kamu siapa, ngajarin aku hidup?” Alya terdiam. Suaranya sempat ingin keluar, tapi terjebak di tenggorokan. “Aku cuma mau hidup lebih enak. Aku capek hidup susah, capek ngurusin kamu juga. Kamu tuh udah gede. Udah waktunya tahu diri,” lanjut Maya, mengangkat alis. “Kita bakal hidup enak, ngerti nggak? Nggak usah naik motor tua lagi, nggak usah ngirit sabun. Kamu pikir aku nggak berhak bahagia juga?” Alya menunduk. “Tapi jangan pakai cara itu, Ma. Nggak pantas. Kalau Tante Ratri tahu...” “Udah cukup, Alya!” bentak Maya. “Jangan sok suci deh. Kamu itu anak kecil yang cuma bisa ngabisin duit. Lagian, kamu juga bakal ikut tinggal di rumah besar, tidur di kamar yang luas, kasur yang empuk, pakai AC, makan tiap hari tanpa mikirin bayar nasi. Kamu harusnya bersyukur!” Alya tetap diam. Di hatinya, ada rasa tidak enak. Bukan hanya karena Maya akan menikah dengan suami sahabatnya sendiri, tapi juga karena ia akan ikut tinggal di rumah itu. Rumah milik seseorang yang masih berduka, seseorang yang punya anak lelaki, bernama Revan. --- Tiga hari kemudian, mereka resmi pindah. Rumah itu jauh berbeda dari yang biasa Alya tinggali. Besar, sepi, rapi. Setiap langkah kaki terdengar memantul di dinding. Di depan pintu, Arman menyambut mereka dengan senyum. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir Alya lihat. Wajahnya menyimpan gurat kehilangan yang belum sembuh. “Selamat datang, Maya. Alya juga,” ucap Arman pelan. Maya menggandeng lengan Arman, tertawa kecil. “Akhirnya ya rumah ini ada lagi yang ngurus.” Alya hanya tersenyum sopan. Dari lantai atas, suara langkah kaki terdengar. Seorang laki-laki turun perlahan. Tatapannya tajam dan dingin. Itulah Revan, anak tunggal Tante Ratri dan Pak Arman. Usianya dua puluh lima tahun. Alya mengenalnya hanya sebatas pernah bersalaman di acara arisan dulu. Kini, matanya menatap Maya tanpa senyum. Lalu pindah ke Alya. Tatapan itu tidak ramah. Arman berdeham. “Revan, ini Maya dan Alya. Mereka akan tinggal bersama kita mulai hari ini.” Revan berdiri di anak tangga terakhir, tidak menjawab. Wajahnya sulit dibaca. Maya maju setengah langkah, mencoba tersenyum meski gugup terlihat jelas di wajahnya. “Revan…Mulai sekarang Tante akan jadi mama kamu.” Revan mengernyit pelan, lalu tertawa kecil. "Apa kamu bilang? Mama?” Maya mengangguk pelan. “Iya. Mungkin butuh—” Revan mengangkat tangan, memotong kalimat itu. “Dengar. Nggak ada yang bisa gantiin posisi Mama di rumah ini. Jadi jangan harap aku bakal panggil kamu dengan sebutan Mama.” Maya terdiam. Senyumnya pudar, tapi ia tidak membalas. Alya memberanikan diri untuk bicara, meski suaranya pelan. “Hai, aku Alya…” Revan menoleh sekilas, ekspresinya tidak berubah. “Aku nggak peduli kamu siapa. Buat aku… kalian cuma orang asing yang tiba-tiba numpang tinggal.” Alya menarik napas, mencoba tetap tenang walau ucapannya jelas menusuk. Arman mendekat, suaranya kini lebih tegas. “Revan, cukup. Papa tahu ini berat, tapi kamu harus terima. Ini keputusan Papa.” Revan menatap ayahnya, tatapannya tajam. “Berat? Tiga bulan Mama pergi, dan Papa udah bawa perempuan lain ke rumah ini. Itu bukan berat, Pa. Itu kurang ajar.” Suasana langsung hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Maya mencoba meredakan ketegangan. Suaranya pelan, hati-hati. “Revan, Tante ngerti ini nggak gampang buat kamu, tapi—” Revan langsung menyela, tanpa menatap Maya. “Udah. Aku nggak butuh penjelasan.” Arman menarik napas dalam. “Maafin Revan, ya... Dia sebenarnya anak yang baik. Cuma dia belum bisa nerima kepergian Mamanya.” Maya menoleh padanya. “Enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok. Dia masih berduka, dan mungkin kedatangan aku dan Alya terlalu cepat buat dia.” Alya yang sedari tadi berdiri di sisi Maya ikut angkat bicara. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan isi hatinya. “Kayaknya... dia juga enggak suka sama Alya, Om.” Arman menoleh pada gadis itu, lalu tersenyum sambil menggeleng. “Enggak, bukan gitu. Revan butuh waktu buat nerima semuanya. Termasuk kalian.” Alya mengangguk pelan. Meski tak banyak bicara, jelas raut wajahnya masih menyimpan ketegangan. “Yaudah, sekarang kalian istirahat dulu, ya.” Arman berdiri dan menunjuk arah lorong. “Alya, kamar kamu ada di sebelah kamar Revan. Di pojok, yang jendelanya menghadap taman kecil itu.” Alya mengangguk lagi, kali ini lebih ringan. “Terima kasih, Om.” Arman menoleh padanya dan tersenyum hangat. “Panggil Papa dong… sekarang kita kan sudah jadi keluarga.” Alya sempat terdiam, agak ragu. Matanya menatap Arman sekilas sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Iya, Om… eh—iya, Pa,” ucapnya pelan, sedikit canggung. Arman mengangguk puas, menepuk pelan bahunya. “Gitu dong. Nggak usah sungkan, anggap rumah ini rumah sendiri, ya.” Alya hanya mengangguk lagi, tapi dalam hatinya, ia tahu semuanya tidak akan semudah itu.The next morning they were both pleasantly exhausted, but not too exhausted to enjoy each other again before getting up to go to Mr. Simcoe's home. They were due there by noon.They made it to Mr. Simcoe's just before their appointment, they would have been late if Angie hadn't put a stop to Roderick's roaming hands. When they knocked the butler announced them to Mr Simcoe in his study. "Good afternoon, I hope you are enjoying married life?" Angie blushed, a very becoming pink, before she could catch herself. "Come have a seat, I'm sure you're both curious about why I summoned you." Once they were seated and they both had their drinks Mr Simcoe continued, "Lady Angelica, when your father was alive he taught you how to decode, I know because he told me. I have a document here that is very important, it could mean the death of many if in the wrong hands, Whitehall needs you, dear, we need you to decode this document for me so we can get our people out of France safely. Will you help?" B
"I've always loved children and biologically or not this child is mine, it will be a little Greenland regardless of blood. Blood doesn't matter to the Greenland's, we love each other anyway." "I don't understand." She heard every word he said, but they didn't make sense."I'm not Max's biological son, my mother was raped before she met father and when he proposed, she denied him because she was with child. Max didn't care she was pregnant, he loved her and he wanted us both in his life. He married my mother as she was giving birth to me, he didn't have to make me his heir, but he said I was his son, so I was his heir. He would have never told me if my mother's rapist hadn't approached me and bragged about what a good lay my mother was. He's dead by the way, I challenged him and killed him. Max told me everything after the duel. It took me a while, but I finally accepted that my biological father forced himself on my mother and the man that I grew up knowing as my father wasn't, but I
"Good, now here's Ann with your breakfast tray. Eat your meal and we'll start the day and I'll get a new daughter." Lady Arlene left as Angie was taking dainty bites of toast.************************************************************Roderick's breath caught in his throat when he saw Angie walking down the grand staircase on Mr. Simcoe's arm in a splendid white gown with pearls delicately stitched into the bodice. It showed her magnificent cleavage almost causing him to swallow his tongue.He barely registered his brother's in drawn breath or that the room was instantly quiet, he only had eyes for Angie and her beautiful smile. He took a step toward the stairs but stopped when he felt the pressure of his brother's hand on his shoulder and his whispered, "patience" . He stood fidgeting restlessly watching her slow progress to the makeshift altar in the formal parlor. When she finally stopped before him Roderick was a nervous wreck.They stood facing each other and Roderick took a fi
The son was just starting to rise when she woke up with an unsettled stomach, she wasn't sure if it was from the baby or from her nervousness over the upcoming vacancies. and knocked on the door and entered as she was baid to do. "Lady Arlene sent me up to make sure you were awake and ready to start the day. Your dress has been completed and we need you to check the fitting. Come on, child, we have a long day ahead of us, we have a dress fitting, a wedding, a wedding ceremony, and the wedding night. We have to get started or we're going to be late!" "I'm up, I'm just a little queasy at the moment, so please give me a few moments. Could you get me some tea and toast to settle it please? I'll be ready as soon as possible." "Yes ma'am." Ann bought a curtsy and left the bed chamber only to be replaced by Lady Arlene, Barbara, Lily and a few maids. They all spread out like they were an army battalion executing maneuvers against an opposing side. It was a little daunting to see these wom






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.