LOGIN“Carry out the execution." These are the last words Annalisa hears as she's betrayed by those she once called family, falsely accused of a murder she didn't commit, and sentenced to death. At the precipice of her execution, Annalisa makes a desperate plea for justice. In that moment, something—or someone—listens. Annalisa awakens months in the past, before her life falls into ruin, with all her memories intact. Armed with knowledge of the future and a burning desire for vengeance, she vows to rewrite her destiny and make her enemies pay. Can she?
View MoreRong Tian melangkah mundur ke bagian terdalam kamarnya dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Suara kaki empat sosok tinggi besar mengenakan topeng terasa mengancam.
Dia tahu, ini mungkin akan menjadi malam terakhirnya...
>>>
Kota Biramaki perlahan tenggelam dalam keheningan malam. Jalanan yang ramai tadi siang kini sepi, hanya diterangi oleh lentera-lentera temaram yang bergoyang ditiup angin.
Suara langkah petugas penjaga malam berderap di kejauhan, mengumumkan bahwa waktu kentongan pertama telah tiba.
Teng – teng – teng. Suara kentongan bergema, menandakan awal malam yang panjang.
Namun, di sebuah kamar sempit dan sederhana di belakang rumah megah Wakil Menteri Adat dan Budaya Kekaisaran Bai Feng, Rong Tian masih terjaga. Kamar itu, meskipun kecil, menjadi saksi bisu kegelisahan yang menggerogoti hatinya.
Hari ini, pengumuman ujian negara telah diumumkan, dan Rong Tian dinyatakan gagal.
Sebagai anak kusir kereta wakil menteri, kehidupan Rong Tian sebenarnya terbilang cukup terpelajar.
Sejak usia delapan tahun, dia sering mengikuti pelajaran sastra dan musik yang diajarkan oleh guru khusus Nona Zhao Hua, putri Wakil Menteri Zhao Ming. Hubungan mereka awalnya hanya sekadar pertemanan, namun seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Rong Tian pernah berjanji pada Zhao Hua bahwa dia akan lulus ujian negara dan menjadi pejabat kekaisaran, agar layak melamarnya.
Namun, nasib berkata lain. Meskipun Guru Hui Yan, pengajar sastra dan seninya, yakin bahwa kemampuan Rong Tian lebih dari cukup untuk lulus, kenyataan pahit harus diterimanya.
Di kejauhan, suara penjaga malam terdengar keras, memecah kesunyian malam.
“Kuncilah pintu rapat-rapat! Jangan beri peluang pada pencuri! Periksa lagi api di dapur, ini musim panas. Jangan biarkan api membakar rumah kalian!”
Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan.
Tok – tok – tok.
Jantung Rong Tian berdegup kencang. Adrenalinya langsung memuncak. “Zhao Hua?” pikirnya, harap-harap cemas.
Seharian setelah pengumuman kegagalannya, Rong Tian berusaha menahan diri untuk tidak menjumpai kekasihnya. Dia tak ingin Zhao Hua melihatnya dalam keadaan lemah dan penuh kekecewaan.
Dan, malam ini, seperti biasa, mereka seharusnya bertemu di taman belakang, diam-diam, untuk berbagi cerita.
NGIIK! Suara pintu berderit ketika dibuka.
Namun, kata-kata Rong Tian terhenti di ujung lidah. Bukan Zhao Hua yang berdiri di depan pintu.
Empat sosok pria bertubuh tinggi besar menghalangi pandangannya. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tertutup rapat, hanya menyisakan mata yang memancarkan aura dingin dan mengancam.
“Si–siapa kalian?” Rong Tian bertanya, suaranya gemetar, meskipun dia berusaha keras untuk tetap tenang. Ia berjalan mundur di kamarnya yang kecil. Namun tak ada ruang lagi untuk melarikan diri.
“Siapa kami?” suara serak salah satu pria bertopeng menjawab, dingin dan tanpa emosi. “Kamu akan tahu setelah dibawa pergi dari kediaman wakil menteri!”
Kalimat itu menjadi hal terakhir yang didengar Rong Tian sebelum segalanya berubah gelap. Sebuah pukulan keras mendarat di batang lehernya, menghilangkan kesadarannya seketika.
Keempat pria bertopeng itu bergerak cepat dan terlatih.
Mereka menyeret tubuh Rong Tian dengan hati-hati, seolah menghindari meninggalkan jejak yang tidak perlu.
Yang mengejutkan, mereka tampak sangat akrab dengan tata letak kediaman wakil menteri. Mereka melewati lorong-lorong sempit, bahkan area yang jarang dilewati oleh penjaga sekalipun, seolah sudah menghafal setiap sudutnya.
Tak lama, mereka tiba di bagian belakang kediaman. Di sana, sebuah kereta kuda sudah menunggu, ditarik oleh dua ekor kuda yang tampak kuat dan terlatih.
Keempat pria itu melemparkan tubuh Rong Tian ke dalam kereta dengan gerakan cepat namun terukur.
Tanpa membuang waktu, kereta itu segera bergerak, melesat ke arah barat, meninggalkan kediaman wakil menteri tanpa jejak.
Malam yang sepi pecah oleh derap kaki kuda yang berirama, membawa sosok Rong Tian menjauh dari segala yang dia kenal. Tak ada yang melihat, tak ada yang mendengar, dan tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan harinya, kediaman wakil menteri gempar. Rong Tian dinyatakan hilang.
Banyak yang berspekulasi bahwa dia, putus asa karena kegagalannya dalam ujian negara, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Lautan Donghai, lautan luas di sisi utara Kota Biramaki.
Namun, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada pemuda itu.
>>>>
Rong Tian terbangun, sinar matahari menyilaukan matanya.
“Kepalaku sakit. Apa yang terjadi?” bisiknya pelan, mencoba meluruskan tubuhnya yang pegal.
Namun, seketika dia terkejut. Tangan dan kakinya terikat erat dengan tali tambang yang kasar.
Lebih mengejutkan lagi, dia menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam kereta kuda yang berguncang, melaju ke suatu tempat yang tidak dia ketahui.
“Bagus! Kamu sudah bangun,” suara serak yang familiar terdengar dari sudut kereta.
Rong Tian menoleh ke arah suara itu dan melihat tiga sosok pria berpakaian serba hitam. Kali ini, mereka tidak lagi mengenakan topeng, memperlihatkan wajah-wajah yang keras dan tak bersahabat.
“Aku ditawan. Entah oleh siapa? Dan aku tak tahu apa kesalahanku...” gumamnya pelan, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Sebagai seorang terpelajar, Rong Tian tahu dirinya dalam bahaya. Namun, dia berusaha tetap tenang, mencari celah untuk berpikir jernih.
“Tuan, apa salahku? Mengapa aku ditawan? Aku bukan orang penting. Tolong lepaskan aku...” katanya, mencoba membujuk dengan nada merendah.
Namun, bukannya belas kasihan yang dia dapat. Sebaliknya, salah satu pria dengan bekas luka di wajahnya menghampiri dan menamparnya keras.
PLAK!
“Bocah tak tahu diri! Sudah syukur kami tidak diperintah membunuhmu. Masih saja bertanya-tanya, apa kesalahanmu!” pria itu meludah ke wajah Rong Tian setelah melepas tamparannya.
Rong Tian terdiam, menahan rasa sakit yang menyebar di pipinya. Tamparan itu begitu keras, hingga sebagian giginya terasa goyah. Dia bahkan bisa merasakan aroma amis di mulutnya, pertanda bahwa darah mulai mengalir.
Meskipun begitu, dalam keheningan, tatapan mata Rong Tian melotot tajam ke arah pria yang menamparnya. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya keinginan untuk tahu, untuk memahami mengapa ini terjadi padanya.
Pria itu tampak semakin marah. “Kamu menantangku, bocah?” suaranya menggeram, tangannya sudah mencabut belati dari pinggangnya, siap menggorok leher Rong Tian.
Namun, pria bersuara serak yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu segera menahan tangan pria berbekas luka.
“Hentikan! Kita diminta hanya membuangnya di Gurun Hadarac! Tidak untuk menghabisi dia di sini! Biarkan dia disantap serigala lapar atau hewan buas lainnya di padang gurun! Dia tetap akan mati!”
Mendengar kata-kata itu, bulu kuduk Rong Tian berdiri.
“Gurun Hadarac? Tempat terkutuk itu?” pikirnya, jantungnya berdegup kencang.
Pemimpin kelompok itu mendengus dingin. "Mengapa terkejut? Orang miskin sepertimu berani berhubungan dengan gadis bangsawan. Bukankah Gurun Hadarac tempat yang pantas untuk menghukum rakyat jelata sepertimu?"
>>>
Gurun Hadarac bukan sekadar padang pasir gersang. Konon, tempat itu dihuni oleh makhluk buas, binatang iblis, dan bahkan hantu-hantu gentayangan yang lapar.
Siapa yang tega memerintahkan pembunuh bayaran untuk membuang Rong Tian ke tempat seperti itu? Pertanyaan itu menggelayut di hatinya, membakar rasa penasaran dan ketidakrelaannya.
“Setidaknya beri tahu siapa yang memerintahkan ini, dan apa motifnya membuatku sengsara begini. Aku tak rela mati dalam keadaan penasaran!”
Bersambung
90JANETThe night felt endless as I tossed and turned, caught in a whirlpool of nightmares. Each time I closed my eyes, Marcus’s screams echoed in my mind, piercing the dark like a knife. His face twisted in terror, eyes wide with panic. I could feel his fear wrap around me like a cold fog, suffocating and real.I jolted awake, my heart racing. The remnants of his screams clung to the edges of my consciousness. I tried to sit up, but my body felt heavy, as if I were dragging a weight behind me. The bed sheets were tangled around my legs, and I fought to free myself, but the dream lingered, making it hard to breathe.As I finally pulled myself upright, I felt a sharp heat on my shoulder, and instinctively, I pressed my fingers against the spot where Marcus had marked me. It burned. The area felt hot and red, a reminder of his twisted claim on me. I shivered, recalling his words echoing in my mind: *You will forever partake in my suffering and pain.*The bitterness of those words twist
89ANNALISEI stood in the clearing, the remnants of our victory still echoing in my ears, I turned to face Janet. The moment felt monumental, heavy with the weight of our shared past. I had witnessed her strength, her courage, and I knew she was ready to lead the pack into a new future.“Janet,” I began, my voice steady. “I am handing you the leadership of the pack. You are their alpha now. You have the strength and wisdom to guide them.”Her eyes widened in surprise, a mix of joy and disbelief flickering across her face. “Annalise, I… I don’t know what to say.”“Just accept it,” I encouraged her, a smile creeping onto my lips. “You’ve earned this. They need you, and I trust you to lead them well.”Janet stepped forward, her eyes filled with gratitude. “Thank you, Annalise. I promise I will do my best.”I nodded, feeling a swell of pride. “I know you will. You have always been stronger than you think.”As I turned to leave, Janet called out to me, urgency lacing her words. “Annalise,
88ANNALISEThe air was charged with energy, and I could feel the weight of the moment pressing down on us. I stood before Marcus, my heart pounding in my chest. This was it. I had to make this choice—not just for myself, but for everyone who had suffered under his cruel rule.“Marcus Blackwood,” I began, my voice steady despite the fear bubbling inside me. “You have brought chaos and destruction to this realm. Your actions have hurt so many, and now, you will face the consequences.”He sneered, his bravado still intact, but I could see the cracks in his facade. “You think you can banish me? I am stronger than you can imagine!”Ignoring his taunts, I raised the totem high above my head. The ancient symbols glowed bright, casting an ethereal light across the clearing. “By the power vested in me, I pronounce your banishment into utter darkness!”The energy crackled around me, and I could feel the pull of magic surging through my veins. The air thickened, swirling around us, and a deep,
87ANNALISEThe tension in the air was thick as Nula raised her hand. Her gesture was clear. Lemuel, the captain of the pack, stepped forward, his voice booming with authority. “We surrender! Lower your weapons!”The pack obeyed without hesitation, their eyes shifting nervously from Marcus to Nula. I could feel their fear, but it was a different kind of fear than before—this was the fear of the unknown. Would Marcus retaliate?Marcus transformed, his muscles rippling under his dark fur. He let out a furious roar that echoed through the clearing. The sound sent chills down my spine. With one swift movement, he charged at Nula, his claws extended.“No!” I shouted, but it was too late. Marcus scratched Nula with his paw and bit down hard. She went down, blood pooling beneath her, and my heart dropped.“Protect her!” I yelled, urgency racing through me. The pack quickly transformed, forming a protective ring around Marcus, but he was wild, thrashing against their hold.I clenched my fists
83SPENCERI walked into Marcus’s office, and the air felt thick with anger. Marcus stood by his desk, his fists clenched, the tension between us practically crackling. I could tell something was wrong even before he turned to me.“Why did the royal family withdraw their packs into the realm?” he deman
SPENCERPacing the floor of my living quarters, I felt the weight of my anxiety pressing down on me. Each step seemed to echo in the silence, a reminder of the tension coiling within me. The room felt too small, too confining. I ran a hand through my hair, feeling the heat of uncertainty creeping up
76SPENCERI crouched low behind the thick trunk of a tree, the cool earth beneath me grounding my thoughts. Annalise was out there, walking through the woods, unaware that I was watching her. The shadows cloaked me, hiding my presence as I studied her. She moved with a grace that was almost ethereal,
85ANNALISEThe night was charged with energy, an electric tension crackling in the air as I floated above the two armies, suspended under the eerie glow of the blood-red moon. Below me, warriors lined up, their faces a mix of fear and determination. I could feel their anxiety swirling like a storm. M






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.