Aku benar-benar termanjakan. Luar biasa gesekan tubuh kami. Terasa hangat menggelayut, aku pastikan malam ini tak akan lekas berhenti. Jack akan terpuaskan sampai pagi.
"Enghh.." Anin hanya melenguh kecil. Menahan suaranya agar tak teruar bersama udara. Masih menggigit bibir bawahnya. Bukti bahwa dia mulai menikmati ritme permainanku.
Yes! Aku tak salah dengar, Anin terus mendesah. Dia bisa merasakan nikmatnya hubungan kami malam ini, yang bisa jadi berlanjut di malam-malam selanjutnya.
"Suka kan Nin?"
Anin mengangguk cepat. Refleksnya bekerja normal. Wanita mana yang bisa memungkiri performa prima Jack.
Shit! Anin terus meracau tak karuan. Nada-nada rendah dari kepolosannya mengobarkan gairahku untuk mempercepat gerakan. Semakin cepat tak terkontrol hingga bunyi mirip tamparan akibat pertemuan kulit kami pun kian memenuhi ruangan.
Aku mendesahkan namanya.
Desisan demi desisan kami bersahutan. Anin tak protes sedikitpun. Sekali
Ditunggu like dan komentarnya ya gaesssss
Aku melewati kamar Anin saat hendak turun. Entah mengapa hatiku tergelitik untuk kembali dan membuka pintu surga itu. Ini godaan yang tak bisa ditepis. Normal kan? Klek! Anin yang sedang berhadapan dengan meja rias sontak menatap gugup ke arahku. Bahasa tubuhnya yang mengaku kusambut dengan senyuman kecil, seraya menggeser slot pintu. Mencari aman dari ketahuan. Beberapa langkah kutapak untuk mendekatinya, berjongkok di depannya yang tampak tegang. Dari jatak ini saja aku bisa mencium harum tubuh belianya. Aku suka, Jack juga. Aku harus menyapa gadis manis yang semalaman memanjakan Jack dalam kepuasan dengan nada kelembutan. Membagi kenyamanan yang menegaskan rasa aman. "Pagi Nin.." "Pa..pagi juga Kak.." Jawabnya sambil terus menghindari tatapanku. Gugup itu tak bisa mengatup. Sementara hasratku padanya selalu meletup. "Maaf tadi meninggalkanmu sendiri, saat aku bangun sudah pukul empat subuh, jadi aku bergegas kembali ke kamar
*** Sepanjang perjalanan Anin hanya diam. Dia tak banyak menanggapi saat aku mencoba berbasa-basi untuk merilekskan suasana di antara kami. Sampai juga aku di depan sekolah Anin. Dia segera memutar tubuhnya untuk turun. Namun dengan sigap tanganku menahan lengannya. "Nin.." "Ehh.." Dia kaget. Kuputar kembali tubuhnya agar menghadapku. "Pulang jam berapa?" "Jam.. Jam lima." "Sore amat?" "Anin ada bimbel." "Oh.. Oke nanti aku jemput di tempat bimbelmu. Cendikia bimbel kan?" Anin mengangguk pelan. Sejenak kemudian dia berubah pikiran. "Anin bisa pulang sendiri. Kak Rama tidak usah jemput." "Tapi aku ingin menjemputmu." Jawabku santai. "Engg.. Kalau begitu terserah kak Rama saja.." Jawabnya malu-malu. Anin segera beranjak meninggalkanku tapi aku belum rela ditinggalkan. Masih ingin bersamanya, menghirup aromanya yang menggugah. Aku mencekal tangannya, memutar tubuhnya
*** Kueratkan pelukan pada tubuh mungil yang membelakangiku. Terus kukecupi rambutnya yang wangi. Terkadang berselang dengan tengkuknya yang masih menyisakan aroma membara kami. Hari ini entah sudah yang ke berapa kali kami beradu syahwat. Mencari gerakan demi gerakan yang mendatangkan nikmat. "Geli Kak Rama.." Protesnya lirih. Terdengar suaranya yang rendah, rentan, manja memanjang khas anak seusianya. "Geli tapi suka kan?" "Bukan begitu ih!" Tubuh kami memang sedang melekat satu sama lain, tanpa sehelai benangpun dengan selimut membalut. Tentu setelah beberapa seai panas kami lalui di hotel ini. Aku bahagia. Wajar. Bocah kecilku sudah takluk dan dengan rela hati melakukan semua. Semakin kupererat pelukan, seakan berusaha meremukkan tubuhnya. Sejujurnya aku gemas sekali setiap kali memeluknya. Tubuhnya sangat kecil, kontras dengan tubuhku yang berotot besar. Namun herannya di situlah letak letupan gairahku, pusaran naf
Gila! Jakarta sepanas ini menyambut kepulanganku. Mendidihkan aliran darah. Mungkin karena jauh dari Anindya juga. Seminggu rasanya sebulan kalau hanya kupakai berjauhan dari Anindya. Pasalnya hanya akan terbuang sia-sia untuk memikirkannya. Dia, gadis lugu yang menguasai pikiranku. Jangan, sebut dia bocah lugu saja. Kata gadis terlalu mengiaskan kalau aku mencintainya dan dia mencintaiku. Dan itu kemustahilan. Tidak ada dalam kamusku mencintai bocah. Walaupun memang, selama seminggu mengikuti simposium ini aku hampir tidak bisa berkonsentrasi. Hanya karena dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Keluar dari bandara aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil, lalu segera menjemputnya di sekolah. Drama sekali seperti kekasih yang memberi kejutan akan kepulangannya setelah lama bertugas. Anggap saja lucu-lucuan. Lumayan lama hingga aku karatan. Sudah satu jam seorang Rama harus kesekian kalinya bengong di dalam mobil menanti kedatangan Anindya. Aku tidak s
Kalau saja bukan karena harus menggantikan jadwal Raka di rumah sakit, mungkin saat ini aku masih mondar mandir di depan kamar Anindya untuk menunggunya keluar. Aku belum mengembalikan ponselnya. Tapi bukan itu alasan sebenarnya. Aku harus memastikan ayahnya belum tahu apa yang terjadi di antara kami. Aku hanya pulang sebentar ke rumah. Sejak Anindya melarikan diri dari hotel, aku belum bertemu dengannya lagi meskipun kata Mama dia sudah di rumah. Apalagi masih harus terdampar di rumah sakit gara-gara menggantikan Raka yang sibuk dengan kuliah spesialisnya. Saat kutanya perawat, ternyata masih ada lima antrean pasien lagi. Lumayan. Pasalnya pikiranku sendiri hampir tak bisa berkonsentrasi. Kacau. Teringat ancaman Anindya. "Kacau banget kamu?" Sapa seseorang yang mendekat seraya sibuk melipat lengan bajunya. Teman dekat yang boleh dibilang tidak dekat-dekat amat tapi sering merepotkan. "Syukurlah kamu datang.." Kedatangan Raka menyirat kebahagi
Aku tercekat dan hanya bisa menelan ludah yang terasa mengandung racun. Rasanya seperti tercekik hingga sulit bernafas. Situasi ini membuatku merasa baru pertama kali mendengar kata 'hamil'. Seakan kata 'hamil' itu mengandung bubuk sianida 100 miligram -tanpa kopi tentunya-. "Hamil Nin??" Anin mengangguk-anggung lengkap dengan derai air mata. Dia tergugu ketakutan. Tubuhku sendiri melemas pasrah. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis, dahi, juga tak ketinggalan di punggung. Ditambah lahi tifus membuat isi perutku bergejolak karena otak yang terus didesak berpikir keras dan cepat dalam waktu singkat. Mirip reaksi tubuh manusia saat lapar, di kepala ada pusing-pusingnya. Masalahnya pengakuan Anin ini tak bisa diatasi dengan sesobek roti atau sepiring nasi padang lauk rendang. Jika benar adanya, kondisi Anin adalah fatal. Kondisiku juga ya? Baru sadar. Baiklah, tifus dan syok sedang bersatu melemahkanku. Sungguh pagi buta yang gelap benar. Me
"Rama! Aku perlu bicara!" Suara wanita yang kukenal itu memperparah kegalauan karena batal melepas Anindya semalam. Ya, aku batal melepasnya pergi. Belum rela hati. Bukan karena takut kehilangan, hanya saja aku tidak tega jika harus menyaksikan tangis kecewanya. Aku pun menoleh ke belakang. Lalu menemukan wanita dengan getar suara yang masih dan mungkin akan selalu kuhafal. Mau apa dia memanggilku dengan nada setinggi itu? Kasar pula. Emosi berpijar di kedua bingkai matanya. Aku gerah karena dia terus saja memanggil namaku. Apa sih maunya? Daun telingaku saja malas menangkap getar suaranya. Stempel pengkhianat terukir jelas di dahinya. Membuat rasa cintaku dulu berubah menjadi rasa muak yang berkerak. Aku tak menghiraukan, terus berjalan ke kamar meskipun langkahnya terdengar membuntuti. Hingga baru kusadari sesuatu yang mencurigakan, dia baru saja keluar dari kamar Anindya. Lalu kuhubung-hubungkan dan muncul sebuah firasat buruk. Jangan-jangan...
*** Sudah dua hari aku tak mendengar suara Anin. Tak melihat wajahnya. Tak menghirup aromanya. Kerinduan itu yang kini membuatku terpekur di tepi ranjangnya. Resah. Kuraba bedcover, seakan kudengar tawanya ketika kugoda. Tanpa sadar bibirku melebar, mengingat keluguannya, kepolosannya. Dan yang tiba-tiba menghambat nafasku adalah ketulusannya. Yah, Anin tulus saat menyatakan cinta padaku. Aku bisa menilai dari setiap suku kata yang berikatan dengan mimik muka dan gerak matanya. Ada yang meremas dadaku saat bibir ini justru mengelak, lalu menyakitinya dengan penolakan. Aku ingin dia di sini tapi harapan seperti itu jahat sekali. Dan kenapa di otakku masih ada harapan semacam itu? Aku yakin sudah melakukan hal benar, membiarkannya pergi adalah keputusan yang sahih kan? Sudah lama aku mengambil sari patinya, sudah saatnya aku melepasnya sebelum layu dan berhenti tumbuh lalu menjadi sampah. Jujur aku tidak menyangka, ternyata Anindya tetap bungkam
"Saya terima nikah dan kawinnya Anindya binti Ibrahim dengan mas kawin sebuah klinik fisioterapi dibayar tunai."Nafasku berembus lega kala semua saksi menyebut sah. Artinya, impianku yang sesungguhnya telah menjadi nyata. Kami menikah, bersiap membangun rumah tangga.Meskipun tak paham betul tentang arti sebuah pernikahan, Gio yang duduk di samping Mama tersenyum kepadaku. Dia tampak tampan dalam balutan jas hitam persis yang dikenakan lelaki di sebelahku, ayahnya yang kini sah menjadi suamiku.Soal mas kawin, aku tak menyangka kak Rama akan memberinya. Aku tak pernah meminta. Saat dia bertanya aku ingin mas kawin apa, selalu kujawab terserah. Hasilnya, dia mengonsep semua dengan matang di hari pernikahan.Tak kusangka lelaki tampan yang pernah menjadi masa lalu pahit bagiku adalah lelaki yang sama yang akan menemaniku menggapai cita dan cinta. Mulai hari ini kami a
Serangkaian prosesi menjelang pernikahanku dan kak Rama digelar secara runtut. Dimulai dari prosesi lamaran antar dua keluarga yang baru kemarin diadakan. Kak Rama memang ingin segera menikah. Dia takut aku akan berubah pikiran. Lagi pula Mama khawatir terjadi Gio jilid dua. Takut saja kalau-kalau kami khilaf seperti dulu."Aku boleh main ke kosmu?"Aku hanya melirik judes sambil memainkan ponsel lalu diam pura-pura tak mendengar. Tak lama kemudian kurasakan tangannya mengusik rambutku."Kakak ih!" protesku karena rambut panjangku jadi acak-acakan."Aku butuh jawaban.""Pertanyaan yang mana?" Kupasang wajah tanpa dosa."Jadi tidak boleh main ke kosmu? Kenapa? Masih takut padaku hm?" cecarnya setelah menyahut ponselku.Geram, aku pun merebahkan punggung di beanbag. Menatap ke langit
Malam kian larut. Sepi. Anakku, yang pernah sekian lama menjadi impianku, sudah lelap dalam pelukku. Gioksa Anrama, terima kasih untuk akronim nama yang kamu berikan, Nin. Pertanda kamu tak pernah melupakanku barang sedikitpun. Andai hal-hal yang selama ini selalu mengingatkanmu padaku itu mengarah kepada kebencian sekalipun, aku rela. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, Nin. Kamu telah mematri cinta kita agar melekat selalu pada diri Gio. Pukul sepuluh malam. Kurasa semua orang sudah tidur. Tante Fatma, Om Ibra, bahkan Anindya, tak satupun di antara mereka kujumpai saat mengambil minum di dapur. Tak kudengar pula suara mereka. Sementara aku sendiri tak bisa tidur. Kebahagiaan ini terlalu nyata untuk mengantarku dalam lelap. Aku masih ingin menikmatinya. Seteguk kuminum, menyandarkan pantat di meja dapur dengan pandangan menjelajah ke seisi rumah. Memang posisi dapur menjangkau semua. Rumah berlantai satu ini hampir tak bersekat selain kamar. Hingga dengan mudahnya s
"Menginaplah di sini, Rama."Semua mata tertuju pada Papa. Tak terkecuali Mama yang mendelik ingin melayangkan protes. Namun Papa segera menggenggam tangannya."Kita tidak boleh egois, Ma. Kita sama-sama tahu apa yang Gio butuhkan."Kulihat Mama mencabut tangannya, lalu meninggalkan meja makan dan dengan dalih membawa piring kotornya ke dapur. Tinggi, Mama membentengi hatinya tinggi sekali."Temani Gio tidur. Besok kamu libur kan?"Kak Rama mengangguk kaku. "Tapi, saya takut merepotkan Om dan Tante.""Selama kamu tidak masuk ke kamar Anindya, tidak ada yang merepotkan bagi kami."Wajahku merah padam. Apa-apaan sih Papa. Malah sengaja menggoda. Kak Rama bahkan kesulitan menutupi senyum malu-malunya. Kulihat tangannya yang mengusap tengkuk berkali-kali karena gerogi.***"Aku masih mencintainya, Deco.""Aku tahu. Sudah kukatakan akan sabar menunggu bukan?" Lelaki berkursi roda itu tampak mantap."Sama seperti
Kumajukan bibir setelah lama berdiri di tepi jalan. Aku menunggu, sesekali melangkah maju dengan kedua tangan menggenggam tali backpack yang kupakai. Kutoleh ke kanan, menanti seseorang.Ah ini sudah hampir setengah jam. Apa susahnya menghubungiku dulu jika masih ada kepentingan, bukan malah membuatku menunggu serasa tahun-tahunan. Terus timbul niat kembali ke kamar kos saja, tapi selalu kubatalkan jika ingat mungkin yang kutunggu segera tiba.Kulihat lagi jam di layar ponsel. Jika lima belas menit lagi dia tak datang, aku kembali ke kamar. Semua orang akan setuju jika kukatakan lama menunggu adalah hal yang sangat menjengkelkan. Tapi, aku jadi ingat satu hal. Saat meminta kak Rama menungguku beberapa waktu lalu, jangan-jangan salah satu alasannya melepasku adalah karena rasa jengkel yang sama. Ah entahlah.Lima belas menit sia-siaku pun berlalu. Aku memutar badan ke kiri. Berjalan lurus dengan perasaan dongkol di hati. Sayangnya, cukup beberapa langkah kutapaki
"Ketemu! Itulah masalahnya. Dia mungkin memutuskanmu karena itu, dia tidak ingin kamu dipecat dari rumah sakit ini, tidak mau menghambat karirmu."Masuk akal. Kak Rama adalah bagian dari direksi, kemungkinan kecil rumah sakit akan memecatnya. Dari janji untuk mempertahankanku di rumah sakit ini tempo hari, kurasa suaranya banyak berpengaruh. Sementara aku yang hanya pegawai biasa akan lebih mudah dihentikan jalannya. Itukah alasannya?"Bukankah itu bisa ditutupi dengan menjalin hubungan diam-diam?""Diam-diam sampai kapan? Sampai kalian menikah?" Dia bangun, duduk bersedekap lalu kembali terkekeh saat otakku yang buntu masih berusaha mencerna jawabannya. "Dia sudah melepaskanmu, Anindya. Menyerahlah, buka pintu hatimu untukku. Dia sudah menyerah meskipun masih mencintaimu. Demi kebaikanmu."Aku tertegun sejenak. Menela saliva encer agar membasahi tenggorokan. Kutekuk wajah sambil memejamkan mata."Kurasa suasana hatimu sedang tak baik. Antarkan aku
Saat aku membuka tirai jendela, kulihat matahari pagi ini cukup terik. Kilaunya menyilau, menyipit aku dibuatnya. Kurasa cuaca hari ini akan panas menyengat, tapi dingin mengering khas musim kemarau.Semalam aku tidur sangat lelap. Kembali sendiri di kamar kos ini setelah kemarin berdrama panjang dengan Gio yang tak mau ditinggalkan. Dia memaksa ikut denganku agar bisa bertemu dengan Kak Rama. Entahlah. Mereka bahkan baru bertemu sekali tapi ikatan itu sudah terjalin sekuat ini.Dia terbangun di minggu pagi sambil merengek-rengek mencari Kak Rama. Merasa ditipu karena ditinggalkan saat sedang terlelap. Orang tuaku sibuk membujuk dengan berbagai hal, tapi dia masih saja bertanya tentang cara menemui Kak Rama. Di saat itulah aku merasa harus melakukan sesuatu. Terus kuusahakan membujuknya melalui pelukan demi pelukan yang sebelumnya jarang kuberikan. Memang aku ibu yang kejam, bukan penyayang, tapi juga bukan pembenci.Setelah berhasil membuatku tercengang, dia pe
Aku kembali setelah membereskan tangis kesedihan. Kulihat Kak Rama sedang duduk melantai. Menghadapi Gio yang masih duduk di sofa. Sementara Papa dan Mama mengawasi kedatanganku seraya membuang nafas lelah. Semacam peringatan untukku yang kini duduk di samping Gio. "Sekalang Gio sudah boleh panggil 'Om Lama' lagi kan?" Kak Rama tersenyum lebar. Mencubit pipi Gio dengan gemas lalu mengangguk menyetujui. Dia luar biasa dengan segala pengertian dan keikhlasannya sekarang. "Terima kasih Gio sudah mau memanggil ayah. Nanti kalau Om Rama sedih karena kangen anak Kak Rama lagi, Gio mau kan panggil Om Rama 'Ayah' lagi?" "Siap!" sahut Gio sambil menempelkan telapak tangannya di kening kanan. Berusaha bersikap hormat walau masih belepotan. "Gio senang kan bertemu Om Rama?" tanya Kak Rama setelah mengabsen wajahku, Papa, dan Mama. "Senang. Gio senang kenal dengan banyak olang. Papa selalu bilang, Gio halus lamah dan baik pada semua olang. Om Lama
Di luar sudah petang, sudah jadi kewajiban kami sebagai tuan rumah yang baik untuk mempersilahkan masuk tamu yang datang. Memberi hidangan penyambutan meskipun hanya berupa minuman. Di atas sofa, kak Rama duduk gelisah. Jelas sekali jika raganya di sana tapi isi pikirannya menjalar ke arah Gio yang dibawa Papa dan Mama masuk ke kamar. Aku salut pada orang tuaku. Di luar tekanan yang mereka berikan padaku di masa lalu, baik Papa dan Mama barusan sepakat memberiku kesempatan menyambut Kak Rama, yang artinya mereka pun memberiku kebebasan untuk membeberkan segala kejadian di masa lampu. Sekaligus menilai yang dilakukan orang tuaku sendiri dari sudut pandangku. Ya walaupun aku paham, di rumah yang hanya berlantai satu ini, Mama yang jelas-jelas menunjukkan sikap tak suka atas kehadiran Kak Rama pasti memasang telinga lebar-lebar. Memaksimalkan kemampuan mengupingnya. "Minumlah, Kak." Dia tak mengindahkan jamuan teh hangatku. Sorot matanya yang gegab