LOGINDue to a booking mistake, a French billionaire man who had been arranged to marry someone out of his interest was forced to spend 30 nights on a yacht with a Japanese billionaire woman who had recently lost a fiancé in a shooting incident. Would a spark of true romance be conceivable regardless of the reality that they practically lived in two very different situations? Given the complications that would arise if a forbidden romance began, would their love be worth the risk?
View More“Hentikan! Kau tidak boleh menikah dengan gadis itu, Tuan Louis Harper. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merestui kalian!”
Semua orang terkesiap mendengar suara imut yang melengking itu. Tak terkecuali Louis yang sedang berlutut memegang kotak cincin. Begitu menoleh, mulutnya langsung terbuka lebar. Matanya terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seorang gadis cilik sedang berkacak pinggang di pintu masuk restoran! Jumpsuit bergambar beruang membuatnya terlihat sangat lucu, apalagi dengan pipi gembul yang digembungkan dan mata bulat yang dipaksakan seram.
“Astaga! Siapa gadis kecil itu? Berani-beraninya dia mengacaukan lamaranku?” pikir Louis, geram.
Seminggu yang lalu ....
“Aku sebetulnya ragu untuk mengatakan ini, tapi kurasa kau berhak tahu. Louis berencana melamar kekasihnya Sabtu depan. Barangkali, ada yang mau kau ungkapkan kepadanya. Lakukanlah sebelum terlambat. Jangan sampai kau menyesal.”
Sudah berapa kali Sky berusaha melupakan informasi itu. Akan tetapi, suara Emily, sahabatnya, terus bergema. Bayang-bayang cinta pertamanya juga enggan pergi dari benaknya. Semakin lama matanya terpejam, wajah Louis justru semakin jelas. Kebersamaan mereka dulu pun kembali terulas, kebersamaan yang tak pernah lagi terulang sejak mereka putus kontak beberapa tahun silam.
“Ck, kenapa aku terus memikirkan laki-laki itu? Ayolah, Sky. Dia bahkan tidak pernah menghubungimu lagi. Untuk apa mengenangnya?” batin Sky, mengingatkan diri sendiri. Sesekali, ia mengusap sudut matanya yang terasa berair. “Lagi pula, kau sudah bahagia bersama Summer sekarang.”
Seakan tahu bahwa namanya ada di pikiran sang ibu, Summer, gadis cilik yang berbaring di sisi Sky bangkit duduk.
“Mama, kenapa belum tidur?” tanya balita yang berusia empat tahun lebih tersebut.
Sky tersentak mendengar suara manis itu. Cepat-cepat ia keringkan air mata dan memutar badan. Melihat wajah layu sang putri, ia langsung mengelusnya.
“Sayang, kenapa kamu juga belum tidur? Apakah Mama mengganggumu?”
Summer mengangguk. “Mama seperti sedang gelisah. Mama bergerak-gerak terus sejak tadi. Apakah Mama sedih karena Paman Louis akan menikah dengan orang lain?”
Mata Sky sontak melebar. “Kenapa kamu bicara begitu?”
“Mama tampak murung sejak berbicara dengan Bibi Emily di telepon.”
“Kamu mendengarkan percakapan kami?”
Summer mengangguk. “Apakah Mama akan mengikuti saran Bibi Emily?”
“S-saran yang mana?”
“Tentang mengungkapkan perasaan Mama kepada Paman Louis.”
Sementara Sky tercengang, Summer berkedip lugu. Ia lanjutkan kata-katanya.
“Sebetulnya … aku sudah tahu sejak dulu kalau Mama menyukai Paman Louis. Mata Mama selalu berbinar-binar setiap Mama bercerita tentangnya.” Selang satu tarikan napas, Summer bertanya, “Apakah Mama akan menggagalkan lamaran Paman Louis?”
Kebingungan Sky semakin pekat. Umur sang putri belum genap lima tahun, tetapi mengapa ia bisa bicara begitu?
“Tidak, Sayang. Mama bukan siapa-siapa bagi Louis.” Sky berusaha memberikan pengertian. “Mama tidak berhak menggagalkan lamarannya. Biarkan saja dia bahagia bersama kekasihnya.”
“Tapi Mama menyukainya. Apa salahnya kalau Mama mengungkapkan perasaan Mama? Siapa tahu, Paman Louis berubah pikiran. Bukankah Bibi Emily bilang kalian berdua dulu saling mencintai? Aku akan sangat senang kalau Mama menikah dengannya. Aku jadi punya papa.”
Sky mendesah tak percaya. Sebelum kecanggungannya meradang, ia meloloskan tawa walau hambar. Ia harus segera menghentikan diskusi dadakan mereka.
“Sayang, kamu ini ada-ada saja. Kamu masih terlalu kecil untuk bicara soal cinta. Sekarang, bagaimana kalau kita tidur, hmm? Ini sudah terlalu malam. Kamu tidak mau punya mata panda, kan?”
Sky merangkul Summer, mengajaknya berbaring. Summer menurut, tetapi alisnya berkerut.
“Aku serius, Mama. Mungkin sudah saatnya aku punya papa.” Summer mengulang ucapannya.
Sambil menepuk-nepuk lengan sang putri, Sky menggeleng. “Bukankah selama ini kita berdua baik-baik saja dan bahagia?”
“Y-ya.”
“Itu artinya tidak ada yang perlu diubah. Hidup kita sudah sempurna, Sayang.” Sky berkata dengan nada final. “Sekarang tidurlah. Jangan berpikiran macam-macam.”
Sky mengecup kening sang putri lalu memejamkan mata. Sekilas, wanita itu terlihat seperti hendak tidur. Namun sebenarnya, ia hanya ingin menahan air mata.
“Tidak ada yang perlu diubah,” ucap Sky dalam hati. “Semua baik-baik saja asal aku bersama Summer.”
Sementara itu, Summer mulai merenung. Gadis cilik itu seperti tahu bahwa sang ibu hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.
Diraihnya tiga boneka berang-berang yang biasa ia peluk. Ia jajarkan keluarga boneka itu di atas perut.
“Kasihan Mama. Dia hanya bisa menangis dalam hati,” batin Summer sembari mengelus kepala induk berang-berang. “Dia pasti malu mengakui kalau dia sedih.”
Selang beberapa saat, fokusnya beralih ke arah boneka lain yang sedikit lebih besar.
‘Kurasa, Mama sudah terlalu lama sendiri. Dia juga butuh suami, sama seperti Mama Otter. Pasti akan lebih mudah merawatku kalau dia berdua bersama Paman Louis, seperti Mama Otter dan Papa Otter.’
Summer menautkan tangan dua boneka besar agar terlihat bergandengan. Kemudian, ia selipkan boneka terkecil di antara mereka. Melihat kebersamaan boneka itu, senyum sendu terukir di wajahnya.
‘Otter pasti sangat bahagia. Dia punya papa dan mama. Bisakah aku menjadi seperti Otter yang punya keluarga lengkap?’
Sambil melirik Sky, Summer berkedip-kedip. Meski mata sang ibu tertutup rapat, ia tetap mampu melihat kesedihannya.
‘Haruskah aku membantu Mama untuk menghubungi Paman Louis? Mama pasti bahagia kalau Paman Louis tidak jadi melamar Grace. Dia tidak akan diam-diam menangis lagi.”
Sambil menyatukan pasangan boneka berang-berang agar terlihat berpelukan, Summer berpikir lebih keras. Sesekali, tarikan napasnya menjadi lebih panjang.
‘Keluarga Otter saja selalu bersama. Kenapa kami tidak? Mama pasti akan sangat senang kalau Paman Louis bersama kami. Mama tidak akan kesepian lagi, dan aku juga akan lebih bahagia. Aku akhirnya bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘Papa’.’
Setelah beberapa pertimbangan, Summer menutup perenungan dengan anggukan tegas. ‘Ya, aku tidak boleh diam saja. Aku harus segera menyusun rencana, bagaimana caranya memesan tiket dan terbang ke negaranya. Paman Louis tidak boleh melamar Grace. Dia harus menjadi Papa-ku dan hanya boleh menikahi Mama. Aku akan menggagalkan lamarannya!’
***
Saat ini, di restoran tempat Louis melamar sang kekasih ....
Ruangan itu telah penuh dengan bisikan. Para pelayan, pengawal, bahkan paparazi yang mengintai—semua sibuk dengan asumsi masing-masing. Tatapannya terus tertuju pada Summer.
“Astaga! Lihatlah gadis kecil itu! Bukankah dia sangat mirip dengan Tuan Harper?”
“Bukan Tuan Harper, tapi kembarannya. Dia persis seperti Emily muda. Hanya rambut mereka saja yang berbeda. Gadis itu berambut keriting! Dan lihat! Matanya bahkan sama. Abu-abu juga!”
“Tapi Emily dan Louis kembar. Jika gadis itu mirip dengan Emily kecil, berarti dia juga mirip dengan Louis. Mungkinkah dia anak hasil skandal lima tahun lalu? Tapi kenapa dia baru muncul sekarang? Ke mana saja dia selama ini? Dan di mana ibunya? Kenapa dia datang kemari seorang diri?”
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, napas Grace Evans mulai menderu. Meskipun ia sudah berusaha menahannya, pundaknya tetap bergerak naik turun.
“Louis, jelaskan padaku. Apa yang sedang terjadi? Siapa gadis kecil itu?” tanyanya dengan suara tipis yang penuh penekanan. Kebahagiaan yang baru saja Louis tanamkan dalam hatinya telah sirna.
Louis akhirnya mengerjap. Ia kembali menatap sang kekasih. Kebingungannya masih tebal. “Aku juga tidak tahu, Ace. Aku belum pernah melihatnya. Mungkin saja dia dikirim oleh seseorang untuk merusak momen kita. Jadi tolong jangan terpengaruh. Kita lanjutkan lamaran ini, hmm?”
“Kalau begitu, cepat usir dia dari sini! Aku tidak mau momen kita jadi rusak,” balas Grace dengan nada jengkel.
“Tidak! Kalian tidak boleh melanjutkan!” Gadis kecil itu mengentakkan kaki. Alisnya tertaut, bibirnya mengerucut. Caranya menyudutkan mata ke atas sangat mirip dengan Louis kecil dulu.
Louis sempat ternganga menyadari hal itu. Namun, setelah mengerjap, ia bangkit berdiri.
“Siapa kau, Manusia Mungil? Berani-beraninya kau mengacaukan lamaranku?”
“I'm sorry,” Ida said, and everyone's eyes gasped when they saw her on her knees.“It's my fault, I'm sorry “ She let out the hot tears she had been trying to hold.The family she loves and has been trying to adapt to has been taken away from her by Avery and Vanna.Ida had believed staying in LA would be a good thing, a good place to hide and have peace of mind but Vanna proved her wrong.There's no peace of mind anywhere, instead she will continue to run round the world in fear of Vanna so it's better she face her now or never.Tabitha's eyes widened at Ida's sudden outburst. Little Rory ran to their mom's side as he tried to lift her up but Ida did not bulge at all sobbing silently to herself.“I'm sorry, once again” She apologized, and slowly stood up, and Lora approached Ida, taking her to the couch as she made her sit.“Leave here, leave this country, I don't want to see you again, allow me to mourn my husband and daughter in peace, I want to be in charge of the funeral, and not
All of that was just a hallucination as Ida felt a hand tapping her and she lifted her misty eyes to see Sara staring at her.“The doctor is here,” Ida's neck slowly tilted facing the door as a round of fresh tears escaped from her eyes.“I'm sorry, We lost her, it's only two that survive” The doctor said, and Ida almost lost her balance before Sara and little Rory held her.“Who died?” Sara asked, slowly.“The little girl with a black hair” Ida let out another tear. Rora is alive but she lost her new daughter, Ariel and Jayden is alive too.Lora rushed in immediately, gasping for air to see Ida looking out of space as tears never stopped dropping from her eyes.Ida moved away from Sara and her son as she almost lost her balance when Lora held onto her.She began to reminisce over the incident that happened and remembered the man's warning. “Stay away from him” If not Jayden then it should be Avery. Someone warning her would probably not kill the person he was warning her to stay away
Ida watched as Jayden landed on the floor with Ariel in his bloody arms. Just when she stood up and was about to approach him when a gunshot made her halt.The amusement park scattered at the sound of the gun shot as they all ran for shelter to protect themselves.Sara stopped the twins that were about to run to Jayden.Ida watched as her world came crumbling as liquid dropped from her eyes following it was a loud painful scream.“Jay….. Jayden, a….. Ariel!!!” She screamed again as tears rolled down her eyes, her eyes got clouded with tears within a few seconds.Ariel was shot.Ida starts running as she approaches her new family. “Jayden, Ariel!” She called but got no response from Ariel.“I….. Ida,” He called as blood spluttered from his mouth. She held onto his waist line that was stabbed to stop from bleeding as she cried painfully.“Please don't talk. Sara called the ambulance,” She screamed at her last second sentence, after whispering the first one.Jayden slowly held onto her w
Ida's eyes when she saw Avery standing few steps away from her, staring at her. Her eyes moved from him, and to the twins then realized why they looked familiar to her.The twins are Avery's kids, but why is he in New York."Ida," He called, and Ida snubbed immediately, as she bent facing his kids.Ida stroked their hair gently as she smiled at them. "You are beautiful, and your…..father is here, go and meet him" Ida stated, and entered her car immediately before they could react.She locked the car door, and glanced at the side mirror to see him staring at his car as his kids ran to his arm.Ida doesn't know when tears dropped from her eyes. She wished she could get down from the car, and hug him but she controlled herself as she began to ask herself some question.Where was he when she almost killed herself, where was he when she struggled to give birth in the LDR room, where was he when she lost her mind, her mental health.He was with her, he was Vanna having good moments with her
"This is one of the scenarios from a movie I saw and really hated," Avery murmured, his gaze fixed on the ceiling.He had already positioned himself on the other side of the bed, in an awkward way. His body remained upright, and his hands were folded above his chest, as if he didn't know where else t
Ida and Avery were seated at opposite ends of the long table. Only the woman cast looks, while the man professed to be indifferent. He took apathetic bites of the food Ida had prepared, leading Ida to become a little peeved.She was always surrounded by people who appreciated everything she did, bu
They are currently confronted with exactly what Jaali feared.While on the phone with the senior manager, Jaali discovered that there had been an interruption to the system at the very moment Ida and Avery submitted their request for the service. The trouble is, they clicked on the submit button at
Ida desperately wished for rest but closing her eyes didn't do anything. It's simply that whenever she tries to sleep, an image of Akio haunts her, as if begging for help. It was extremely bothersome that even taking medication couldn't get her to feel better.There is just one easy solution for di


![Lord Of Violence [Elite Lords University Series]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews