LOGINLife comes hard and fast for Kendra and her family in a dystopian world that is struggling to recover from a nuclear war and is now under the rule of an alien government. Unaware of the impending alien invasion, a group of scientists -which included Kendra's parents- were ordered to create a zombie virus and set it loose on Russia. The intention was to subdue Russia and then release the cure, but the alien attack took them unawares and the scientists and their cure disappeared, leaving the virus to run rampant. Having been inoculated against the virus, Kendra's aunt is one of these scientists who has kept her identity a secret for fear of being made a slave to the alien government. When a village that is connected to the people who moved underground for survival kidnaps Kendra in hopes that they can harvest any memories of her parents discussing the cure while she was a mere infant with the use of an experimental machine, her aunt must decide about coming forth with her identity. In the meantime, along with dealing with the ever-rising population of zombies, the alien regime -which considers humans a delicacy for their dinner table – sets out to correct and purify the human race from those who were mutated in some way by the nuclear explosions. Rex is one of those humans. He is also Kendra’s lover. “Where Zombies Walk” is Book One of Kendra’s Journey in a world that offers steamy romance, nail biting peril, and thrills, and a paradise-like sanctuary within its core. All she has to do is make her way there.
View MoreAngin musim semi berhembus lembut di atas Bukit Bunga Merah, membawa serta harum ribuan kelopak yang bermekaran di antara jalan setapak berbatu. Di sinilah, di tempat yang katanya paling indah di seluruh Kota Yanfeng, sepasang muda-mudi berlarian dengan tawa yang mengisi setiap sudut bukit itu.
Pemuda itu tampan bukan kepalang. Rahangnya tegas, matanya hitam pekat seperti batu obsidian, dan senyumnya adalah senjata paling berbahaya yang pernah dimilikinya, walaupun dia sendiri tidak pernah menyadarinya. Namanya Chu Jianqiu, seorang kultivator muda yang dulu dianggap berbakat oleh tidak sedikit orang di kota ini. Dulu. Di sebelahnya berlari seorang gadis dengan gaun biru pucat berkibar bak sayap kupu-kupu. Liu Tianyao. Kulitnya putih seperti giok, bibirnya merah alami, dan rambutnya hitam panjang yang sesekali tersibak oleh angin. Setiap lelaki yang pernah melihatnya pasti akan berpaling dua kali. "Jianqiu! Jangan lari begitu cepat!" serunya sambil tertawa, suaranya nyaring seperti lonceng perak. Chu Jianqiu terkekeh lalu memperlambat langkahnya, membiarkan gadis itu menyusul dan langsung memeluk lengannya dari belakang. Dia berbalik, menatap wajah gadis itu dari dekat, dan hatinya berdegup seperti biasa. 'Tiga tahun. Tiga tahun aku mencintainya.' "Duduk dulu," ujarnya sambil menunjuk sebongkah batu datar besar yang diselimuti lumut halus, tepat di tepi tebing dengan pemandangan kota di bawah. "Aku punya kejutan untukmu." Liu Tianyao mengerucutkan bibirnya dengan gemas, lalu duduk dengan anggun di atas batu itu. "Kejutan? Kejutan apa?" Mata gadis itu berbinar-binar. Setidaknya, begitulah yang terlihat oleh Chu Jianqiu. Pemuda itu tersenyum lebar. Dengan gerakan penuh antusias, dia merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna merah menyala. Pil itu berpendar redup dalam genggamannya, memancarkan kehangatan yang bahkan bisa dirasakan dari jarak beberapa langkah. Liu Tianyao mengernyit. "Ini... pil pembakar darah?" "Benar." Chu Jianqiu mengangguk mantap. "Aku tidak," gadis itu terdiam sejenak, kebingungan menghiasi wajahnya. "Aku tidak membutuhkan pil seperti ini, Jianqiu. Untuk apa?" Pemuda itu tertawa kecil, lalu menjentikkan jari ke arah pil itu. "Bukan untukmu, Tianyao. Ini untukku." Hening sejenak. Angin berhembus, membawa gugur beberapa kelopak bunga merah di antara mereka berdua. "Untukmu?" Liu Tianyao mengulang kata itu pelan. Chu Jianqiu mengangguk, matanya berbinar penuh keyakinan. "Aku membaca sebuah kitab pengobatan kuno tiga bulan lalu. Tertulis di sana bahwa serangan hawa dingin seburuk yang kau derita hanya bisa dihilangkan sepenuhnya jika sang penyembuh mengaktifkan garis darah panasnya hingga beberapa kali lipat dari biasanya." Dia menghela napas panjang. "Selama tiga tahun ini, pengobatan yang kulakukan belum pernah cukup efektif. Tapi kali ini berbeda. Kali ini aku yakin." Gadis itu memandanginya. "Tapi pil pembakar darah itu akan melukai dirimu sendiri." "Tidak apa-apa." "Tidak apa-apa?" Liu Tianyao menaikkan satu alisnya. "Jianqiu, pil itu akan..." "Tidak apa-apa," ulang pemuda itu lebih tegas, dan senyumnya melebar tanpa sedikit pun bayangan keraguan. "Kau sudah menderita cukup lama. Ini saatnya semua itu berakhir." Liu Tianyao tertunduk. Wajahnya tersembunyi dari pandangan Chu Jianqiu. Dan di situlah, di balik helai rambutnya yang terurai, sebuah senyuman perlahan merekah di sudut bibirnya. Bukan senyuman haru. Bukan senyuman terharu. Melainkan senyuman yang dingin, tipis, dan penuh kalkulasi, senyuman seseorang yang tengah menyaksikan sebuah rencana berjalan tepat seperti yang diinginkan. Namun Chu Jianqiu tidak melihat itu. Dia terlalu sibuk memandangi langit, bersyukur dalam hati. Pil pembakar darah itu meleleh di lidahnya seperti bara. Satu tarikan napas. Dua. Tiga. Kemudian panas itu merayap dari perut, menjalar ke dada, naik ke bahu, turun ke ujung jari. Darahnya mulai mendidih dalam nadi. Bukan rasa sakit biasa. Ini seperti ribuan jarum kecil menusuk dari dalam sambil sebuah tungku menyala di rongga dadanya. Chu Jianqiu mengatupkan rahang rapat-rapat dan tidak mengeluarkan satu pun erangan. 'Tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapannya.' Dia mengangkat kedua tangannya, meletakkannya di atas punggung Liu Tianyao, dan mulai menyalurkan qi yang kini membara seperti lahar. Garis darah panas dalam dirinya, kemampuan langka yang diwarisi dari leluhurnya, kini berputar dengan kecepatan yang belum pernah dia capai sebelumnya, didorong habis-habisan oleh efek pil terkutuk itu. Pengobatan dimulai. Dan kali ini, memang berbeda. Dalam hitungan menit pertama saja, Liu Tianyao sudah menghela napas panjang. Hawa dingin yang selama bertahun-tahun bersarang di meridiannya mulai terusir, didorong keluar oleh gelombang panas yang mengalir dari tangan Chu Jianqiu. Gadis itu bisa merasakannya dengan sangat jelas, sesuatu yang selama ini menggerogoti tubuhnya dari dalam kini mulai runtuh, lapisan demi lapisan. Sementara itu, Chu Jianqiu terus bertahan. Satu jam. Dua jam. Keringat bercucuran membasahi bajunya. Wajahnya memutih. Napasnya makin pendek. Tapi tangannya tidak pernah bergeser dari punggung sang gadis. Dia memikirkan tiga tahun terakhir ini. Betapa tidak terhitung ramuan yang dia cari dari berbagai penjuru kota. Betapa banyak malam tanpa tidur yang dia habiskan untuk mempelajari manuskrip pengobatan. Betapa dia sama sekali tidak sempat berlatih kultivasi, sementara teman-teman seangkatannya kini sudah melompat dua hingga tiga tingkatan di atasnya. Tidak ada yang dia sesali. 'Asal kau sembuh, Tianyao. Asal kau sembuh.' Jam ketiga. Chu Jianqiu sudah hampir tidak merasakan tubuhnya sendiri. Qi-nya nyaris habis. Panas dalam darahnya sudah menguras hampir seluruh cadangan vitalitas yang dia miliki. Setiap hembusan napas terasa seperti menelan abu panas. Tapi di saat itulah, sesuatu yang besar terjadi. Hawa dingin terakhir yang bersembunyi jauh di dalam inti meridian Liu Tianyao akhirnya pecah, tersapu habis oleh gelombang panas terakhir yang Chu Jianqiu hantamkan dengan seluruh sisa kekuatannya. Selesai. Pemuda itu menarik tangannya pelan. Tubuhnya goyah. Dia hampir jatuh, tapi berhasil menstabilkan diri dengan satu lutut menyentuh tanah. "Tianyao," panggilnya dengan suara serak, napasnya tersengal-sengal. "Sudah... sudah tidak ada lagi. Kau bebas. Hawa dingin itu sudah hilang sepenuhnya." Dia mengangkat kepala dengan susah payah, menunggu jawaban gadis itu. Dan Liu Tianyao bangkit. Perlahan. Anggun. Seperti seseorang yang baru saja selesai beristirahat. Dia berdiri memunggungi Chu Jianqiu selama beberapa detik, menatap pemandangan kota di bawah bukit. Jari-jarinya bergerak perlahan ke gagang pedang di pinggangnya. Kemudian dia berbalik. Dan Chu Jianqiu melihat wajahnya. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada air mata syukur. Tidak ada senyuman lembut yang selama tiga tahun ini selalu membuatnya sanggup menanggung segalanya. Yang ada hanya kedinginan. Kedinginan yang jauh lebih menusuk dari hawa dingin mana pun yang pernah Chu Jianqiu rasakan dalam hidupnya. Senyuman tipis itu merekah di bibir Liu Tianyao. "Kau sudah menyelesaikan tugasmu, Chu Jianqiu," ujarnya dengan suara datar, hampir santai. Pedangnya setengah tercabut dari sarungnya. "Lebih baik kau mati sekarang." Hening. Bahkan angin seolah berhenti bertiup. Chu Jianqiu menatap gadis itu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. 'Apa...?' "Tianyao," akhirnya dia berhasil mengeluarkan satu kata. "Apa maksudmu?" Liu Tianyao mendengus pelan. "Maksudku sangat jelas." "Aku baru saja..." tenggorokannya tercekat. "Aku baru saja menghabiskan tiga tahun hidupku untukmu. Aku baru saja meminum pil pembakar darah demi menyembuhkanmu. Aku..." "Ya, ya." Gadis itu melambaikan tangan dengan malas, seolah mendengar hal yang tidak terlalu menarik. "Dan aku berterima kasih atas itu. itu memang Sangat berguna bagiku." "Berguna?" "Tentu saja." Liu Tianyao menatapnya dengan tatapan yang kini terasa benar-benar asing, tatapan seseorang yang menatap sebuah alat yang sudah tidak diperlukan lagi. "Kau berpikir aku sungguh-sungguh mencintaimu, Chu Jianqiu? Kau berpikir gadis sepertiku akan puas menjadi istri dari seorang pemuda yang bahkan tidak bisa menjaga kemajuan kultivasinya sendiri?" Setiap kata itu mendarat seperti tamparan. "Keluargamu biasa-biasa saja. Prospekmu tidak ada. Dan sekarang, setelah meminum pil pembakar darah itu, tubuhmu sudah rusak dan kultivasimu sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Dia memiringkan kepala sedikit. "Lalu apa gunanya kamu bagiku?"Kendra moved amongst the fallen zombies and men, salvaging what arrows that she could from their corpses. When she came upon Baelil’s lifeless body, she was amazed at how accurate her aim had been in such poor lighting. It just showed what a driving force hate could be. Determining that the arrow was too damaged by the bone that it had shattered on its way to his heart to be of any further use, she moved away from him without a backward glance.The movement of a zombie that was felled but not killed caught her eye. She walked over to it, pulled out her knife, and drove it deep into the creature’s skull. Memories of looking into the human-like eyes of the zombies that had surrounded the tree that she’d used for safety floated through her mind as she wiped her knife clean and returned it to its holder.Making her way back to the house, she could see Rex and Olga casually leaning against the railing on the porch. Had t
An eerie silence greeted Felix as he rushed into the house. “Auntie, he’s invisible. Get Eugene! Hurry! He’s after Eugene!”As he raced across the great room with his eyes focused on the nursery door, he tripped over something and tumbled to the floor. Picking himself up with an urgency, he scowled as he looked in the direction of the object that had caused such havoc. The words of frustration and anger toward the object that were on the tip of his tongue were quickly replaced by gasps of shock and worry when he realized that it was Olga’s arm that he’d tripped over.He lifted his torso from the floor and was just getting to his knees when he saw Eugene being carried out of the back door. Baelil was still invisible, so it looked like the baby was floating, but he knew better.Blood oozed out of Olga’s temple as she groaned out the words, “Go after him.”“I’ll be back,” he
Denai cocked her head and scowled. “They have someone who is psychic with them.”“Truly?” Baelil said in an off-handed manner. He’d allowed Kendra’s taunting to get under his skin and was struggling to keep from charging the house and putting her in her place.“I think it’s a male, but I can’t be sure,” Denai continued with a worried whisper. “Whoever it is has strong energy. My magic is being blocked too.”Denai considered herself an average psychic with a few magical tricks up her sleeve. She’d let them believe that she was far more powerful than she was. She didn’t actually say it in so many words, but she also didn’t deny it when they praised her for her powers and skills. It had been good fortune that since she joined the populous of Center Land Village there had been no one to challenge or put her abilities to a serious test. Everyt
The days that followed saw a significant improvement in both Felix and Kendra’s physical and emotional health. Since Kendra looked upon Felix as a brother and she trusted him explicitly, she asked him to help her with the baby so that she could resume the duties that she’d performed for the family over the years, which included hunting. He was nervous and hesitant at first, but quickly took to the new role to the extent that Kendra was hard pressed to have time with her son. She’d often joke that if it wasn’t for the fact that she was the one with the breast milk, she’d never get to hold him.Seeing how much the new role of pseudo father perked up Felix’s spirits, she gave him the honor of naming the baby. It took several days of extreme consideration on Felix’s part before he settled on the name Eugene. Although, not a name that would have made it onto her baby naming list, Kendra smiled and thanked him
“Another cat?” Olga said with a smirk of delighted surprise as she stood in the cave’s opening with her hands on her hips.“I’m going to be sick from the smell of sweat and sunbaked blood,” Kendra groaned as she wiggled out from beneath the bulk of the c
Where there was one mountain lion, there was generally a mate. This was her thinking as Kendra headed back out the following day with her bow slung over her shoulder. She wanted to take advantage of the possibility of the cat’s mate still being in the area. It wasn’t
The sun beat down on the scorched and barren land with such intensity that its rays glistened off the tiny particles of soil that was so dark that it almost looked black. Thick heat waves hovered in between Kendra and her target, making it difficult to focus for a clear shot. She knel
It’s the aftermath of an apocalypse of life on earth as we know it. The planet has suffered a devastating alteration to its surface composition. Although the earth has been resilient in the face of catastrophe over the millenniums and has already begun to rejuvenate in some way






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.