LOGINAddie has been blessed with one of the five gifts from the moon goddess, however it doesn't seem like a blessing. It is a gift that follows a bloodline and only gets passed along when the one holding the gift dies. Left with no family and hunted for her gift, Addie has learned how to survive without a pack and without friends, packing up and moving on when someone gets too close. In a small town in Idaho, someone has figured out her secret and Addie is ready to go on the run again until she is given a choice, cooperate or watch her one friend die. Choosing the life of her friend, Addie becomes a prisoner, bred for her gift and her bloodline. Will she escape and find her true mate?
View More“Dia bilang aku anak pembawa sial.”
Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca. Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?” “Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin Papa.” Bianca tertegun. Ternyata orang tua Cilla sudah bercerai? “Nggak ada anak pembawa sial, Cilla. Nanti Miss tegur Asya, ya?” ucap Bianca sambil mengelus kepala Cilla. “Lagipula, Papa Cilla pasti sayang sama Cilla.” Cilla menggeleng. “Papa juga nggak sayang aku, Miss.” Bianca terkejut. Namun belum sempat membalas lagi, sebuah mobil hitam mewah sudah membunyikan klakson dan memasuki area pekarangan sekolah. Itu mobil jemputan Cilla. Seorang sopir dengan jas rapi keluar dari kursi pengemudi. Bianca sudah mengenalnya karena pria tua itu setiap hari menjemput Cilla. Mendengar klakson yang familiar, Cilla mengangkat kepalanya. Ia lalu turun dari pangkuan Bianca dan berjalan gontai ke arah mobil itu. Sang sopir dengan sigap menghampiri, kemudian membawakan tas sekolah Cilla. “Kami permisi,” pamit si sopir sopan sesaat setelah Cilla masuk ke dalam mobil. Bianca mengangguk. Tak lama, mesin mobil berderu dan dengan cepat menghilang dari pekarangan sekolah. Bianca hanya berdiam diri di sana sebelum ponsel dalam sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk. [Hari ini ada tamu spesial. Bayarannya tinggi.] Bianca sedikit terkejut. Cepat-cepat ia menyembunyikan ponselnya, takut ada orang lain yang mengintip pesannya. Bianca pun bergegas masuk ke dalam untuk berkemas dan pulang ke rumah. —oOo— Sesampainya di rumah, Bianca berdiri di depan cermin kecil di kamar. Pakaiannya sudah berganti menjadi luaran kemeja yang sopan. Bianca juga sempatkan untuk merias tipis wajahnya. Cukup untuk sekadar menghiasi paras cantiknya. Bianca berjalan keluar kamar sambil menyampirkan tas di bahu. “Mbak, mau berangkat?” suara Clara, adiknya, terdengar dari arah dalam kamar. “Iya,” jawab Bianca. “Mbak nggak capek? Pagi kerja, malam kerja lagi!” Bianca tersenyum tipis sambil menyemprotkan parfumnya. Tentu saja ia lelah, namun Bianca tidak punya pilihan lain karena harus membiayai pengobatan nenek sambil menyambung hidup. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Bianca yang menjadi tulang punggung bagi adik dan neneknya. Ia sempatkan menoleh ke arah kamar utama, tempat neneknya terbaring lemah. “Jangan khawatir, Clara. Yang penting nenek sembuh dan kamu bisa kuliah nanti.” Clara tersenyum. “Kalau gitu, hati-hati, Mbak. Malam ini merawat di panti jompo mana? Sama seperti kemarin?” Bianca menelan ludahnya. Tiap kali adiknya itu bertanya soal pekerjaan malamnya, Bianca selalu menjadi gugup. “I-iya, yang … kemarin. Sudah, ya, Clara. Aku pamit.” Bianca menutup pintunya dan ia melangkah dengan cepat menyusuri jalanan yang masih ramai. Langkahnya dibawa menuju ke tengah kota, tempat bekerjanya berada. Yang tidak seorang pun tahu selain dirinya, pekerjaannya di malam hari sama sekali bukan sebagai sebagai perawat di panti jompo. Ia merahasiakan pekerjaan ini rapat-rapat dari semua orang. Tidak ada yang boleh mengetahui tentang pekerjaan ini selain dirinya. Bianca melangkah pasti menuju gedung yang berdiri megah di tengah kota. Sebuah klub malam. Lampunya mencolok. Ketika masuk ke dalam, musiknya langsung menggelegar. Bianca masuk melewati pintu samping, mengganti senyum lembutnya ketika menjadi guru di pagi hari, dengan ekspresi profesional untuk melayani tamu-tamunya. Ia berjalan cepat menuju ruang belakang. Reno, si pemilik klub, sedang duduk di sana sambil merokok. “Tamu spesialnya baru saja datang. Layani mereka dengan baik,” kata Reno. Bianca hanya mengangguk sambil mempersiapkan pakaian gantinya dan menghela napas pendek. Sebenarnya ia tidak pernah menyukai ini. Setiap malam Bianca harus rela melayani pria-pria di klub malam, menemani mereka mabuk semalaman sambil mengenakan pakaian yang terlalu pendek demi mendapatkan bayaran besar. Semua ini dilakukannya demi membiayai biaya perawatan neneknya dan kehidupan sehari-hari. Ia tidak punya pilihan lagi karena menjadi guru saja tidak cukup untuk menutup itu semua. “Bianca?” suara Reno membuyarkan lamunannya. Bianca menoleh. “Jangan melamun. Ke ruang VIP sekarang,” pinta Reno singkat. “Baik,” jawab Bianca seadanya. Bagaimanapun, Bianca harus tetap bersikap profesional. Ia membutuhkan uang ini dan pria-pria itu membutuhkan pelayanannya. Jadi, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang VIP berada. Dari luar, suara musik keras dari mesin karaoke sudah menggema. Bianca membuka pintu sambil tersenyum lebar, sebuah senyum profesional. “Selamat malam, Tuan-tuan!” Di dalam ruang VIP, segerombolan pria tengah menikmati malamnya. Mereka menoleh begitu Bianca masuk. “Ini dia yang ditunggu!” sahut salah satu pria di sana. Dari beberapa pria di sana, pandangan Bianca tersita oleh salah satu pria yang duduk bersandar di ujung sofa. Tatapan mata pria itu sedikit kosong, tidak terlihat tertarik dengan pesta yang berlangsung. Di hadapannya, sebuah gelas kecil berisi alkohol terlihat belum disentuh. Saat sedang menyisir seluruh ruang, tiba-tiba pinggangnya ditarik oleh salah satu pria di sana, Aldo, salah satu pelanggan setia. “Bianca, kamu mau bayaran lebih?” bisiknya. Bianca mengerjap mendengar itu. Tentu saja ia mau. Memang itu tujuannya bekerja di klub malam seperti ini. “Tentu, Tuan Aldo.” Mata Bianca masih memindai ruangan itu meski lampu yang berkedip membuatnya tak dapat melihat begitu jelas. Saat itulah Bianca merasakan tatapan tajam dari pria yang duduk di ujung sofa tadi. Namun, Bianca cepat mengabaikannya ketika Aldo berujar lagi. “Itu temanku, namanya Logan,” Aldo menunjuk seorang pria di ujung sofa. “Oh. Pria itu bernama Logan rupanya,” batin Bianca. Logan tidak lagi menatap Bianca. Pandangannya kini berpaling ke kawan-kawannya yang sedang bernyanyi keras-keras. Namun, Bianca masih belum mengerti maksud dan arah pembicaraan Aldo. “Ada apa dengan Tuan Logan?” bisik Bianca. “Aku beri bayaran lima kali lipat … kalau kamu bisa memuaskan Logan.”ADDIETwo months later, on the day of the full moon and summer solstice, I was dressed in a sapphire blue gown that was fitted on the top and billowed to the ground in shimmery waves. A laughing Emily was trying to help me with my makeup. Her growing belly was in the way, and Gracie was crawling around getting underfoot. Undeterred, Emily tried to add another swipe of mascara to my already heavy lashes. “Come on, Addie! It will make your eyes pop!”I laughed back at her. “My eyes will look like spiders if you put another coat on my lashes!” Tonight was the night of my Luna ceremony. Wolves from many of our cooperating packs were in attendance as well as all of the pack members from our pack. We had invited the Council members and were surprised when most of them accepted. Matthew and Jessie were also going to be there bringing their newborn pup with them. I knew that James had already spent time snuggling their baby boy and getting his fill of the newborn smells. I had bee
ADDIEAfter the excitement of everything, the next few months felt almost boring by comparison. We were busy, that was for sure. My Luna Ceremony had been postponed and we were beginning the planning again. We were also actively involved in helping Matt and Jessie build a new Packhouse before their pup arrived. The old packhouse was being turned into a youth center and dormitory for the continuing education prospects that Jessie wanted to bring to her Pack. In the days of Alpha Cole, it was decreed by the Alpha what the profession of the wolves coming of age would be. Jessie wanted to give them choices and equal opportunities. I was excited to be a part of that.Three weeks after we returned from our latest mishap in the city, Emily asked if we could have lunch in the village. I agreed, knowing something was up.“Do you want me to bring James?” I asked. “No,” she said, a sly look on her face. I agreed, letting her keep her secret for now. I would know soon enough.I met Jam
ADDIE I got into the car and looked James over, satisfied that he only had a few bumps and bruises but nothing was seriously hurt. I could smell the wolfsbane on his breath and knew he had been dosed but I could tell that it was slowly leaving his body. How is he? I asked Talia. Scout is weak but recovering. He will be fine, she answered. I gave a sigh of relief. Toby got into the driver’s seat and turned the SUV over, backing out of the drive. “Where to, Luna?” he asked. “Aren’t we waiting for the other warriors?” I asked, turning back to look at the house. He shook his head. “No, they need to do some cleanup. They are going to need to call the council for help. Vanessa went rogue and there is a lot that will have to be done to minimize exposure to the human world.” He had a look of disgust on his face. "First and foremost, they will have to figure out what to do about two human bodies. Old man and woman. They didn't even have a chance against her." I nodded, suddenl
ADDIE POVI walked out of the conference room with Roman and the other guard chasing after me, pulling along a reluctant Brad. Toby came, too, lips pressed together. I recognized the look. He hated the idea and wanted to set up a counterattack at the park at midnight, but he also recognized that my plan might work. It was fueled by pure rage on my part, but I was positive I would get James back.Alice had called ahead and worked her magic so by the time I made it to the front doors, a valet was there with a set of keys and an SUV was sitting in the drive up. I caught the keys as they were tossed to me and the warriors dove into the back seat, shoving Brad between them. Toby jumped into the passenger seat, buckling up as I started driving away.“What’s the plan, Luna?” Roman asked tentatively from the back seat. Toby glanced back at him but said nothing. “I know the area. It’s estates. I’ll find a spot to pull over and drop you and Brad off. We’ll meet up at the house, but I
ADDIE POVI don’t much remember my hearing when I was being tried for killing Alpha Cole. I think I was pretty much in shock and willing to play the victim. It was one of the few times in my life that I left the fight to others and didn’t much care about my future.I felt no empathy for Zoe or Jacks
ADDIEThe trial was over for the witnesses. We were dismissed by the Council and the prisoners were taken back to their cells. The Council still had to work out some details, but they were taking a quick break.“I want to talk to Matthew for a second,” I whispered to James. He smiled at me. “Bryon
JAMES POVI looked down at my mate, golden hair splayed across the sand and glinting with the light from the moon. Her beautiful body was long and lean, and I was getting hard looking at her again. She was sleeping, dozing off after our marathon sex session.We needed to get back, but the late spri
ADDIE POVJames picked me up bridal style and carried me out of the cafeteria, me trying not to giggle and disturb the patients. A few of the patients watched us warily, but I was past the point of caring. When we passed the guards, James put me back on my feet and grabbed my hand, pulling me out th
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore