LOGIN“I kinda wished it was you. I miss you. I want you. I need you. I don't know if you cast a spell over me, but even if you did, I have no problems with that. I want to be yours. And I want you to be mine. You have no idea how jealous I get when I see people touch you intimately. Please, give me a second chance. Baby, I'm begging you. Please.” *** Two years ago, Luke Williams was outed... and the world turned cruel. He spiraled into depression, battling internalized homophobia and suicidal thoughts. But the deepest cut came from Liam Fox... the boy whom he loved so dearly... abandoned him to protect his own image. Luke escaped to Miami, determined to start over. He built walls, buried the pain, and learned to breathe again with the help of his new friend, Sam. Until Liam came back. Now Liam wants a second chance. But he’s still closeted, still hiding, still afraid. And Luke? He’s not sure he’s willing to shrink himself for someone else ever again.
View MoreLIMA TAHUN LALU
"Itu rumahmu?" Ellie menunjuk bangunan yang ada di depannya, dengan mulut terbuka lebar.Dia tahu Lonan adalah salah satu putra dari keluarga Wycliff, keluarga konglomerat Eropa dengan kekayaan yang jumlah nol-nya lebih dari sepuluh.
Tapi melihatnya secara langsung seperti ini, membuat lutut Ellie tiba-tiba lemas. Lonan yang biasa bersamanya, terlihat santai dan membumi. Tidak ada jejak jika dia termasuk salah satu penghuni rumah yang lebih mirip kastil itu.
Jika Lonan tidak menyebut itu rumahnya, mungkin Ellie akan mengira jika bangunan luar biasa megah itu adalah istana raja Swedia, atau mungkin kediaman perdana menteri. Halamannya yang maha luas, kini ramai berisi jajaran mobil mewah, milik para tamu pesta yang lain.
"Ayo..."
Lonan mendahuluinya turun dari mobil, lalu membuka pintu. Kini tangannya terulur di depan Ellie dengan manis.
"Kau yakin aku boleh masuk? Lonan, aku merasa tidak pantas." Ellie dengan panik memeriksa gaun yang dipakainya hari ini. Gaun itu indah sekali, sampai-sampai Ellie ingin menangis saat melihatnya siang tadi.
Gaun pesta itu berwarna merah, dengan aksen perak di ujung roknya. Buritan mutiara mungil menghiasi tepinya. Itu adalah gaun termahal yang pernah dipakai Ellie. Lonan yang menyiapkan semua itu. Termasuk sepatu, tas, dan juga kalung dan anting. Perhiasan itu kini menempel dengan cantik di telinga dan leher Ellie yang pucat.
"Kau begitu menawan malam ini Ellie. Aku yakin kakakku akan terkesan." Lonan membuka pintu mobil lebih lebar.
Ellie akhirnya menurunkan kedua kakinya yang gemetar. Sepatu pesta yang juga berwarna perak, terlihat berkilau saat sinar lampu hiasan taman menerpanya.
Lonan dengan main-main menyebutnya sepatu kaca, tadi siang. Dan dengan perlahan, Ellie juga mulai merasa jika nasibnya mulai mirip Cinderella. Dengan semua kemewahan di sekitarnya, Ellie merasa tidak pantas berada di sana.
Tapi dengan senyum lebar, Lonan menarik tangan Ellie, lalu menyusupkan lengannya lipatan tangannya sendiri. Sambil berjalan menuju tempat pesta, Lonan mulai menjelaskan dengan detail hal-hal yang dilihat Ellie, seolah ingin menyapu kegelisahannya.
Ruangan dalam bangunan itu memang seperti istana. Ruang depannya penuh dengan barang mewah, lampu kristal dan jelas karpet mahal. Sejenak Ellie merasa silau dengan pemandangan itu. Matanya tidak terbiasa melihat semua kemewahan itu berada dalam satu tempat.
Musik lembut terdengar dari ruang dalam, tempat pesta berlangsung. Dan ruangan luas itu, juga berhias kemewahan yang hanya pernah Ellie lihat di dalam film. Saat melangkah ke dalam, Ellie semakin gugup.
Semua tamu memakai gaun yang sama mewahnya dengan gaun yang saat ini dipakainya. Semua pria memakai jas atau tuxedo, yang rapi tanpa kerutan.
Mereka ingin tampak mengesankan bagi tuan rumah yang sedang berulang tahun. Pria itu saat ini perlahan berjalan menuruni tangga. Lonan membawanya ke bawah tangga, untuk menyambut pusat dari semua keramaian malam ini, Raven Wycliff.
Raven adalah kakak Lonan, dan merupakan pucuk tertinggi di semua lini yang beratas nama Wycliff, baik itu perusahaan, maupun keluarga. Kedua orang tua Lonan sudah meninggal, jadi kini Raven yang bertanggung jawab menjalankan bisnis dan juga kehidupan di mansion mewah ini.
Ellie memandang sosok itu dengan seksama, dan dalam sekali pandang, Ellie tahu kenapa dia bernama Raven. Nama yang berarti gagak hitam itu cocok untuknya. Rambut Raven hitam sempurna, alis dan matanya juga di dominasi warna hitam.
Meski kulitnya sedikit pucat, tapi kesan hitam jauh lebih mendominasi sosoknya. Tuxedo hitam yang dikenakannya malam ini, semakin memperkuat kesan gelap yang meliputi tubuh tegap itu.
Dan Ellie juga mengerti kenapa banyak gadis di Eropa yang tergila-gila padanya. Raven bukan selebriti, tapi beberapa kali menghiasi halaman utama berita.
Bukan karena keberhasilannya dalam berbisnis, tapi akibat kedekatan Raven dengan beberapa artis dan penyanyi yang terkenal cantik. Meski tidak pernah ada pengumuman resmi soal semua gosip itu, tapi Raven sudah terkenal sebagai penakluk wanita, terutama karena wajahnya yang tampan itu.
Jika dilihat sekilas, dia mirip dengan Lonan, tapi kesan yang ditimbulkannya jauh berbeda. Jika Lonan bernuansa hangat dengan semua keceriaan dan keramahannya, Raven terlihat dingin dan berjarak.
"SELAMAT ULANG TAHUN!" Lonan berseru sambil mengulurkan tangan, memeluk Raven. Sesaat Ellie bisa melihat wajah kaku Raven tersenyum samar.
"Aku tidak tahu kau akan pulang hari ini." Suara Raven juga sangat berbeda dengan Lonan. Suara itu berat dan sedikit serak. Dan entah kenapa bulu kuduk Ellie berdiri saat mendengarnya.
"Aku ingin memberi kejutan kehadiranku sebagai hadiah ulang tahun."
"Kau memberiku hadiah berwujud kehadiranmu? Murahan sekali." Raven tersenyum sebal menanggapi lelucon Lonan.
"Bukan hanya itu. Aku ke sini juga untuk memperkenalkan Ellie padamu." Lonan menepi, memperlihatkan sosok Ellie yang tadi nyaris tersembunyi di belakang punggung Lonan.
"Ini Ellie Harken. Gadis yang kemarin aku ceritakan padamu."
Sebelum mengulurkan tangan, Raven menatap Ellie dengan seksama, dari ujung kaki sampai kepala, menilai. Setelah berjeda tiga puluh detik, Raven akhirnya mengulurkan tangan.
"Raven," ucapnya.
"El... Ellie Harken." Ellie ingin mengutuk lidahnya yang tiba-tiba terasa kaku. Tanpa sadar, dia terlalu terpukau pada sosok Raven.
Setelah berjabat tangan sekilas, Raven segera mengalihkan perhatian pada Lonan, sepertinya tidak terkesan dengan sosok Ellie. Raven terus bertanya berbagai macam hal soal kuliah dan sebagainya pada Lonan. Meski terlihat kesal, Lonan tetap menjawab semua pertanyaan Raven.
Setelah puas menginterogasi adiknya, Raven lalu berjalan mengitari tempat pesta menyapa setiap tamu.
"Ayo! Aku akan mengambil minuman untukmu." Merayakan kebebasan dari cengkeraman kakaknya, Lonan menariknya menuju deretan meja yang berisi hidangan pesta, memutus pandangan Ellie yang menancap pada punggung Raven.
"Champagne dan buah." Lonan mengulurkan gelas berisi cairan berwarna keemasan. Dia juga menyuapkan beberapa butir anggur hijau langsung ke mulut Ellie.
Pemandangan itu membuat beberapa mata tamu wanita menyipit karena iri. Meski Lonan bukan pewaris tahta bisnis Wycliff, dia tetap menjadi sinar terang bagi ngengat yang tertarik dengan kemilau harta kekayaan Wycliff.
Jika tidak membawa Ellie, Lonan pasti sudah dikerumuni oleh pada gadis yang hadir di pesta itu.
"Aku harus berhenti meminumnya." Ellie meletakkan gelas champagne yang baru berkurang sepertiga ke meja.
Minuman itu lezat dan pasti mahal; sedikit sayang harus menyisakannya. Tapi kepalanya mulai terasa ringan. Toleransi Ellie pada alkohol sangat rendah. Dia akan mabuk parah, hanya dengan meminum setengah gelas bir yang paling murah sekalipun
"Oh... aku lupa. Apa kau ingin jus?" Lonan menawarkan.
Ellie menggeleng. "Kita mengobrol saja."
Sel-sel otak Ellie sedang sibuk mengendapkan kenyataan jika kekasihnya benar-benar bukan orang biasa. Ini membuatnya tidak ingin mengunyah apapun.
Lonan tidak pernah menyembunyikan identitasnya, jadi Ellie tahu siapa Lonan dari sejak awal mereka bertemu di rumah sakit. Tapi skala kekayaan Wycliff jauh melebihi bayangan Ellie. Ada sedikit rasa antusias, saat mengetahui jika Lonan ternyata kaya-raya.
Siapa wanita yang tidak menginginkan kekasih kaya raya? Namun kekayaan itu kini membuatnya takut, karena jurang perbedaan mereka begitu besar.
Ellie gadis biasa, yang tadi pagi hanya sanggup sarapan dengan roti bakar polos tanpa selai, karena harus berhemat. Biaya kuliahnya, menyedot hampir seluruh gaji yang dihasilkan Ellie sebagai perawat. Belum lagi keadaan keluarganya yang jauh dari kata indah.
Perbedaan gaya hidup Lonan dan Ellie tidak bisa hanya dijabarkan sebagai bumi dan langit, tapi bagaikan dasar palung terdalam dan langit ketujuh.
"Sebentar, Raven hanya ingin meneruskan omelannya." Lonan menggerutu, sambil tersenyum masam, saat melihat kakaknya melambai memanggil.
Ellie mengangguk. "Ya."
Lonan mengecup pipi Ellie sekilas, lalu berjalan bersama kakaknya menuju ruangan yang ada di sudut kiri ruang pesta.
Ellie terus menatap punggung Lonan yang kini berjajar bersama Raven. Mereka lalu menghilang masuk ke dalam ruangan berpintu putih.
Ellie lalu memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing karena champagne, tapi kepalanya sakit bukan hanya karena minuman itu.
Ellie masih sibuk berpikir soal status Lonan. Di balik semua kemilau kekayaannya, Lonan pria yang ramah dengan bonus wajah tampan. Perhatian, lembut---nyaris sempurna. Ellie mencintai Lonan karena semua itu. Ellie meyakinkan diri agar tidak terlalu silau oleh keadaan disekitarnya dan bersembunyi.
"Kau sendirian?"
Sapaan yang tidak terduga itu menyentak Ellie. Seorang pemuda dengan senyum mencurigakan mengulurkan segelas champagne padanya.
"Maaf. Saya sudah cukup banyak minum. Dan saya tidak sendiri. Kekasih saya ada di sana." Ellie menunjuk ruangan tempat Lonan menghilang.
"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi aku rasa tidak ada salahnya jika kita berkenalan. Aku Caius Gustaf." Dia mengulurkan tangan, setelah meletakkan gelas bawaannya ke meja.
Tidak mungkin menolaknya tanpa bersikap kasar, Ellie mengulurkan tangan. "Ellie Harken."
Namun ternyata Caius tidak hanya menjabat tangan Ellie. Sambil tersenyum, dia menarik tangan Ellie, lalu mengecup punggung tangannya dengan sikap menggoda. Ellie terkesiap dan segera menarik tangannya.
Four Lovely Years Later “I swear to God, Mary, if we miss this wedding, I'm never gonna forgive you!” Anthony growled through gritted teeth, “For how long are you gonna do your makeup for God's sake?!” “Oh, please!” Mary waved him off with a slight roll of her eyes, “Let a woman wear her makeup in peace. Besides, we still have like an hour before the event begins, and also, Megan is there. She'll probably be recording the entire thing on her phone, so even if we miss it, we'll watch it on her phone.” “I want to be there, Mary,” Anthony said, “I don't want to watch my son's wedding through some phone screen.” “Then exercise some patience,” Mary said, applying some lip gloss on her lips, smacking them and then pouting. She scrutinized her already-styled hair through the mirror and then turned. “I feel like the hair is not that, you know, well styled.” She turned to Anthony, “What do you think?” Anthony knew that if he said just one wrong thing, she might spend another whole hou
The two stepped down from the car and walked towards the cabin after Luke locked the car.They reached the cabin and Luke unlocked the door with a key he fished out from his pocket, then opened it for Liam and stood by the side, gesturing him to enter.Liam entered and glanced around the place, wide-eyed.The scent of pine, cinnamon, and something sweet in the oven drifted through the warm air. The inside was small but inviting… wooden walls, soft lighting, and a fire crackling lazily in the stone hearth.A Christmas tree stood proudly in the corner, dressed in red and gold, with a scattering of wrapped presents tucked beneath its branches.Garlands laced the mantel, dotted with tiny lights and sprigs of holly, and stockings hung loosely beneath a framed photo of the sea. A wool blanket was thrown over the arm of the couch, and a tray with two mugs of cocoa waited on the coffee table, still steaming. The room felt lived-in, but not cluttered. Just... right. Like warmth made visible.L
It was the night of Christmas Eve and Megan stood at the bottom of the stairs with arms folded across her bosom as she stared at the treeless living room.This was the first Christmas that they had had that the family hadn't bought any tree, not to talk of the decorations around the house.Those things were unimportant at the moment.Since that day, Liam came out to his parents, this home suddenly became a house.No one talked to each other, no one asked questions… they just co-existed.Megan would often hear her Mom sobbing silently in the corner of the house and she couldn't even bring herself to comfort her.And Anthony on the other hand acted as though nothing happened… as though Liam was really dead.She sighed.Is this what Kelly and her family went through her Luke was outed? She thought to herself. This is so horrible.She wondered if they would be having Christmas Eve dinner as Mary hadn't even come downstairs to cook.She has been the one calling Liam and coward and pesterin
After breakfast was done, Liam returned to Luke's room to relax while Luke stayed back and helped his mom clean up the table.Liam plugged in his ear plug and listened to some Christmas songs on his phone with a bittersweet feeling.He has always celebrated Christmas with his family, but he knew for certain that this Christmas wouldn't be celebrated with them.He wondered how Megan was doing so he decided to send a text.But no reply came.Knowing how extreme his father was, he must have done something to her phone.He sighed helplessly but he wasn't feeling lost nor that sad… he had Luke and his family.He decided to use this time to think about what he would be doing with his life if Luke returned to college next year.Just in the middle of his thoughts, a knock came through the door and he quickly paused the song to make sure he wasn't imagining it.But when the knock came again, he got to his feet and opened the door.To his surprise, Kelly was standing before the door.“Oh!” He s
Kelly walked out through the door, “See you later, Babe.”“Do you really have to go?” Adrian asked, still holding on to her.She sighed, “I don't want to, but I have to. My brother is coming back so I should be there when he gets back. He might already be back by now.”Adrian leaned and brushed his
“Luke, what are you doing here?” Liam repeated the same question.Luke scrambled for the right answer, “Uhm…”Liam began to check the stalls to make sure they were the only people in the restroom.Thankfully, they were.“Baby,” He called, then came closer, “What are you doing here?”“What about you
Liam and Luke lay side by side, in utter silence, in total darkness, Liam's head buried in Luke's chest as Luke gently patted his hair.“How are you doing?” Luke asked softly.Liam gave no response.“What if your leg?” Luke asked again, “How is it? Can you walk?”“Yes,” Liam whispered a response. “
Luke has already gotten dressed for the date but his only problem was finding someone seven years older than him to play the role of his loving boyfriend.Sam was lying on his bed while giggling at him, “Ooh, you look good, bro. Maybe I'm wrong though, why don't I call your boyfriend and tell him t












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews