LOGIN“Do you take Shane Medes, Great and mighty Alpha King, leader of the blood moon pack to be your lawful wedded mate?” Lauren coaxed her words, holding a book in her hand. “Yes.” I smiled, the butterflies in my belly started to dance as I looked at the Alpha king in his face. “Now, your turn Shane.” Lauren darted her eye at him, “do you take Harley Steven, this ordinary human, a lowlife and outcast from her family to be your lawfully wedded Luna and mate?” I look at Shane waiting for his reply in anticipation. I have always wanted this day to come. To finally get married to Shane, just as the moon goddess has promised. “Yes! I would till death separates us.” He pulled me by my waist, my belly hitting his. He raised my chin with his hand, his lips curly to a kiss, and he…
View MoreJakarta selalu punya cara sendiri untuk menampilkan ketelitian: gedung-gedung pencakar langit dengan kaca berlapis lapisan anti-panas, trotoar rapi yang memantulkan langkah terburu-buru, dan langit yang terlihat seolah sudah dihitung sudutnya. Di ruang rapat kantor konglomerat, semuanya tampak lebih terukur daripada kota di luar sana. Dindingnya dari kaca buram yang tetap menyisakan pantulan, lampu-lampu putih bersih menahan bayangan agar tidak terlalu dramatis, dan meja konferensi memanjang seakan menuntut orang-orang duduk dengan disiplin yang sama seperti gambar teknik.
Elara Wijaya berdiri di sisi papan presentasi, tangan kirinya memegang lembar-lembar perhitungan yang sudah dicetak dua kali untuk berjaga-jaga. Ia perfeksionis dengan cara yang tidak pernah terlihat berlebihan bagi orang lain, tapi cukup terasa bagi dirinya: setiap angka harus rapat, setiap garis sambungan harus punya alasan, setiap detail yang tampak sepele harus terbukti tidak akan jadi retakan di kemudian hari. Ia menyukai kesan kontrol meski ia tahu dunia nyata tidak pernah benar-benar tunduk pada rencana. “Untuk fase kedua, kita butuh keputusan final mengenai sistem rangka dan titik pengikat,” suara Elara terdengar tenang. Ia bukan hanya arsitek; ia seperti seseorang yang membaca kerusakan sebelum kerusakan itu terjadi. Adrian Prasetyo duduk di ujung meja, CEO yang wajahnya seperti patung modern: rapi, dingin, dan sulit dibaca. Di bawah pencahayaan ruangan rapat, ia tampak sempurna dengan setelan gelap yang tidak bergeser, jam tangan yang memantulkan cahaya sepersekian detik ketika ia menaruh teleponnya di sisi dokumen. Adrian bukan tipe yang meninggikan nada. Justru karena itu, setiap ucapannya lebih terasa seperti keputusan yang sudah ditandatangani. “Kita ikuti rekomendasi Elara,” kata Adrian, singkat. “Tapi saya perlu kepastian bahwa pengeluaran konstruksi tidak melebar.” Elara menahan senyum yang hampir muncul. Kepastian. Itu kata yang ia cari dalam setiap proyek. Ia merapikan kertas, menempatkannya persis sejajar dengan tepi papan, lalu menggeser pointer ke gambar rangka bangunan. “Dengan skema ini, kita mengurangi risiko deformasi. Kalau titik pengikat dipindah sesuai toleransi, struktur tetap stabil. Biaya juga tidak naik.” Kaca buram di sekeliling ruangan memantulkan gerak-gerik para eksekutif seperti potongan hidup yang diburamkan. Di luar ruangan, terdapat kota. Di dalam ruangan ini, semua orang seolah hidup dalam simulasi yang rapi. Namun Elara merasakan sesuatu yang tidak ia suka sejak awal pertemuan: getaran kecil di bawah suara ruangan, semacam nada yang tidak selesai. Adrian tidak pernah memperlihatkan sesuatu yang lebih dari yang dibutuhkan. Dan Elara, yang takut retakan tersembunyi, selalu mendengar tambahan yang tidak diucapkan. Setelah rapat, ia berjalan melewati koridor dengan lantai batu mengilap. Langit-langit tinggi memantulkan langkahnya seperti gema yang diredam. Ada aroma kopi yang terlalu wangi, ada suara langkah lain yang sengaja dibuat sehalus mungkin. Ia menunggu lift, menatap pantulan dirinya di kaca dinding: rambut disanggul rapi, mata fokus, raut yang selalu tampak seperti sedang menimbang beban. Teleponnya bergetar saat ia keluar dari lift menuju ruang arsip yang kecil namun lega. Pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk. Tidak ada salam, hanya tautan dan kalimat yang membuat dadanya seperti tersangkut pada sesuatu yang tajam. Tuduhan: Adrian terlibat pencucian uang melalui proyek konstruksi. Di bawahnya ada lampiran berupa potongan dokumen yang dipoles seolah berasal dari hasil audit. Elara menatap layar terlalu lama. Ia tidak mudah percaya. Ia juga tidak mudah takut. Tapi ada sesuatu dalam cara pesan itu disusun: terlalu presisi untuk sekadar rumor, terlalu diarahkan untuk sekadar kebetulan. Seolah penulisnya tahu cara menekan titik rapuh. Ia menghela napas perlahan, mencoba memaksa logika bekerja. Jika ini fitnah, maka ia harus memeriksa sumbernya. Jika ini manipulasi, ia harus mencari celah. Ia membuka tautan dengan hati-hati, membaca detail yang dipaparkan: nama perusahaan, tanggal perjanjian, angka-angka yang disusun dengan bahasa akuntansi yang tampak benar. Elara tahu angka-angka itu bisa dibuat terlihat sah hanya dengan mengubah konteks. Ia tidak bisa memastikan keaslian tanpa verifikasi. Tetapi yang membuatnya semakin tidak nyaman bukan hanya tuduhannya. Yang membuatnya takut adalah ketepatan waktu. Pesan itu muncul tepat ketika ia sedang menyiapkan rekomendasi fase kedua. Seolah ada seseorang yang menunggu momen untuk merusak hubungan yang belum selesai. Ketika ia kembali ke ruang kerja, Adrian sudah berdiri di sana tanpa suara berarti. Ia tidak mengetuk. Seperti biasa, ia muncul saat dunia tampak sedang lengah. “Lusa Anda perlu hadir untuk penandatanganan,” kata Adrian. Elara mengangkat kepala. Mata Adrian menangkapnya dengan cara yang membuat Elara merasa sedang diperiksa, bukan diajak bicara. “Saya tidak hanya menyiapkan gambar. Saya juga mengklarifikasi beberapa hal.” Adrian menatap layar telepon Elara sejenak, tanpa harus memintanya. Tidak ada kesan kaget, tidak ada ekspresi yang berusaha menipu. Itu membuat Elara semakin curiga. “Pesan anonim,” katanya. Elara merasakan panas tipis di bagian belakang leher. “Anda tahu?” “Orang-orang di sekitar saya selalu pandai,” jawab Adrian. “Tapi mereka tidak tahu apa yang mereka sentuh.” Kalimat itu terdengar seperti perlindungan. Namun cara Adrian mengucapkannya terlalu terkontrol. Elara ingin bertanya, ingin menuntut jawaban yang jelas. Tetapi ia pernah belajar: orang yang menahan diri untuk memberi detail sering melakukannya bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak mau. Ia menelan ketidaknyamanan itu. “Kalau ini fitnah, kita harus respons cepat. Saya bisa menyiapkan rangkuman dan meminta audit independen.” Adrian mendekat setengah langkah. Kehadirannya mengisi ruang yang sebelumnya terasa kosong. “Audit independen butuh waktu. Sedangkan orang yang menghembuskan rumor ingin waktu yang mereka dapatkan dari kepanikan Anda.” Elara menatapnya. “Jadi Anda menyuruh saya untuk tetap tenang?” Adrian tersenyum tipis, sesuatu yang hampir hangat namun tidak benar-benar sampai ke matanya. “Saya menyuruh Anda untuk tidak memutuskan sesuatu sebelum melihat strukturnya secara utuh.” Mereka berdiri berdekatan dengan jarak yang sopan, tetapi di antara keduanya ada jarak lain yang tidak bisa diukur. Elara merasakan ketidakcocokan yang menyerupai retakan: sulit terlihat, tapi suaranya sudah terdengar jika seseorang menempelkan telinga. Selama beberapa minggu berikutnya, proyek berjalan seperti mesin yang dijaga oleh tangan terlatih. Beton dicor, baja dirangkai, tim lapangan datang dan pergi dengan rompi yang sama warnanya. Di meja-meja rapat, dokumen berganti kulit. Namun di balik itu, Elara merasakan ada arus yang tidak ia pegang. Adrian tidak pernah benar-benar menjelaskan semua, tapi ia selalu memberi jalur yang tampak aman. Elara, yang takut pada retakan tersembunyi, semakin merasa sedang dilindungi oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya ia pahami. Ketegangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih personal saat Elara mulai menyadari cara Adrian mengatur ruang, cara ia memindahkan jadwal tanpa meminta persetujuan, cara ia menempatkan mereka berdua dalam situasi yang seolah sengaja diciptakan untuk mengurangi peluang protes. Ia tidak menyebutnya manipulasi. Adrian pun tidak pernah menyebutnya dengan cara apa pun. Ia hanya bergerak, seperti arsitek yang sudah tahu dinding mana yang akan runtuh dan kapan ia harus memegang palang.SHANEThe moment I heard that howl, I stopped thinking like a man. And started thinking like a wolf.It wasn’t just a warning call. It was a declaration. A challenge. A line being crossed.I crouched low, claws forming, bones shifting subtly beneath my skin—but not fully. Not yet. Caspian was at the surface, ready to take over, but I wasn’t giving him control. Not unless I had no choice.My eyes flicked around the circle.Harley stood behind me, her face pale but calm. Her hands still glowed faintly, like embers not yet cooled. The brothers had instinctively taken formation—Connor to the left, Kade to the right, Jasper a step behind Harley, shielding her like he would his own blood.That’s what we were now.Not just fighters.Pack.“I count five,” Connor muttered, his voice barely audible, sharp as a blade. “Maybe six. Can’t see beyond the brush.”“Roy wouldn’t send just a handful,” Jasper said. “This is a test.”“A message,” Kade growled.No one needed to say it aloud. We all knew wh
HARLEYBy the time the sun dipped behind the horizon, the field behind the house no longer looked like the same place I stood in earlier.Torches flickered along its edge now, their flames swaying with the evening wind. The smell of ash and earth mixed with crushed herbs scattered in a perfect circle. Kade had drawn symbols in the dirt—strange, sweeping marks that pulsed faintly with energy even before the ritual began.This was no ordinary training.This was an awakening.Shane stood a few paces behind me, silent, steady. I hadn’t looked back at him yet, but I could feel his eyes on me like a heartbeat. They made it easier to breathe. Barely.Jasper and Kade moved in unison, setting down small iron bowls at each cardinal point around the circle. Each bowl held something different—ash, salt, moonstone shards, and water from a hidden spring Shane had fetched earlier that day. Jasper said these were elements of grounding. Kade just called them “anchors.”Connor stood to the side with hi
HARLEYThe morning came slowly, dragging its gray light across the sky like paint on a faded canvas.I hadn’t slept.Not because of nightmares—but because I was afraid of what might happen if I dreamed.Ever since that night in the woods… since the wolf in the mist… the air around me had changed. I felt it in the way the shadows stretched just a little farther around my footsteps. In the way wind would sometimes curl toward my ear like it was whispering secrets.Magic.It lived beneath my skin now.And it didn’t like being ignored.I stood barefoot in the kitchen, watching the kettle hum. Steam twisted up into the air in soft, haunting spirals. My fingers tingled, that now-familiar ache pulsing at my palms. The warmth was back—gentle, coaxing. Like it was calling me to open the door I’d only just begun to crack.I pressed a hand against the wooden table.“Show me,” I whispered.At first, nothing.Then—softly—a tremor beneath the grain.It was small. Delicate. The wood groaned as if si
CONNORThe war room was quiet.It wasn’t really a war room, of course. Just Jasper’s office in the back of the house—walls lined with old maps, dusty books, half-used notebooks and mismatched weapons propped in corners like forgotten relics.But tonight, it felt like a war room.Because war was coming.I stood with my arms folded, leaning against the far wall, eyes fixed on the map laid across the table. It had once belonged to our father. He used to trace the old pack lines with a silver pen, mumbling about honor and blood and balance, long before we understood what any of it really meant.Now those lines were nothing but scars.“Roy’s on the move,” Kade muttered, dragging a marker across the edge of the territory. “Baron’s wolves were spotted near the ridge line.”“Rogues don’t travel in groups unless they’re led,” Jasper added. “They’re organizing. That’s not instinct. That’s Roy.”Shane stood at the head of the table, his jaw locked, eyes unreadable. He hadn’t said much. He didn’t
SHANEI can’t breathe properly.The second Roy stepped into the party with Juliet on his arm, everything around me started to blur. Laughter, lights, the thrum of music—all of it became a distorted hum beneath the rage pounding through my skull. My jaw clenched so tight I could feel the pulse in my
HARLEYThe party was already in full swing by the time Shane and I arrived.Laughter spilled out from the wide-open doors of Aaron’s house, along with pulsing music and the hum of chatter. Multicolored lights danced across the driveway, where students mingled in groups, red cups in hand, half of th
HARLEYAs Shane and I stepped back into the house, my father turned to Susan, a hint of pride in his voice. “Susan,” he said, “we’ll need to clear the guest room for Shane. He’ll be staying the night.”Susan’s eyebrows shot up in surprise, clearly taken aback by the sudden arrangement. She glanced at
HARLEYAs I walked up the path to my house, the weight of the day pressed down on me. My conversation with Shane lingered in my mind—his words about reclaiming his throne and wanting me by his side as his mate. It all felt like a whirlwind that had swept me off my feet, leaving me struggling to catch
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.